Makam KH Anas Al Ayuby Tertinggal di Tengah Lumpur Lapindo

Hari W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 107 dibaca
Bisik.id
Makam KH Anas Al Ayuby Tertinggal di Tengah Lumpur Lapindo

Gambar atau konten salah?

Di wilayah Porong, Kabupaten Sidoarjo, hamparan lumpur Lapindo masih menutupi sebagian tanah. Di atas lumpur itu, sebuah makam tetap berdiri, menjadi sorotan bagi banyak orang. Makam tersebut milik KH Anas Al Ayuby, pendiri Pondok Pesantren Nurul Hikmah Jatirejo.

Keberadaan makam ini sering menimbulkan tanya: bagaimana ia masih terlihat di atas lumpur ketika wilayah sekitarnya telah tenggelam sejak semburan lumpur Lapindo meluas pada 2006?

Menurut H. Sugiono, Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Porong, KH Anas Al Ayuby adalah ulama yang memainkan peran besar dalam pendidikan dan perjuangan Nahdlatul Ulama di Porong. “Beliau pendiri Pondok Pesantren Nurul Hikmah Jatirejo. Semasa hidupnya dikenal mandiri dalam membangun pesantren dan aktif berjuang di NU,” kata Sugiono pada Sabtu, 30 Mei 2026.

KH Anas lahir sebagai putra pasangan KH Abdurrahman dan Nyai Umroniah, pendiri Perguruan Taman Pendidikan Islam Porong. Masa remaja beliau dihabiskan menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng di bawah bimbingan KH Idris Kamali dan menantu Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.

Di era 1960-an, KH Anas memulai Pondok Pesantren Nurul Hikmah di Jatirejo dengan restu KH Idris Kamali. Seiring waktu, jumlah santri bertambah, terutama dalam pendidikan tahfidzul Quran, TPQ, madrasah diniyah, dan pendidikan formal dari TK hingga MA.

Beliau juga dikenal sebagai kiai yang mengembangkan pesantren secara mandiri. Untuk membiayai operasional pondok, beliau memelihara hampir 100 sapi perah dan hasil susunya dijual kepada masyarakat.

Selain aktif di dunia pendidikan, KH Anas turut berperan di Nahdlatul Ulama. Pada 2001, ia dipercaya menjadi Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo hingga wafat pada 2003. Ia kemudian dimakamkan di area gedung pondok pesantren.

Beberapa tahun setelah wafatnya, kawasan pesantren ikut terdampak semburan lumpur Lapindo yang menenggelamkan tujuh desa di tiga kecamatan.

Waktu itu, muncul wacana pemindahan makam KH Anas. Namun, keluarga meminta pendapat Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. “Jawaban Gus Dur waktu itu, 'Cak Anas kersane teng mriku mawon mboten usah dipindah' (Cak Anas inginnya di situ saja tidak usah dipindah).” Akhirnya, makam tetap dipertahankan di lokasi semula.

Menurut Sugiono, posisi makam yang kini terlihat berada di atas permukaan lumpur bukan berada tepat di posisi asli permukaan tanah sebelumnya. Saat lumpur mulai masuk ke wilayah Jatirejo, sejumlah santri dan putra KH Anas bertahan di sekitar makam dengan membuat gubuk apung menggunakan drum.

Gubuk tersebut kemudian ditandai dengan bambu setinggi sekitar enam meter yang ditancapkan di atas bangunan makam. Seiring meningginya lumpur, penanda itu terus ditambah hingga akhirnya makam tetap dapat dikenali.

Harapan santri dan warga adalah makam beliau tetap di situ agar bisa menjadi tempat ziarah, doa, dan pengingat kampung halaman yang telah tenggelam. Menurut Sugiono, keberadaan makam KH Anas kini bukan hanya menjadi lokasi ziarah, tetapi juga simbol memori sosial warga terdampak lumpur Lapindo, termasuk bagi warga yang persoalan ganti ruginya belum selesai.

Makam itu menjadi magnet berkumpulnya santri, warga, jamaah, dan kader NU se-Kabupaten Sidoarjo.

Keberadaan makam ini, meski berada di atas lumpur, tetap menjadi simbol keteguhan dan kenangan bagi masyarakat. Ia mengingatkan tentang sejarah pendidikan, perjuangan, dan dampak lingkungan yang berlanjut hingga kini.

Lumpur LapindoMakam KH AnasPondok Pesantren Nurul HikmahNahdlatul UlamaKawasan PorongSemburan LumpurZiarah PesantrenPengaruh Lingkungan

Komentar

Memuat komentar...