Malang: Pasangan Beralih Sepeda, Hemat BBM & Menjaga Bumi

Maya K. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 56 dibaca
Bisik.id
Malang: Pasangan Beralih Sepeda, Hemat BBM & Menjaga Bumi

Gambar atau konten salah?

Malang sering kali terdengar suara mesin kendaraan bermotor dan deru lalu lintas yang tak henti. Di tengah hiruk pikuk tersebut, sosok Verra Kusuma memutuskan untuk mengambil langkah berbeda: bersepeda.

Selama dua tahun terakhir, Verra bersama suaminya telah menanggalkan sepeda motor dan beralih sepenuhnya ke sepeda angin untuk menjalani rutinitas harian. Keputusan ini bukan sekadar kebetulan; ia bermula dari keresahan sederhana namun mendalam tentang efisiensi waktu dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Verra menceritakan titik baliknya ketika ia merasa jenuh harus menghabiskan waktu berharga hanya untuk mengantri di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Baginya, waktu yang terbuang saat mengantri bisa dialihkan untuk hal yang lebih bermanfaat. “Ada keresahan pas mengantre buat beli bahan bakar. Karena aku ngerasa kayak, kenapa aku harus ngehabisin waktu buat ngantre bahan bakar? Akhirnya ya sudah kepikiran sepeda itu,” ungkap Verra.

Keputusan ini tidak hanya dijalani Verra seorang diri. Suaminya turut berkomitmen menggunakan sepeda, dan pasangan ini memutuskan untuk tidak lagi memiliki sepeda motor di rumah mereka. Kendaraan bermotor yang sebelumnya mereka miliki kini telah dipindahkan ke rumah orang tua karena mereka merasa sudah tidak lagi membutuhkannya dalam aktivitas harian.

Jika dihadapkan pada situasi mendesak seperti cuaca ekstrem atau barang bawaan yang terlalu banyak, Verra lebih memilih memanfaatkan layanan transportasi online sebagai solusi cadangan. Meskipun terlihat menyenangkan, ia mengakui bahwa adaptasi dari motor ke sepeda membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan. Tantangan terbesarnya adalah kedisiplinan waktu. Karena kecepatan sepeda tidak sebanding dengan motor, ia harus memiliki perhitungan yang matang agar tetap tepat waktu saat menghadiri janji atau bekerja.

Verra menyebut, ia harus menyiapkan waktu luang setidaknya 30 menit lebih awal agar bisa sampai di tujuan tanpa terlihat kelelahan atau berkeringat berlebihan, mengingat iklim tropis Indonesia yang cukup menyengat. Namun, di balik tantangan tersebut, ia menemukan sisi lain dari Kota Malang yang tidak pernah ia sadari saat masih menggunakan kendaraan bermotor. “Seminggu pertama memang berat, tapi masuk minggu kedua kayak kok enak ya. Kita jadi tahu ternyata ada bunga yang mekar itu bagus, kita jadi lebih sadar dengan sekitar yang nggak bisa dinikmati saat pakai kendaraan cepat,” tuturnya.

Dengan bersepeda, Verra merasakan dampak langsung pada kesehatan fisiknya. Bersepeda membantu menjaga kebugaran tubuh secara alami, tanpa perlu alat tambahan. Di sisi lain, ia juga mengaku banyak dapat berhemat biaya pengeluaran. Jika dihitung, dalam setahun untuk kebutuhan BBM hampir sebesar Rp 2,3 juta. Belum lagi biaya servis motor Rp 900 ribu, penggantian ban Rp 628 ribu, servis Rp 900 ribu. “Untuk biaya harian, parkir misalnya bisa sampai Rp 1 juta per tahun. Jadi dengan bersepeda kita bisa berhemat,” tegasnya.

Sebagai seorang perempuan pesepeda, Verra tidak menampik adanya tantangan sosial di jalanan, termasuk isu keamanan dan tindakan tidak menyenangkan seperti catcalling. Ia pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan saat melewati area persawahan, namun ia memilih untuk bersikap tegas dan berani menegur pelaku demi menjaga harga dirinya sebagai pengguna jalan. “Jadi mau nggak mau kalau memang ada kejadian di jalan seperti itu ya kita berani, minimal menegur,” ucapnya.

Selain faktor sosial, ia juga menyoroti infrastruktur di Indonesia, termasuk Malang, yang dinilainya masih kurang ramah terhadap pesepeda dan pejalan kaki karena jalur khusus yang masih sangat terbatas. Walaupun harus sering mengalah dengan kendaraan besar dan menghadapi keterbatasan fasilitas jalan, semangat Verra untuk terus mengayuh pedal tidak surut. “Kita sudah minggir, tapi tetap kadang harus turun dari aspal,” tuturnya.

Bagi Verra, bersepeda tidak hanya soal transportasi. Ia melihatnya sebagai kontribusi kecil untuk menjaga bumi. Selain ketenangan pikiran yang jauh lebih berharga daripada kenyamanan sesaat di atas kendaraan bermotor, bersepeda juga mengurangi emisi karbon. “Dengan bersepeda kita bisa menjaga bumi, selain merasakan kebebasan,” pungkasnya.

Perubahan gaya hidup Verra menyoroti bagaimana individu dapat memengaruhi pola konsumsi energi dan perilaku sehari‑hari. Ia menunjukkan bahwa keputusan sederhana—mengganti motor dengan sepeda—bisa menghasilkan penghematan finansial, peningkatan kesehatan, dan dampak lingkungan positif. Di kota yang masih bergantung pada kendaraan bermotor, contoh seperti ini memberi inspirasi bagi warga lain untuk mempertimbangkan alternatif transportasi yang lebih ramah lingkungan dan hemat biaya.

Bersepeda MalangVerra KusumaPenghematan BBMEmisi KarbonCatcallingInfrastruktur Jalur SepedaGaya Hidup Ramah Lingkungan

Komentar

Memuat komentar...