May Day Malang Dipenuhi Musik Hardcore, Ruang Publik Dibuka

Dian P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 66 dibaca
Bisik.id
May Day Malang Dipenuhi Musik Hardcore, Ruang Publik Dibuka

Gambar atau konten salah?

Di depan Balai Kota Malang, peringatan Hari Buruh Internasional tahun ini menampilkan suasana yang berbeda. Di tengah orasi massa, dentuman musik dari panggung darurat memecah ketegangan.

Sejumlah kolektif musik skena hardcore dan punk—Hektar, Glich, DC Threat, dan The Reackless—menggelar pertunjukan langsung di jalanan. Mereka memutuskan membawa gigs yang biasanya di ruang tertutup ke jantung ruang publik.

Ciwen Ilusi, salah satu penampil, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan respons kolektif dari berbagai komunitas kreatif di Malang. “Teman-teman dari berbagai kolektif memang sengaja ngumpul di May Day ini. Semua patungan. Alat dari berbagai kelompok kita kumpulin jadi satu,” ujarnya kepada wartawan pada 01 Mei 2026.

Menurut Ciwen, ada misi besar untuk merebut kembali ruang publik sebagai wadah penyampaian pendapat bagi seluruh elemen masyarakat. Ia menegaskan bahwa kebebasan bersuara di ruang terbuka seharusnya menjadi hak dasar yang tidak dibatasi oleh birokrasi yang sulit. “Kami ingin mengembalikan ruang publik sebagai tempat aspirasi. Makanya gigs yang biasanya kita adakan di tempat kecil dan tertutup, di May Day ini kita bawa ke publik,” ungkapnya.

Persiapan acara berlangsung singkat, hanya sekitar satu minggu sebelum pelaksanaan. Seluruh peralatan, mulai instrumen hingga pengeras suara, dikumpulkan secara swadaya. Berbagai kelompok saling meminjamkan alat dan patungan demi memastikan pesan mereka tersampaikan melalui musik. Sistem kerja kolektif ini mencerminkan semangat perjuangan buruh: kekuatan yang dibangun dari bawah.

Musisi di tengah demonstrasi mendapat apresiasi hangat. Alih-alih dianggap gangguan, musik dipandang sebagai bentuk penguatan solidaritas antar elemen masyarakat. “Isu besarnya jelas, kebebasan bersuara. Sekarang bikin acara saja dipersulit. Maka di sini kita bawa pesan: ruang publik itu milik bersama, bukan untuk dibatasi,” kata Ciwen.

Para buruh dan mahasiswa memberikan ruang yang luas bagi musisi karena menyadari bahwa May Day adalah milik semua golongan. “Tanggapannya luar biasa. Kita diapresiasi, diberi ruang. Karena semua sadar, May Day ini milik semua elemen,” tambahnya.

Sementara Korlap Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu, Zaki, mengakui bahwa membawa gairah baru dalam demonstrasi ini adalah musik perlawanan yang disajikan oleh teman-teman kolektif musik di Malang. “Selain orasi kita juga mendengarkan musik dari kawan-kawan kolektif,” pungkasnya.

Penggabungan musik punk dengan aksi protes menandai langkah baru dalam memperjuangkan hak berpendapat. Dengan mengangkat alat musik ke jalanan, para musisi menegaskan bahwa ruang publik bukan sekadar tempat pertemuan, melainkan arena bagi suara rakyat. Pendekatan ini menambah dimensi sosial pada peringatan Hari Buruh Internasional, menunjukkan bahwa kebebasan bersuara masih perlu dipertahankan dan dilindungi.

Hari Buruh InternasionalMalangMusik Punk HardcoreRuang PublikKebebasan BersuaraKolektif MusikDemonstrasiSolidaritas

Komentar

Memuat komentar...