Let’s Walk Surabaya: 10.000 Pengikut, 10.000 Langkah

Putri N. · 4 min baca · 2 bulan lalu · 70 dibaca
Bisik.id
Let’s Walk Surabaya: 10.000 Pengikut, 10.000 Langkah

Gambar atau konten salah?

Komunitas Let’s Walk telah berhasil mengubah rutinitas berjalan kaki menjadi pengalaman yang lebih menarik bagi warga Surabaya. Sejak didirikan pada 01 Agustus 2022 oleh Bintang Rahadian Sukma, komunitas ini telah menelusuri kota sambil mengungkap cerita di balik bangunan tua, sejarah kawasan, dan kehidupan warga setempat.

Di tengah pandemi Covid‑19, Bintang memulai kegiatan dengan konsep virtual tour. Perjalanan dilakukan secara daring menggunakan Google Street View, Google Earth, Zoom, serta dokumentasi foto dan video. “Orang‑orang waktu itu nggak bisa ke mana‑mana. Gathering pun akhirnya dilakukan online sambil virtual tour,” ujarnya.

Mulai awal 01 Januari 2024, Let’s Walk mulai rutin menggelar walking tour secara langsung. Rute reguler pertama diberi nama Juliana Boulevard, yang menelusuri kawasan sekitar Jalan Kombes Pol M. Duryat, yang dulu dikenal sebagai Jalan Juliana Boulevard pada era kolonial Belanda. Bintang menekankan bahwa konsep walking tour ini bertujuan agar peserta lebih dekat dengan suasana kota dan cerita‑cerita di dalamnya. “Kita ada waktu berhenti lebih lama untuk mendengarkan, mengamati kemudian mendengarkan cerita‑cerita dari warga selaku mereka yang memang warlok (warga lokal) ya. Jadi bisa mendapatkan POV berbeda,” tambahnya.

Selama dua tahun terakhir, peminat Let’s Walk meningkat drastis. Grup WhatsApp komunitasnya kini berisi sekitar 600 anggota, sementara akun Instagram mereka telah menembus lebih dari 10 ribu pengikut.

Salah satu rute andalan mereka adalah eksplor Hotel Majapahit. Ada pula serial tur bertajuk KKS (Kisah Kasih di Sekolah) yang mengajak peserta menyusuri sekolah‑sekolah lawas di Surabaya. Tahun ini, mereka juga membuat serial KPK atau Keliling Pabrik. Setelah mengunjungi pabrik Siropen dan pabrik tahu di Dinoyo, dalam waktu dekat peserta akan diajak melihat pabrik kecap Cap Jeruk Pecel Tulen. “Kalau walking tour lain biasanya cuma lewat luar gedung. Di Let’s Walk kita bikin pembeda, peserta bisa masuk dan eksplor lebih dalam,” jelasnya.

Tak hanya di Surabaya, Let’s Walk juga rutin membuka rute luar kota setiap dua hingga tiga bulan sekali. Mulai dari Madiun, Bojonegoro, Malang, hingga Probolinggo. Dokumentasi kegiatan komunitas Let’s Walk dapat dilihat pada foto yang dipublikasikan di akun Instagram mereka.

Di balik satu rute walking tour, ada proses riset panjang yang dilakukan tim Let’s Walk. Mereka biasanya memulai dari observasi lokasi, survei jalan kaki, mencari literatur sejarah, hingga berbincang langsung dengan warga sekitar. “Risetnya pertama kita cari yang gampang dulu sepenglihatan kita kalau lewat sana kira‑kira ada apa saja. Kedua kita surveinya biasanya jalan kaki supaya bisa nemuin 'hidden gems'. Ketiga cari cerita sejarahnya dari literatur, dari sumber‑sumber yang lain. Keempat yang paling terakhir kita tanya ke warga ada cerita tambahan apa di sana,” kata Bintang.

Let’s Walk memiliki lima kategori rute wisata, yakni regular tour, private tour, special tour, collaboration tour, dan exclusive tour. Untuk regular tour yang rutin digelar saat akhir pekan, tarifnya sekitar Rp 50.000 per peserta dengan konsep walking tour berdurasi dua jam di area luar bangunan. Sementara collaboration tour dipatok mulai di atas Rp 50.000‑Rp 100.000 karena melibatkan pihak lain, seperti wisata perahu Kalimas atau tur gabungan dengan komunitas lain. Kategori special tour biasanya mengajak peserta masuk ke gedung‑gedung tertentu di Surabaya dengan kisaran harga maksimal Rp 100.000, tergantung akses dan konsep tur. Sedangkan exclusive tour dibanderol di atas Rp 100.000 lantaran membutuhkan perizinan lebih rumit atau dilakukan di luar kota. Untuk private tour, tarif ditentukan berdasarkan jumlah peserta dalam satu rombongan.

Rute dan jadwal walking tour mereka diumumkan lewat akun Instagram resmi @letswalk.idn. Pemesanan tur juga dapat dilakukan melalui website yang tertera di tiap unggahan atau pada bio Instagram mereka.

Walaupun tren walking tour di Surabaya terus berkembang, Bintang menilai komunitas serupa masih belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah kota. Menurutnya, kolaborasi yang dilakukan sejauh ini umumnya masih sebatas promosi atau konten bersama. Meski begitu, Let’s Walk kerap dilibatkan dalam diskusi pengembangan rute wisata maupun eksplor sejarah kawasan karena dinilai mampu mengemas cerita kota menjadi pengalaman yang menarik bagi peserta.

Ke depan, Bintang berharap walking tour bisa berkembang menjadi agenda wisata berskala besar yang memadukan jalan kaki, sejarah, dan budaya dalam satu rangkaian acara. “Kita punya mimpi bikin event, meskipun belum besar. Mungkin dalam satu minggu atau satu bulan itu kita bikin agenda walking tour yang skalanya besar,” kata Bintang.

Sebagai langkah awal, Let’s Walk akan menggelar free walking tour pada 31 Mei 2024 mendatang untuk merayakan capaian 10 ribu pengikut di Instagram. Konsep yang diusung masih dimatangkan, namun mengarah pada tema 10.000 langkah menyusuri kota bersama peserta.

Perjalanan Let’s Walk menunjukkan bagaimana komunitas lokal dapat memanfaatkan ruang publik untuk memperkaya pengetahuan sejarah dan budaya, sekaligus menciptakan ruang sosial yang menyenangkan bagi warga. Dengan terus mengembangkan rute dan kolaborasi, mereka berpotensi menjadi contoh bagi inisiatif serupa di kota lain.

Walking Tour SurabayaLet’s WalkBintang Rahadian SukmaVirtual TourKisah Kasih di SekolahHotel MajapahitKisah SejarahKolaborasi Wisata

Komentar

Memuat komentar...