Mengapa Korban Tak Bisa Tinggalkan Pasangan Toksik
Gambar atau konten salah?
Banyak orang bertanya-tanya, kenapa korban hubungan toksik tetap bertahan meski terus disakiti? Jawabannya tidak sesederhana "tinggal pergi". Ada mekanisme psikologis yang membuat korban merasa terperangkap.
Spesialis kejiwaan, dr Erickson Arthur S, SpKJ, menjelaskan bahwa fenomena ini disebut trauma bonding. Ini bukan sekadar soal cinta atau ketergantungan biasa. Trauma bonding adalah ikatan emosional yang terbentuk dari siklus kekerasan dan kebaikan yang bergantian.
Menurut dr Erick, siklus ini punya fase-fase yang jelas. Semuanya berawal dari kekerasan. "Yang pertama, tadi kan sudah jelas ada kekerasan. Kekerasan yang terjadi bisa fisik, verbal, atau seksual. Memang itu pasti tidak nyaman ya. Tapi ternyata fasenya tidak sampai di situ," katanya.
Setelah kekerasan terjadi, pelaku biasanya tidak berhenti. Mereka masuk ke fase berikutnya. "Pelaku bisa melakukan fase selanjutnya, yaitu meminta maaf dan akhirnya bermanis-manis lagi, memberikan harapan lagi. Itu yang akhirnya membuat ada ikatan secara emosional," ungkap dr Erick.
Fase permintaan maaf ini sangat penting. Pelaku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan. Mereka menunjukkan penyesalan. Korban pun merasa ada harapan. Apalagi jika hubungan sudah berjalan lama. Ikatan emosional yang terbentuk membuat korban terus memaafkan.
Tapi masalahnya, siklus ini biasanya berulang. Kekerasan terjadi lagi. Permintaan maaf datang lagi. Harapan muncul lagi. "Akhirnya dia (korban) susah untuk menyingkir atau menyudahi hubungan itu," ungkap dr Erick.
Inilah yang disebut manipulatif. Pelaku tidak ingin ditinggalkan. Mereka akan melakukan apa pun untuk mempertahankan hubungan, termasuk berpura-pura berubah. "Itulah yang namanya manipulatif. Dia (pelaku) akan mencari cara agar tidak ditinggalkan, dengan cara meminta maaf," tambah dr Erick.
Korban yang terjebak dalam trauma bonding seringkali tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi. Mereka hanya merasakan kebingungan: kenapa orang yang menyakiti mereka juga bisa begitu baik? Jawabannya, kebaikan itu adalah bagian dari siklus, bukan pertanda perubahan sejati.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
