Malaysia Hadapi Lonjakan Kasus Gagal Ginjal, Beban Finansial
Gambar atau konten salah?
Malaysia kini menghadapi lonjakan serius kasus penyakit ginjal kronis, menekan sistem kesehatan nasional.
Tercatat, negara tersebut menghabiskan RM 3,3 miliar atau sekitar Rp 14,22 triliun setiap tahun untuk pengobatan penyakit ginjal stadium akhir.
Menteri Kesehatan Malaysia, Dzulkefly Ahmad, menyebut penyakit ginjal kronis atau Chronic Kidney Disease (CKD) kini menjadi salah satu tantangan kesehatan paling mendesak.
Diperkirakan ada lebih dari 5,5 juta warga Malaysia hidup dengan CKD, tetapi hanya sekitar 5 persen yang menyadari kondisi tersebut. Prevalensinya meningkat signifikan, dari 9 persen pada 01 Januari 2011 menjadi 15,5 persen pada 01 Januari 2023.
Setiap hari, 28 warga Malaysia didiagnosis mengidap gagal ginjal dan harus memulai perawatan dialisis,
Jika kita gagal bertindak tegas sekarang, lebih dari 106 ribu warga Malaysia akan membutuhkan perawatan dialisis pada 01 Januari 2040,
Dzulkefly menegaskan penyakit ini tidak hanya menurunkan kualitas hidup pasien, tetapi juga menjadi beban finansial besar bagi negara.
Sebagian besar kasus gagal ginjal di Malaysia berkaitan dengan komplikasi diabetes. Maka dari itu, pemerintah memperkuat langkah pengendalian konsumsi gula, termasuk menaikkan bea cukai minuman manis menjadi 90 sen per liter sejak 01 Januari 2025.
Hasil dari kebijakan tersebut dialokasikan ke Kementerian Kesehatan Malaysia. Dana ini digunakan untuk mensubsidi obat inhibitor Sodium‑Glucose Transport Protein 2, guna mengobati diabetes sekaligus menekan risiko komplikasi ginjal.
Selain itu, pemerintah juga mendorong kebijakan 'dialisis peritoneal pertama'. Itu merupakan perawatan dialisis yang bisa dilakukan di rumah bagi pasien yang memenuhi syarat. Langkah ini bertujuan mengurangi kepadatan fasilitas kesehatan, menekan biaya pengobatan, serta meningkatkan kualitas hidup pasien.
Pada 01 Januari 2025, kementerian mengalokasikan dana untuk program dialisis peritoneal. Hasilnya, tingkat penerimaan meningkat menjadi 42 persen di fasilitas kesehatan publik, naik dari 36,6 persen pada 01 Januari 2020.
Secara total, kebijakan ini telah memberikan manfaat kepada 3 161 pasien.
Beban penyakit ginjal kronis di Malaysia terus meningkat, menuntut intervensi berkelanjutan. Pemerintah menargetkan pengendalian gula, subsidi obat, dan perawatan dialisis di rumah untuk mengurangi beban biaya dan memperbaiki kualitas hidup. Perkiraan kebutuhan dialisis pada 01 Januari 2040 menandakan pentingnya langkah proaktif.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
