Murid SMK Samarinda Meninggal, Sekolah Telah Lakukan Koordinasi

Ani R. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 65 dibaca
Bisik.id
Murid SMK Samarinda Meninggal, Sekolah Telah Lakukan Koordinasi

Gambar atau konten salah?

Kabar duka kembali mencuat di dunia pendidikan ketika Mandala Rizky Saputra, murid SMK Negeri 4 Samarinda, meninggal dunia. Penyebabnya dikabarkan terkait sepatu sekolah yang terlalu sempit.

Menurut Disdikbud Kaltim, pihaknya telah melakukan koordinasi dan pendalaman informasi dari berbagai pihak. Hasilnya, Mandala memang mengalami penurunan kesehatan dan temuan kaki yang membengkak.

Mandala memang mengalami penurunan kesehatan dan temuan kaki yang membengkak.

Kondisi kesehatan siswa diketahui mengalami penurunan kondisi fisik, pusing, dan pembengkakan pada kaki. Setelah dilakukan kunjungan ke rumah siswa, menurut informasi sepatu kekecilan,

Kronologi kejadian dimulai pada 09 Februari 2026 ketika Mandala mengikuti praktik kerja di Ramayana Robinson Jalan M Yamin Samarinda. Praktik tersebut dianggap sesuai dengan jurusan pemasaran yang ia ambil.

Pada 30 Maret 2026, ia kembali ke sekolah dan melanjutkan kegiatan belajar-mengajar. Namun, keesokan harinya, 31 Maret 2026, sekolah menyarankan agar ia beristirahat di rumah karena kondisi fisik yang menurun.

Sejak saat itu, Mandala tidak masuk sekolah karena sakit, dan orang tua mengirimkan izin. Pada 08 April 2026, melalui pesan singkat WhatsApp, ibu Mandala meminta bantuan untuk meminjam uang ke sekolah melalui wali kelas.

Wali kelas kemudian mengundang ibu Mandala ke sekolah untuk berkoordinasi. Undangan tersebut dipenuhi pada 10 April 2026. Pada pertemuan itu, ia menyampaikan kondisi Mandala dan menyebut penurunan kondisi ini lantaran gangguan nonmedis.

Sekolah membantu fasilitas permohonan biaya untuk pengobatan di Tenggarong sebesar Rp 1,1 juta, menurut keterangan Disdikbud Kaltim yang ditandatangani oleh Plt Kepala, Armin.

Sepuluh hari kemudian, tepatnya pada 21 April 2026, sekolah akhirnya melakukan kunjungan ke rumah Mandala. Pada kunjungan itu, ditemukan kondisi kaki Mandala lemas dan bengkak, tetapi tidak ada luka atau lecet.

Sepuluh hari kemudian, tepatnya pada 21 April 2026 sekolah akhirnya melakukan kunjungan ke rumah Mandala. Pada kunjungan itu, ditemukan kondisi kaki Mandala lemas dan bengkak, tetapi tidak ada luka atau lecet.

Guru SMK Negeri 4 Samarinda menyarankan pengobatan di fasilitas kesehatan, namun keluarga Mandala enggan melakukannya karena benturan ekonomi dan tunggakan sebesar Rp 2,4 juta yang belum terbayarkan.

Kondisi tersebut membuat sekolah ikut turun tangan untuk mengurus BPJS Mandala. Dua hari berselang, kunjungan kembali dilakukan sekolah guna memantau kondisi Mandala dan menanyakan perkembangan pengurusan BPJS.

Pada saat itu orang tua dan siswa melaporkan bahwa kondisi sempat membaik dan kondisi kaki (sebelumnya bengkak) kempes. Sekolah memutuskan besuk untuk membelikan sepatu sesuai ukuran,

Namun, kabar duka datang pada 24 April 2026 ketika Mandala dikabarkan meninggal dunia. Pihak sekolah mendampingi proses pemulasaraan dan pemakaman jenazah.

Melihat kronologi yang ada, Disdikbud Kaltim menilai pihak sekolah sudah melakukan pendampingan secara maksimal. Namun, karena tidak ada diagnosa medis dari layanan kesehatan, maka Disdikbud Kaltim menyatakan bahwa Namun karena tidak ada diagnosa medis dari layanan kesehatan maka kita tidak dapat menyimpulkan bahwa penyebab meninggalnya murid bukan karena sepatu,

Keterbatasan ekonomi memaksa Mandala tetap mengenakan sepatu ukuran 40. Padahal, menurut Disdikbud Kaltim, ukuran sepatu murid tersebut menurut orang tua adalah 43. Berdasarkan laporan, ukuran sepatu Mandala 44.

Praktik kerja yang ia jalani menuntut stamina fisik tinggi. Sebagai pramuniaga, ia diwajibkan

Mandala Rizky SaputraSMK Negeri 4 Samarindasepatu terlalu sempitpembengkakan kakiDisdikbud Kaltimkematian muridBPJS

Komentar

Memuat komentar...