Menu Makan Bergizi Gratis di Sekolah Jadi Sorotan Publik
Gambar atau konten salah?
Beberapa waktu lalu, menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi viral di media sosial. Menu tersebut mencakup lele mentah, pisang yang divakum, dan kelapa utuh. Menu MBG ini ditujukan untuk siswa di berbagai daerah, namun menu ini mendapatkan sorotan terkait dengan pemenuhan standar gizi.
Menu lele mentah yang dimarinasi muncul di SMAN 2 Pamekasan. Di daerah Mojosongo, Surakarta, terdapat menu pisang ambon yang divakum, sementara kelapa utuh dapat ditemukan di Gresik hingga Kalimantan Timur. Sebelumnya, paket MBG selama Ramadan juga mendapat perhatian karena berisi makanan kering yang dianggap kurang layak sebagai sumber gizi untuk siswa.
Pakar teknologi pangan dari Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Ir Sri Raharjo, MSc, menilai bahwa biaya paket MBG per porsi perlu dievaluasi. Saat ini, harga per porsi untuk bahan makanan berkisar antara Rp 8.000 hingga Rp 10.000, tergantung pada jenjang pendidikan. Namun, kebutuhan gizi setiap kelompok usia anak berbeda-beda.
Menurut Prof Sri, kebutuhan energi siswa di tingkat SD, SMP, dan SMA tidak sama. Oleh karena itu, perencanaan menu harus mempertimbangkan perbedaan tersebut. "Kebutuhan energi siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas tidaklah sama," katanya.
Penyaluran MBG dilakukan melalui satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Dengan sistem ini, semua pengolahan makanan dan penyaluran tergantung pada bagaimana SPPG menjaga kualitas menu. Namun, pengelolaan dapur harus mampu menangani produksi dalam jumlah besar. Jika tidak, hal ini dapat meningkatkan risiko keamanan pangan.
Prof Sri menyatakan bahwa SPPG harus memastikan paket MBG memenuhi standar kebutuhan energi anak. Misalnya, siswa SD memerlukan rata-rata 450 kalori, siswa SMP sekitar 550 kalori, dan siswa SMA antara 650-700 kalori. Kebutuhan energi tersebut harus dipenuhi melalui komposisi nutrisi yang seimbang, termasuk karbohidrat, protein, dan lemak.
Sayangnya, kenyataan di lapangan berbeda. Selama Ramadan, paket MBG disederhanakan dan makanan baru bisa dikonsumsi setelah berbuka puasa. Banyak orang tua siswa mengeluhkan paket MBG yang kering dan kurang memenuhi gizi.
Prof Sri menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap pelaksanaan program MBG agar tujuan utama program, yaitu meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, dapat tercapai secara optimal.
Untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa, Prof Sri menyarankan agar MBG dapat memanfaatkan kantin sekolah. Dengan alokasi Rp 10.000 per porsi, kantin sekolah diharapkan lebih mampu memenuhi standar gizi minimum. Sistem ini memungkinkan makanan diolah langsung di lingkungan sekolah, sehingga produksi dan distribusi bisa lebih mudah diawasi.
Secara keseluruhan, sistem makanan yang diolah di kantin sekolah akan lebih terjaga dan memiliki risiko yang lebih kecil dibandingkan dengan dapur SPPG yang harus memasak dalam jumlah sangat besar.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi siswa, asalkan ada perhatian lebih terhadap kualitas dan keamanan pangan yang disediakan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
