Luhut: Kenaikan BI Rate 5,5% Bertujuan Ngerem Rupiah
Gambar atau konten salah?
Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan mantan Menteri Kemaritiman dan Investasi, mengungkapkan pandangannya tentang langkah Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,5%.
“Kan bagus, ngerem anu (pelemahan Rupiah)”, kata Luhut singkat ketika merapat ke Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa, 09 Juni 2026. Ia menegaskan bahwa kenaikan suku bunga tidak dilakukan secara dadakan, melainkan sebagai respons terhadap pelemahan nilai rupiah yang mencapai Rp 18.000/US$.
Di sisi lain, Luhut menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Ia menambahkan, “Nggak (dadakan). Bagus-bagus kok, ekonomi kita, fundamental masih oke, tapi memang kita perlu ada perhatian di beberapa titik karena perang Teluk ini juga masih perang apa, Hormuz ini masih berkelanjutan,” sambil menyoroti dampak konflik di Timur Tengah.
Hari ini, Luhut dipanggil ke Istana oleh Presiden Prabowo Subianto untuk melaporkan hasil pantauan DEN mengenai kondisi ekonomi terkini. Ia menjelaskan, “Ya, kita, kita melaporkan apa aja tiap Dewan Ekonomi tiap bulan atau tiap 5 minggu gitu,” menegaskan frekuensi laporan rutin.
Dengan kebijakan kenaikan suku bunga, Bank Indonesia berusaha menstabilkan nilai rupiah sementara pemerintah tetap memantau dampak geopolitik, khususnya konflik di Teluk Hormuz, yang dapat memengaruhi ekonomi nasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
