Mimi Campervan Keliling 2 Tahun, Bantu Komunitas di Timur

Maya K. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 92 dibaca
Bisik.id
Mimi Campervan Keliling 2 Tahun, Bantu Komunitas di Timur

Gambar atau konten salah?

Di balik nama Mimi Campervan, yang sebenarnya bernama Rahmi Shofia, tersembunyi kisah perjalanan panjang yang lebih dari sekadar menjelajah keindahan alam Indonesia. Selama hampir dua tahun, ia mengendarai sebuah campervan sederhana yang dirakit sendiri, menelusuri wilayah timur Indonesia, sekaligus mencari makna hidup dan kebaikan bagi orang lain.

Perjalanan dimulai pada 31 Desember 2022, ketika ia memutuskan untuk meninggalkan rutinitas di Malang. Ia berkata, “Akhir 2022 Desember atau kurang lebih 01 Januari lah atau akhir Desember 2022. Start-nya dari Malang, jadi Malang aku masuk ke Bali. Bali sebulanan lebih lah,” ketika ia menceritakan rencananya.

Setelah tiba di Bali, ia melanjutkan perjalanan ke Lombok, Sumbawa, Bima, Flores, dan akhirnya Sumba. Tidak hanya singgah, ia tinggal berbulan-bulan di beberapa tempat, menyesuaikan diri dengan kehidupan lokal dan mengamati kehidupan sehari‑harinya.

Berbeda dengan banyak traveler yang memiliki rencana terperinci, Mimi Campervan memilih untuk mengikuti naluri. Ia berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain tanpa arah pasti, bahkan sampai ke pelosok yang jarang dikunjungi wisatawan.

Perjalanan ini tidak semata tentang pemandangan. Ia menemukan kekosongan dalam dirinya sendiri. Ia mengakui, “Ternyata masih ada yang kosong gitu. Masih ada rasa kayaknya bukan ini sih yang gue cari gitu,” menunjukkan bahwa ia sedang mencari sesuatu yang lebih dalam.

Di Lombok, ia memanjat Gunung Rinjani sambil mengumpulkan sampah. Ia mengumpulkan hingga 10 karung sampah, lalu menurunkannya. Ia berkata, “Ke Lombok malah saya naik Gunung Rinjani bawa ngumpulin sampah. Sampai 10 karung saya bawa turun sampah, terus ternyata ada rasa kepuasan di sana,” menandakan kepuasan yang datang dari tindakan sosial.

Di Bima, ia bertemu dengan situasi yang belum terjamah. Ia menjelaskan, “Di Bima saya niatnya cuma singgah ke tempat kenalan baru, ternyata di sana musholanya belum ada. Musholanya cuma ada tiang doang, seng pun belum ada cuma pasir doang,” sehingga ia memutuskan untuk membantu membangun mushola.

Aktivitas sosialnya tidak berhenti di situ. Ia juga membantu memperbaiki lahan pengairan dan membangun toilet umum. Ia menyatakan, “Ternyata saya menemukan rasa kayaknya kekosongan tadi tuh mulai terisi satu per satu. Saya sadar karena ternyata mungkin ketika saya bermanfaat buat orang lain, menghubungkan saya dengan orang-orang yang membutuhkan,” menegaskan dampak positif bagi masyarakat.

Di Sumba, ia membantu membangun rumah bagi seorang lansia yang hidup sendiri. Rumah tersebut sebelumnya sudah tidak layak, namun ia memperbaikinya sehingga menjadi tempat tinggal yang aman.

Campervannya menjadi rumah berjalan, tempat ia menyimpan barang-barang yang dititipkan teman dan pengikutnya. Ia berbagi, “Di mobil saya bawa tanki air, bawa mukena, bawa Al-Quran dititipin followers. Bahkan gak cuma itu, saya Islam, saya juga bawa Alkitab karena teman‑teman titipkan ke saya,” menunjukkan bahwa ia menjadi jembatan bagi orang yang membutuhkan.

Perjalanan tidak berhenti di batas negara. Ia sampai ke Timor Leste dan menjelajahi Maluku Barat Daya dengan cara yang tidak biasa. Ia menjelaskan, “Masuk Sumba, masuk ke Kupang, Kupang sampe ke Timur Leste. Bahkan sempet, bahkan sempet meninggalkan mobil lagi (karena akses) adi aku tinggalin aja. Aku mulai bersepeda ke Maluku Barat Daya sampe Saumlaki, Kei, Bandar Neira, Maluku,” menggambarkan petualangan lintas pulau.

Perjalanan lintas pulau memakan waktu berhari‑hari di kapal, sebelum akhirnya ia kembali mengambil mobil dan melanjutkan perjalanan. Ia menyesuaikan diri dengan setiap rute, menyesuaikan diri dengan kondisi lokal.

Titik balik terjadi di Alor ketika ia membantu warga dalam keadaan darurat. Ia menceritakan, “Waktu itu tengah malam saya tidur kan jam 01.30 WIT, saya diketok ‘bisa anterin ke puskesmas gak? ini bapak saya sakit’ katanya kan. Terus sampai puskesmas nggak mau turun, ternyata sesak nafas dan serangan jantung mungkin ya.”

Pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam. Ia berkata, “Saya ngerasa hidup tuh cuman gini doang loh, nggak ada yang bisa dibawa, terus saya rasa oke ‘kayaknya cukup kematian yang mengingatkan saya untuk berhenti dulu’,” menandakan refleksi pribadi tentang arti hidup.

Setelah hampir dua tahun berkeliling dan mengunjungi puluhan destinasi, Mimi Campervan mengakhiri episode pertamanya pada 31 Desember 2024. Ia menutup perjalanan dengan rasa syukur atas pengalaman dan pelajaran yang didapat.

Perjalanan ini menunjukkan bahwa perjalanan bukan hanya tentang tempat, tetapi juga tentang hubungan manusia, kontribusi sosial, dan pencarian makna pribadi. Dengan membawa barang-barang sederhana, ia membantu komunitas di pelosok negeri, sekaligus menemukan kepuasan dalam memberi.

Mimi Campervancampervanperjalanan lintas pulaukegiatan sosialpembangunan musholapengumpulan sampahpengalaman spiritual

Komentar

Memuat komentar...