Lirik 'My Little Bolu Ketan' Jadi Earworm Populer TikTok
Gambar atau konten salah?
Musik “My Little Bolu Ketan” jadi bahan obrolan di internet akhir‑akhir ini. Lagu ini sering diputar di video‑video di platform media sosial, terutama TikTok. Liriknya yang catchy dan melodi mudah diingat membuat banyak orang mengaku lagu itu terus terngiang‑ngiang di kepala meski sudah berhenti mendengarnya.
Menurut dr Lahargo Kembaren, SpKJ, fenomena ini bukan hal baru dalam psikologi. “Istilah yang sering digunakan adalah earworm atau Involuntary Musical Imagery (IMI), yaitu kondisi ketika potongan lagu, melodi, atau lirik muncul berulang di pikiran tanpa disengaja,” jelasnya pada 29 Mei 2026.
Kenapa lagu viral mudah menempel di kepala? dr Lahargo menjelaskan bahwa otak manusia dirancang untuk mengenali pola. Hal ini membuatnya lebih mudah mengingat sesuatu yang sederhana, berulang, dan memicu emosi. Karena itu, lagu‑lagu viral biasanya memiliki:
- Melodi sederhana dan mudah ditebak
- Lirik pendek dan repetitif
- Ritme yang mudah diikuti
- Sering muncul berulang di media sosial
- Berhubungan dengan humor atau tren tertentu
Paparan terus‑terusan di TikTok, Instagram Reels, atau platform lain membuat otak menganggap lagu tersebut sebagai informasi penting, sehingga lebih mudah tersimpan dalam memori jangka pendek.
Bagaimana prosesnya di otak? Saat seseorang mendengar musik, beberapa area otak bekerja bersamaan: korteks auditori memproses suara, hippocampus untuk memori, amigdala yang berkaitan dengan emosi, hingga sistem dopamin yang memunculkan rasa senang. dr Lahargo menambahkan, ketika lagu diputar terus‑terusan, jalur saraf tertentu menjadi semakin kuat sehingga otak bisa “memutar ulang” lagunya meski musiknya sudah berhenti. “Ibaratnya lagunya sudah selesai diputar, tetapi otak masih menekan tombol replay,” ujarnya.
Apakah ini termasuk kecanduan? dr Lahargo menegaskan bahwa earworm umumnya merupakan fenomena normal dan hampir dialami semua orang. Namun, mekanismenya memang sedikit mirip dengan proses kecanduan ringan. Hal itu terjadi karena adanya paparan berulang, aktivasi sistem dopamin, hingga dorongan untuk mendengarkan kembali lagu tersebut. Meski begitu, kondisi ini biasanya akan hilang dengan sendirinya seiring berkurangnya paparan lagu di media sosial.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana kebiasaan menonton konten singkat di media sosial dapat memengaruhi cara otak memproses musik. Ketika lagu diputar berulang kali, otak menegaskan jalur tertentu, sehingga lagu tersebut tetap berada di pikiran bahkan setelah musik berhenti. Hal ini menegaskan pentingnya memahami dampak media digital pada persepsi dan ingatan kita.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Ledakan MAN 3 Padang: Pelaku Korban Bullying
Distribusi BBM di Medan Mulai Pulih
Bahlil Perintah SKK Migas Libatkan Pengusaha Lokal di Proyek Masela
85 Perusahaan Asing Berebut Proyek Sampah Jadi Listrik
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Luke Vickery Resmi Jadi WNI, Siap Bawa Indonesia ke Piala Dunia 2030
Gagal SNBP-SNBT? UT Buka Pendaftaran Sampai 22 Juli
Prabowo: Kesejahteraan Rakyat Butuh Biaya Besar