Menteri Agama: Idul Adha Momentum Berbagi Lintas Agama

Sigit W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 73 dibaca
Bisik.id
Menteri Agama: Idul Adha Momentum Berbagi Lintas Agama

Gambar atau konten salah?

Pada 29 Mei 2026, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Idul Adha bukan sekadar ritual ibadah, melainkan momentum berbagi bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Iduladha ini sebetulnya identik dengan bulan berbagi. Kita berharap melalui momentum ini, semua orang bisa mencicipi gizi hewani, baik melalui jalur ibadah kurban maupun skema bantuan sosial seperti yang kita lakukan, salah satunya di Masjid Istiqlal ini,” ujar Menag Nasaruddin Umar.

Dengan kata lain, daging hewan kurban yang disembelih di Masjid Istiqlal kemudian dibagikan kepada yang membutuhkan. Menurut Menag, semangat berbagi tidak hanya datang dari umat Muslim, tetapi juga melibatkan masyarakat non‑Muslim.

“Banyak teman kita yang non‑Muslim juga menyerahkan hewan kurban. Bahkan, hampir separuh dari total hewan yang ada berasal dari masyarakat umum yang mungkin niatnya tidak dimasukkan sebagai kurban secara syariat Islam. Kami sangat mengapresiasi toleransi dan kepedulian sosial ini,” kata Menag.

Di balik angka‑angka tersebut, terlihat partisipasi luas. Beberapa hewan kurban berasal dari sumbangan masyarakat umum dan institusi keagamaan lain, termasuk Gereja Katedral Jakarta. Ini menunjukkan adanya kesadaran sosial lintas agama yang mendukung tujuan Idul Adha sebagai bulan berbagi.

Di sisi lain, dalam Islam, ibadah kurban diwajibkan bagi umat yang mampu. Sebelum memulai penyembelihan, seorang Muslim harus memahami tata cara yang sah. Banyak pondok pesantren yang menyiapkan santrinya dengan pengetahuan menyembelih hewan kurban.

Salah satu contoh adalah Pondok Pesantren Darul Amanah Sukorejo di Kendal. Para santri di sini dibekali keterampilan praktis sekaligus pemahaman fikih mendalam mengenai penyembelihan hewan kurban yang sah, ihsan, dan higienis. Mereka tidak hanya belajar teori (Fikih Qurban), tetapi juga melakukan praktik langsung, mulai dari teknik merebahkan hewan tanpa menyakiti, mengasah bilah pisau hingga ketajaman maksimal, hingga teknik menyembelih sekali sayatan.

“Santri tidak hanya harus pandai mengaji di dalam kelas, tetapi juga harus cekatan dan tahu ilmu praktis saat diterjunkan ke masyarakat. Mengurus hewan qurban adalah salah satu khidmah (pengabdian) nyata yang pasti dihadapi santri saat pulang ke kampung halaman nanti,” ujar KH. Muhammad Fatwa, pimpinan Darul Amanah.

Pelatihan tersebut menekankan tiga aspek penting dalam penyembelihan hewan kurban:

  • Aspek Syariat: Memastikan tiga saluran (saluran napas/tenggorokan, saluran makanan, dan dua pembuluh darah) putus dengan sempurna sekali sembelih.
  • Aspek Kesejahteraan Hewan (Kesrawan): Memperlakukan hewan dengan lembut, tidak memamerkan pisau tajam di depan hewan, dan teknik merebahkan yang aman bagi hewan maupun petugas.
  • Aspek Kesehatan dan Kehigienisan: Menjaga kebersihan area penyembelihan dan alat agar daging qurban yang dihasilkan bersih dan sehat (Thayyib).

Setelah melewati pelatihan ini, diharapkan para santri dapat membawa manfaat bagi umat dan menjadi pelopor pelaksanaan ibadah qurban yang sesuai dengan standar syariat serta kesehatan di daerah asal mereka masing-masing.

Keseluruhan narasi menegaskan bahwa Idul Adha, melalui penyembelihan dan distribusi daging kurban, menjadi ajang solidaritas lintas agama. Pelatihan pesantren menyiapkan generasi muda dengan keterampilan praktis yang mendukung pelaksanaan ibadah kurban secara sah dan higienis.

Idul AdhakurbanMasjid Istiqlaltoleransi lintas agamaPondok Pesantren Darul Amanahsahhigienissolidaritas

Komentar

Memuat komentar...