Minyak Mentah Anjlok Hampir 4% Akibat Isyarat Damai

Bayu K. · 2 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Minyak Mentah Anjlok Hampir 4% Akibat Isyarat Damai

Gambar atau konten salah?

Harga minyak mentah global mengalami penurunan tajam pada Selasa, 4 Agustus 2026. Penurunan ini mencapai hampir 4 persen dan membawa harga ke titik terendah dalam tiga minggu terakhir.

Pemicu utama pelemahan ini adalah pernyataan dari Qatar dan Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent. Keduanya menyuarakan optimisme bahwa konflik di Timur Tengah bisa diselesaikan secara diplomatis. Jika itu terjadi, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz—jalur laut yang sangat strategis—bisa kembali normal.

Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent—yang menjadi acuan internasional untuk pengiriman bulan depan—turun sebesar US$ 3,11 atau 3,71 persen. Harga berakhir di US$ 80,66 per barel pada pukul 11.59 waktu setempat. Padahal sebelumnya, harga sempat menyentuh level tertinggi harian di US$ 86,33 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat juga ambles. Harganya turun US$ 3,58 atau 4,46 persen menjadi US$ 76,76 per barel. Seperti Brent, WTI juga sempat mencapai puncak sesi di US$ 82,33 per barel sebelum akhirnya melemah.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menyatakan bahwa upaya diplomatik masih terus berjalan. Ia mengatakan para mediator—termasuk Qatar, Pakistan, dan Oman—sedang berkoordinasi secara intensif. Mereka berusaha memfasilitasi perundingan dan saling bertukar rancangan proposal antara kedua pihak yang bertikai.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga memberikan sinyal positif. Dalam wawancaranya dengan CNBC, Bessent mengatakan kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bisa tercapai paling cepat pada Selasa atau Rabu. Ia juga mengaku sudah melihat cukup banyak kapal mulai bergerak keluar dari Selat Hormuz.

Sebelumnya, pada sesi perdagangan yang sama, kedua acuan harga minyak sempat menguat lebih dari 2 persen. Penyebabnya adalah ketidakpastian mengenai prospek kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar masih gamang apakah negosiasi akan benar-benar membuahkan hasil.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, memberikan pandangannya. Menurut dia, harga minyak memangkas kenaikan sebelumnya setelah pejabat Qatar mengatakan rancangan penyelesaian potensial antara AS dan Iran telah disusun. Ini menjadi sinyal bahwa ada kemajuan dalam proses negosiasi.

Namun Staunovo juga mengingatkan bahwa situasi pasokan belum sepenuhnya pulih. "Meskipun produksi di Timur Tengah telah pulih dari level terendahnya, produksinya masih berada di bawah tingkat sebelum konflik. Akibatnya, pasar minyak tetap mengalami kekurangan pasokan," ujarnya.

Penurunan harga ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar minyak terhadap isyarat diplomatik. Pernyataan dari para pejabat tinggi bisa langsung menggerakkan harga dalam hitungan jam. Namun di sisi lain, pasokan yang masih terbatas membuat pasar belum sepenuhnya tenang. Keseimbangan antara harapan damai dan kenyataan di lapangan masih menjadi faktor utama yang akan menentukan arah harga minyak ke depan.

harga minyak mentahpenurunankonflik timur tengahdiplomasiselat hormuzpasar minyaknegosiasi

Komentar

Memuat komentar...