Menteri Airlangga: Pasar Modal Harus Capai Target IPO

Ningsih R. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 108 dibaca
Bisik.id
Menteri Airlangga: Pasar Modal Harus Capai Target IPO

Gambar atau konten salah?

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pasar modal seharusnya menjadi platform penggalangan dana bagi perusahaan. Namun, saat ini masih sedikit perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Sejak awal tahun, hanya satu perusahaan yang mengumpulkan dana lewat IPO, jauh di bawah target BEI yaitu 50 perusahaan.

Airlangga menyebut rendahnya capaian IPO disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian global. Meski begitu, ia menekankan pentingnya BEI mengejar target IPO yang telah ditetapkan. “Ini tentu capital market adalah fungsinya untuk menarik dana untuk IPO, yang mungkin dalam periode first quarter ini ketidakpastian tinggi, sehingga ini masih dalam pipeline. Pipeline‑nya belum muncul, nah ini mungkin perlu dikejar ke depan karena ini salah satu sektor juga yang penting,” ungkapnya dalam acara Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana di Main Hall BEI, Senin (27 April 2026).

Airlangga juga mengungkapkan pertumbuhan pasar modal domestik yang mencapai empat kali lipat dalam sembilan tahun terakhir. Ia menjelaskan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat berada di level 1.000 pada tahun 2004, kemudian naik menjadi 4.200 pada tahun 2013. “Pertumbuhan pasar modal dapat terjadi dengan pesat bahkan hingga 20% pada periode tersebut,” tambahnya. Namun, saat COVID‑19 melanda, pertumbuhan pasar modal RI berada di rentang 5‑6%. Meski begitu, ia menyebut investor domestik secara keseluruhan tumbuh dengan baik, sekitar 50% adalah pelaku investasi di pasar saham. “Kemudian kita lihat partisipasi investor, ini juga dalam negeri lebih baik dengan 50% di pasar saham,” jelas Airlangga.

Lebih lanjut, Airlangga membeberkan realisasi investasi di sektor riil telah mencapai Rp 498,79 triliun pada triwulan pertama 2026, tumbuh 7,22%. Sementara itu, jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 706.000 orang. Sejalan dengan hal tersebut, ia menegaskan kebutuhan pendanaan perusahaan semakin besar. “Hingga tahun 2029, diperkirakan kebutuhan pembiayaan mencapai Rp 9.200 triliun. Di tahun 2026 ini sebesar Rp 7.400 triliun dari sekitar, dan akan meningkat menjadi Rp 9.200 triliun di tahun 2029. Nah tentu ini sektornya adalah swasta dan masyarakat,” pungkas Airlangga.

Berdasarkan data BEI per 17 April 2026, terdapat 16 perusahaan yang masuk dalam antrean IPO. Penghimpunan dana melalui IPO sepanjang tahun 2026 ini baru sebesar Rp 300 miliar. Enam belas calon perusahaan tersebut masuk dalam kategori aset skala menengah dan besar. Rinciannya, lima perusahaan beraset skala menengah memiliki aset sekitar Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar, sedangkan 11 perusahaan lainnya masuk kategori skala besar dengan aset di atas Rp 250 miliar.

Airlangga menegaskan bahwa pasar modal tetap menjadi alat penting untuk memfasilitasi pertumbuhan ekonomi. Ia mengajak semua pihak untuk memperkuat ekosistem investasi, sehingga target IPO dapat tercapai dan perusahaan dapat mengakses dana yang dibutuhkan. Dengan pertumbuhan pasar modal yang stabil dan partisipasi investor domestik yang kuat, prospek penggalangan dana lewat IPO diharapkan akan meningkat seiring berjalannya waktu.

pasar modalIPOBEIAirlangga Hartartoinvestasi domestikkebutuhan pembiayaanpertumbuhan ekonomiekosistem investasi

Komentar

Memuat komentar...