Marsinah, Pahlawan Nasional: Keberanian di Desa Nglundo
Gambar atau konten salah?
Marsinah lahir di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk pada 10 April 1969. Ia meninggal pada 8 Mei 1993, dan kini diberi gelar Pahlawan Nasional.
Sejak kecil, Marsinah sudah menunjukkan jiwa sosial yang tinggi. Ia menempuh pendidikan di SDN Karangsemi 1/189, Kecamatan Gondang, dan dikenal sebagai anak yang berani membela temannya. “Dari kecil itu sudah berani. Sejak SD kelas satu sudah pernah membela temannya, istilahnya ‘mbelani’, temannya yang diganggu,” ujar marsini, kakak kandung Marsinah, saat ditemui pada 29 April 2026.
Menurut marsini, bila Marsinah melihat teman diintimidasi, ia tidak segan untuk menegur. “Jika Marsinah melihat ada teman sekolah diintimidasi orang lain, dan dia yakin bahwa teman itu benar, maka Marsinah kecil tak segan pasang badan. Pasti langsung gigih membela,” jelasnya.
Setelah lulus SDN 1/189 pada 1983, Marsinah melanjutkan ke SMPN 5 Nganjuk dan lulus pada 1986. Ia kemudian menamatkan pendidikan di SMA Muhammadiyah Nganjuk pada 1989. Di sekolah, ia menonjol di mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Sejarah.
Tak hanya di lingkungan sekolah, kepedulian Marsinah juga terlihat dalam kehidupan sehari‑hari. Ia pernah menggagalkan praktik penebasan padi di desanya. Seorang perantara menawarkan uang muka kecil kepada petani untuk menebas padi. Marsinah mencurigai, “Uangnya cuma segitu, nanti setelah dipanen orangnya hilang. Akhirnya didatangi perantaranya dan uangnya dikembalikan.” Keputusan itu terbukti tepat, karena beberapa petani lain yang menerima tawaran serupa tidak mendapatkan pembayaran setelah panen.
“Untungnya punya nenek kami tidak jadi ditebas. Yang lain sudah, tapi orangnya tidak kembali,” tambah marsini saat mengenang masa kecil adiknya.
Wijiati, adik kandung Marsinah, mengingat masa kecil ketika sering dibonceng sepeda onthel dan diberi jajan. “Saya dulu kecil kan sempat diasuh bulik (bibi), itu sering dijemput Mbak Marsinah, dikasi jajan, sayang banget sama saya,” ungkapnya.
Wijiati juga mengingat ketika Marsinah membantu saudara neneknya menjadi kuli angkut gabah. Meski fisiknya perempuan, Marsinah tidak terhalang melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan laki‑laki. “Mbak Marsinah itu memang lebih mementingkan membantu orang lain. Saudara nenek saya saat itu memang buta mata sebelah, jadi saat panen gabah selalu dibantu Mbak Marsinah, dari memikul karung gabah sampai nyelep gabah ditangani sendiri,” jelas Wijiati.
Ketika Wijiati sakit keras di pabrik di Surabaya, Marsinah datang dari Porong, Sidoarjo untuk menjenguk. “Saya diminta pulang saja ke rumah nenek di Nganjuk. Nanti diajak kerja di Porong kalau sudah sehat. Kata Mbak saya, pekerjaan di pabrik bisa dicari, tapi kesehatan dan keselamatan nyawa lebih penting,” kata Wijiati.
Marsinah juga tak masalah ketika Wijiati mendahuluinya menikah. “Prinsipnya yang penting saudaranya bahagia, bisa menemukan jodohnya. Setahu saya sampai Mbak Marsinah meninggal, belum pernah pacaran atau punya calon suami,” pungkas Wijiati.
Keberanian dan kepedulian Marsinah tidak hanya terbatas pada lingkungan keluarga. Ia menjadi buruh pabrik yang gigih memperjuangkan hak‑hak pekerja. Meskipun berjuang di dunia kerja, ia tetap menjaga hubungan dengan keluarga, sering menolong saudara dan tetangga. Kematian Marsinah pada 8 Mei 1993 meninggalkan luka mendalam bagi semua yang mengenalnya, namun warisannya tetap hidup dalam tindakan solidaritas dan keadilan.
Melalui kisahnya, kita dapat melihat bahwa nilai sosial dan keberanian dapat tumbuh sejak masa kecil. Marsinah mencontohkan bahwa seseorang dapat menjadi agen perubahan tanpa harus memiliki latar belakang pendidikan tinggi atau posisi formal. Ia menunjukkan bahwa perbuatan kecil, seperti menegur penebasan padi atau menolong saudara, dapat memiliki dampak besar bagi masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun