MPLS di SDN 5 Pohsanten: Hanya 2 Siswa Baru
Gambar atau konten salah?
Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN 5 Pohsanten, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali, berlangsung tidak seperti biasanya. Sekolah ini hanya memiliki dua orang siswa baru. Padahal, proses penerimaan peserta didik baru sudah dimulai.
Lokasi SDN 5 Pohsanten berada di Banjar Pasatan, Desa Pohsanten. Kondisi sekolah ini sangat memprihatinkan. Tidak ada satu pun kelas yang jumlah muridnya mencapai 20 orang. Total seluruh murid dari kelas I hingga kelas VI hanya 49 siswa.
"Memang data awal itu tidak ada siswa yang mendaftar. Namun hingga pagi tadi, ada dua siswa laki-laki yang hadir untuk MPLS, sehingga baru terdaftar," kata Gusti Agung Alit Ariastika, salah seorang guru di SDN 5 Pohsanten, pada Senin, 13 Juli 2026.
Alit, yang juga warga lokal, mengatakan pihak sekolah sudah berkali-kali menyebarkan informasi pendaftaran. Tapi jumlah anak usia sekolah di sekitar wilayah itu memang sedikit. Itu masalah utamanya.
"Tadi pagi baru datang lagi satu orang, langsung membawa formulir. Jadi total ada dua siswa, laki-laki semuanya," jelas guru kelas V ini.
Alit merinci jumlah 49 siswa yang ada sekarang. Kelas I hanya 2 siswa. Kelas II ada 8 siswa. Kelas III 4 siswa. Kelas IV 10 siswa. Kelas V 12 siswa. Kelas VI 13 siswa.
"Tahun ini menjadi tahun paling sedikit dengan hanya menerima dua siswa. Tahun lalu masih ada 8 siswa yang mendaftar," ujarnya.
Menurut Alit, faktor geografis dan demografi menjadi penyebab utama sepinya peminat. Wilayah Banjar Pasatan sebenarnya cukup luas. Tapi penduduknya makin sedikit karena banyak yang merantau ke luar daerah.
"Penduduknya sudah minim, banyak yang merantau. Yang bertahan di kampung pun rata-rata hanya punya anak dua, tidak seperti dulu lagi," tambahnya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di SDN 5 Pohsanten. Data menunjukkan ada 21 sekolah dasar di Kabupaten Jembrana yang menerima siswa baru kurang dari 10 orang tahun ini. Kecamatan Mendoyo menjadi daerah dengan sekolah terbanyak yang kekurangan murid.
Kepala Bidang Pembinaan SD Disdikpora Jembrana, I Nyoman Koriawan, menjelaskan proses PPDB tingkat SD di Jembrana secara umum berjalan aman. Tapi pihaknya mengakui ada puluhan sekolah yang jumlah siswa barunya di bawah standar.
"Memang ada sekolah yang sedikit menerima siswa, atau kurang dari 10 orang siswa per sekolah," katanya.
Disdikpora Jembrana akan melakukan evaluasi menyeluruh sebelum mengambil langkah penggabungan sekolah atau regrouping. "Khusus sekolah tersebut (SDN 5 Pohsanten), tahun ini bakal dievaluasi dulu," tegas Koriawan.
Ia menambahkan, opsi regrouping bisa diambil jika sekolah sudah memenuhi kriteria. Misalnya, dalam tiga tahun berturut-turut jumlah siswa terus menurun dan kemungkinan tidak ada siswa lagi ke depannya.
"Jika memenuhi syarat regrouping, seperti dalam tiga tahun berturut-turut jumlah siswa terus menurun dan kemungkinan tidak ada siswa lagi ke depannya, tentunya akan ditindaklanjuti (regrouping)," tandasnya.
Kondisi serupa juga terjadi di SDN 6 Bhuana Giri, Banjar Dinas Komala, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Bali. Sekolah ini sudah empat tahun tidak mendapat siswa baru.
"Tahun ini kami kembali nggak dapat siswa baru," kata Kepala SDN 6 Bhuana Giri, I Made Suartika, pada Senin, 13 Juli 2026.
Suartika mengungkapkan, saat ini sekolahnya hanya memiliki empat siswa. Dua siswa kelas III dan dua siswa kelas VI. Kelas I, II, IV, dan V tidak memiliki murid sama sekali.
Dua siswa kelas III yang masih bertahan adalah saudara kembar. Mereka mengikuti kakaknya yang juga bersekolah di SDN 6 Bhuana Giri.
"Kebetulan yang kelas III kembar dan kakaknya sekolah di sini, kalau nggak mungkin sudah 5 tahun berturut-turut kami tidak dapat siswa," ujar Suartika.
Pihak sekolah sudah melakukan sosialisasi ke masyarakat sekitar. Tapi hasilnya nihil. Jumlah penduduk di sekitar sekolah sangat terbatas. Dari sekitar 50 kepala keluarga, sebagian besar warga usia lanjut. Keluarga muda banyak yang merantau ke Denpasar.
Posisi sekolah juga menjadi tantangan. SDN 6 Bhuana Giri diapit sekolah lain yang lebih diminati masyarakat.
"Tahun depan kami akan lebih intensifkan lagi untuk sosialisasi ke masyarakat, supaya minimal kami dapat siswa dulu, kalau tidak dapat otomatis hanya tersisa dua orang siswa saja di sini," ujar Suartika.
Ironisnya, jumlah tenaga pendidik di sekolah ini justru lebih banyak dari murid. Ada tujuh tenaga pendidik: empat guru kelas, satu guru olahraga, satu guru agama, dan satu kepala sekolah. Suartika mengatakan pembagian jam mengajar tetap diatur agar semua guru menjalankan tugas secara proporsional.
Minimnya siswa juga berdampak pada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Alokasi dana BOS dihitung berdasarkan jumlah peserta didik.
"Kami berharap, tahun depan SDN 6 Bhuana Giri dapat siswa agar keberlangsungan sekolah ini bisa bertahan," ucap Suartika.
Dua sekolah di Bali ini menghadapi masalah yang sama: jumlah siswa terus menurun. Di SDN 5 Pohsanten, faktor geografis dan perantauan warga menjadi penyebab. Di SDN 6 Bhuana Giri, minimnya penduduk usia muda dan persaingan dengan sekolah lain membuat pendaftar tak kunjung datang. Kedua sekolah masih berharap ada perubahan tahun depan, meski evaluasi dan kemungkinan penggabungan sekolah sudah dipertimbangkan oleh dinas pendidikan setempat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
MPLS di SDN 5 Pohsanten: Hanya 2 Siswa Baru
BPJS Hadirkan VIOLA dan BPJS Keliling untuk Wilayah 3T
Kebakaran Hanguskan Dua Kantor OPD di Padang
Bianglala Berhenti, 30 Orang Terjebak
Pemerintah Putuskan Tarif Listrik Tetap hingga September 2026
Bom Rakitan Tasikmalaya, Suara Keras Tanpa Korban
OJK Bantah Ada Aksi Jual Asing Usai Ancaman Downgrade S&P
Rizal Faisal: Panglima Viking yang Juga Juragan Kapal