Menteri Keuangan Purbaya: Jangan Panik Saat Rupiah Menurun
Gambar atau konten salah?
Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan, mengajak masyarakat untuk tidak panik ketika rupiah melemah terhadap US$. Ia menegaskan bahwa nilai tukar sempat turun ke Rp 17.500/US$ namun ekonomi Indonesia masih dalam kondisi baik.
Di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, pada Rabu, 13 Mei 2026, Purbaya menyampaikan, “(Masyarakat) nggak perlu panik karena pondasi ekonomi bagus. Kita tahu betul kelemahan di mana dan bisa kita betulin. Kita nggak akan sejelek seperti 98 lagi, nggak akan jelek malah,” menegaskan bahwa pemerintah akan mencari langkah yang tepat untuk memperkuat nilai tukar.
Ia menambahkan bahwa Kementerian Keuangan akan membantu Bank Indonesia dalam upaya tersebut. “Itu kan tugas bank sentral. Cuma kita sedang ambil langkah-langkah untuk membantu memperkuat juga dari sisi bond market. Mungkin kita coba lihat apakah kita bisa masuk untuk membantu apa enggak, tetapi pasti ke depan akan ada perbaikan, jadi jangan takut,” ujarnya.
Strategi utama Purbaya adalah memanfaatkan intervensi di pasar surat berharga. Ia menjelaskan, “Kalau bond market stabil, orang itu nggak jual, mereka nggak takut dengan capital loss, yang keluar juga akan berkurang. Itu hitungan saya, apalagi kalau nanti bond-nya menguat, kan ada potensi capital gain, biasanya mereka suka, itu yang keluar‑keluar akan masuk ke situ. Kita akan jaga stabilitas di bond market, membantu bank sentral. Tentunya kami akan berkoordinasi dengan bank sentral juga,” jelasnya.
Dengan menjaga bond market tetap stabil, Purbaya berharap investor tidak akan terburu-buru menjual aset, sehingga tekanan jual terhadap rupiah dapat dikurangi. Ia menegaskan bahwa koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia akan terus dipertahankan.
Perkataan Purbaya menegaskan keyakinan bahwa kondisi ekonomi Indonesia cukup kuat untuk menanggulangi fluktuasi nilai tukar. Ia menekankan bahwa langkah-langkah intervensi yang sedang dipertimbangkan akan memperkuat rupiah dan mencegah penurunan tajam seperti pada tahun 1998.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
