Mbah Belet Dipindahkan ke Lapangan Borobudur, Waisak 2026

Vera T. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 79 dibaca
Bisik.id
Mbah Belet Dipindahkan ke Lapangan Borobudur, Waisak 2026

Gambar atau konten salah?

Arca Buddha yang belum selesai, yang sering dipanggil Mbah Belet, kini tidak lagi berada di dalam Museum Karmawibhangga. Ia dipindahkan ke lapangan terbuka di kawasan Borobudur, tepatnya di antara dua pohon kenari di Zona 1. Perpindahan ini menambah nuansa baru pada perayaan Hari Suci Waisak 2570 Tahun Buddha di Candi Borobudur tahun ini.

Waisak 2026, atau hari ke-15 setelah Paskah Buddha, biasanya menjadi pusat peribadatan bagi umat Buddha dari berbagai daerah dan negara. Dengan kehadiran Mbah Belet di ruang terbuka, para peziarah kini menemukan titik meditasi dan doa baru menjelang puncak perayaan pada Minggu (31 Mei 2026).

Proses pemindahan arca dilakukan lewat prosesi khusus berjudul Boyongan Ageng pada awal Mei 2026. Acara ini dihadiri oleh tokoh agama Buddha, umat, masyarakat sekitar, serta Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon. Dalam suasana yang penuh makna, arca tersebut kini berdiri di lapangan, menunggu para peziarah untuk berdoa dan merenung.

Menurut Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin, pelestarian Borobudur tidak hanya mencakup perawatan bangunan dan struktur cagar budaya, tetapi juga menjaga makna yang hidup di dalamnya. “Misi pelestarian warisan budaya yang dilakukan oleh Museum dan Cagar Budaya tidak berhenti hanya pada perawatan struktur saja, tapi juga merawat makna yang hidup di dalamnya. Borobudur akan terus kami kelola sebagai warisan dunia yang mampu menghubungkan sejarah, budaya, dan praktik masyarakat masa kini,” kata dia.

Arca ini tidak biasa. Ia berasal dari stupa induk Borobudur dan telah menjadi objek kajian para ahli selama puluhan tahun. Kondisinya yang tidak selesai dipahat menjadi ciri khasnya. Beberapa bagian tubuh, seperti tangan dan kaki, tampak belum rampung, sementara wajah dan dahi mengalami kerusakan. Ketidaksempurnaan ini memicu berbagai tafsir di kalangan arkeolog dan ahli Buddhisme.

Arkeolog Indonesia, R. Soekmono, berpendapat bahwa arca tersebut tidak dapat disebut sebagai Adi‑Buddha, yang biasanya terdapat di stupa induk Borobudur, karena bentuknya yang tidak sempurna. Namun pandangan berbeda muncul dari Anagarika Govinda, seorang ahli Buddhisme Tibet. Ia membandingkan Mbah Belet dengan Adi‑Buddha Vajradhara yang berada di Gyantse Sku'bum, Tibet. Dalam pandangannya, ketidaksempurnaan arca menjadi simbol hakikat tertinggi yang melampaui bentuk fisik.

Rangkaian perayaan Waisak 2026 di Borobudur dirancang dengan beberapa momen penting. Pagi hari, umat Buddha dijadwalkan mengikuti doa dan meditasi di area Mbah Belet. Puncak perayaan berlangsung pada pukul 15.44.44 WIB, melalui rangkaian meditasi, doa bersama, dan hening cipta di pelataran Borobudur. Malam harinya, perayaan ditutup dengan pelepasan lampion, momen yang dinanti oleh umat maupun wisatawan.

Beberapa pejabat negara dijadwalkan hadir dalam perayaan tersebut. Di antaranya Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, Menteri Agama, Nasaruddin Umar, dan Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya. Kehadiran mereka menegaskan pentingnya perayaan ini bagi kebudayaan dan spiritualitas Indonesia.

Bagi banyak peziarah, kehadiran Mbah Belet di ruang terbuka bukan sekadar perpindahan lokasi sebuah artefak. Ia menjadi ruang refleksi baru tentang sejarah, spiritualitas, dan makna ketidaksempurnaan di salah satu situs Buddha terbesar di dunia. Arca yang tak selesai dipahat ini mengajak semua orang untuk merenungkan bahwa keindahan tidak selalu terletak pada kesempurnaan fisik, melainkan juga pada proses dan makna yang tersembunyi di dalamnya.

Dengan perpindahan ini, Borobudur tidak hanya menjadi tempat bersejarah, tetapi juga menjadi ruang yang hidup, menghubungkan masa lalu dengan masa kini melalui pengalaman spiritual yang berkesinambungan.

Mbah BeletBorobudurWaisak 2026Arca Buddha tidak selesaiPelestarian warisan budayaFadli ZonAnagarika Govinda

Komentar

Memuat komentar...