MPLS Ramah Tanpa Perpeloncoan di Denpasar

Fitri A. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
MPLS Ramah Tanpa Perpeloncoan di Denpasar

Gambar atau konten salah?

Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) resmi dimulai pada Senin, 13 Juli 2026. Berbagai SMA dan SMK di Denpasar langsung menggelar kegiatan ini sejak pagi.

Di SMAN 4 Denpasar, para siswa baru berkumpul rapi di halaman sekolah. Mereka mengikuti materi pengenalan yang disampaikan oleh panitia dan guru. Kepala SMAN 4 Denpasar, I Made Sudana, mengatakan sebanyak 428 siswa sudah terdaftar dan mengikuti MPLS hari ini.

Sudana memastikan tidak ada kekerasan fisik, seksual, atau perpeloncoan selama MPLS berlangsung. "Dari kemarin saya sudah memberikan pemahaman kepada panitia bahwasannya ini kan namanya MPLS Ramah, yang namanya ramah tidak ada yang namanya perpeloncoan atau suatu kegiatan yang menakutkan," kata Sudana saat ditemui di SMAN 4 Denpasar.

Materi yang diberikan sekolah meliputi kurikulum, budaya lingkungan sekolah, program-program sekolah, kesiswaan, hingga sarana prasarana.

Situasi serupa terlihat di SMK PGRI 5 Denpasar. Para siswa aktif mengikuti MPLS di halaman sekolah. Mereka dikelompokkan untuk saling mengenal. Pantauan di lokasi menunjukkan siswa duduk melingkar per kelompok dan makan bersama dari bekal masing-masing. Mereka juga berkeliling sekolah untuk melihat lingkungan belajar yang baru.

Kepala SMK PGRI 5 Denpasar, Nuning Kurniawati, menyebut 894 siswa telah terdaftar di sekolah tersebut. Ia menegaskan tidak ada kekerasan atau bullying dari kakak kelas maupun guru. "MPLS Ramah itu mencakup tidak ada perpeloncoan. Tidak adanya kekerasan, tidak adanya hukuman fisik, dan balas dendam dari senior," ujar Nuning.

Durasi MPLS tahun ini juga dipangkas. Tahun sebelumnya kegiatan selesai pukul 16.00 Wita, kini selesai lebih awal pukul 13.00 Wita. "Kebetulan untuk tahun lalu kami MPLS dilaksanakan selama 3 hari tapi tahun sekarang 5 hari. Untuk tahun lalu kita sampai jam 4 sore, tahun sekarang kami sampai jam 1 siang. Kebetulan kami tidak ingin memberatkan siswa ya," jelasnya.

"Jadi ini kan hanya masa pengenalan sekolah, apa yang penting-penting, apa yang harus mereka tahu dari sekolah ini, itu aja sih dulu," sambung Nuning.

Suasana berbeda mewarnai hari pertama di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah (MII) Klungkung, Semarapura Tengah, Klungkung, Bali. Gerbang sekolah dipenuhi puluhan orang tua, didominasi ibu-ibu, yang mengantar anak mereka. Raut bahagia bercampur cemas terlihat jelas.

Drama tak terhindarkan. Seorang ibu harus bolak-balik menenangkan putranya yang menangis karena suasana baru. Setelah guru kelas meminta orang tua meninggalkan ruang kelas, beberapa di antaranya tidak langsung pulang. Mereka memilih mengamati dari jauh, memenuhi pintu kelas, bahkan mengintip dari balik kaca jendela.

Kepala MII Klungkung, Subhan, memaklumi hal itu. Menurutnya, kehadiran orang tua di hari pertama murni karena kekhawatiran terhadap proses adaptasi anak. "Wali murid yang datang ini sebenarnya kepikiran sama anaknya, bukan murni ingin melihat kegiatannya. Mereka ingin mendampingi agar anaknya bisa beradaptasi. Begitu melihat ternyata anaknya bisa bergabung dan berinteraksi dengan teman-temannya, orang tua pasti lebih lega," ungkap Subhan pada Senin, 13 Juli 2026.

Orientasi pengenalan lingkungan madrasah tahun ini diberi nama Matamuda (Masa Ta'aruf Murid Madrasah) dan berlangsung selama lima hari. MII Klungkung menerima 76 murid baru: 32 laki-laki dan 44 perempuan. Mereka akan dibagi ke dalam tiga kelas.

Subhan menegaskan pembagian kelas tidak dilakukan asal. Ada proses pemetaan agar tidak muncul stigma 'kelas favorit'. "Penjaringan kelas dilakukan melalui tahapan penilaian, termasuk tes calistung (baca, tulis, hitung). Siswa akan dikategorikan dalam tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, untuk kemudian disebar secara merata. Tujuannya agar kemampuan di setiap kelas itu merata, tidak ada kelas yang isinya pintar semua atau kelas favorit," paparnya.

Pihak madrasah masih memberi kelonggaran bagi orang tua di awal masa adaptasi. Namun kebijakan ini tidak akan berlangsung lama. "Satu dua hari ini kami persilakan orang tua datang mendampingi putra-putrinya. Namun setelah satu dua hari, nanti kami akan mengimbau agar cukup mengantar sampai gerbang saja. Tidak perlu khawatir, biar orang tua benar-benar mempercayakan pendidikan putra-putrinya pada kami sejak hari pertama," pungkas Subhan.

Komite MII Klungkung, M Taufiqur Rachman, berharap orang tua bisa memberikan kepercayaan penuh pada madrasah. Jika menemui persoalan, ia meminta orang tua melapor ke pengurus komite terlebih dahulu sebelum ke sekolah. "Nantinya masing-masing kelas akan ada perwakilan pengurusnya. Kita tidak menutup kemungkinan adanya persoalan di sekolah, sehingga kita berharap orang tua murid bisa memberikan kepercayaan pada komite," jelas Taufiq.

MPLS tahun ini menekankan pendekatan ramah tanpa kekerasan di semua jenjang. Sekolah menyesuaikan durasi dan metode agar siswa baru tidak terbebani. Sementara di tingkat madrasah, adaptasi orang tua dan anak menjadi perhatian utama di hari-hari pertama.

MPLSMPLS RamahDenpasarSMASMKMadrasah Ibtidaiyahperpeloncoan

Komentar

Memuat komentar...