Museum Zoologi Bogor Ungkap Perjalanan 44 Hari Kerangka Paus Raksasa
Gambar atau konten salah?
Di Kebun Raya Bogor, tak lengkap kalau tak mampir ke Museum Zoologi Bogoriense. Di sana, salah satu daya tarik utama adalah kerangka paus raksasa. Banyak pengunjung yang belum tahu, tulang-tulang kolosal ini punya cerita panjang.
Kerangka paus itu ditemukan mati di Samudra Hindia, tepatnya di Pantai Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, pada tahun 1916. Hasan Maulana, koordinator museum, menjelaskan bahwa paus ini tidak dianggap asli Indonesia karena hidupnya kosmopolit. Ia tersebar di seluruh dunia, namun kematiannya di perairan Indonesia membuatnya menjadi bagian sejarah Indonesia.
Bagaimana bangkai paus raksasa ini sampai di Bogor? Jawabannya sederhana: menggunakan kereta batu bara. Pada masa kolonial Belanda, kereta batu bara masih beroperasi dengan gerbong terbuka. Perjalanan dari Garut ke Bogor memakan waktu 44 hari. Gerbong itu melaju dengan kecepatan lambat, kontras dengan kereta modern yang bisa melaju sangat cepat.
Hasan menjelaskan proses pengangkutan dengan kata-kata yang agak lucu. “Iya, disusun kembali. Jadi tidak sekaligus panjang membawanya. Repot kalau kayak gitu, langsung bawa panjang. Dipecah-pecah, dipisah-pisah. Lalu digotong ramai-ramai,” katanya. Setelah sampai di Bogor, tulang-tulang disusun kembali potongan demi potongan, membentuk kerangka lengkap yang bisa dilihat pengunjung.
Namun, ada satu bagian yang tidak asli. Bagian ekor yang dipamerkan sebenarnya adalah replika. Tulang ekor aslinya terlalu rapuh dan rentan terhadap pembusukan, sehingga museum memutuskan membuat replika. Hasan mengungkapkan hal ini secara terbuka.
Spesies paus ini adalah paus baleen, yang tidak memiliki gigi. Ia memiliki struktur sikat di mulutnya yang menyaring plankton. Dalam satu hari, paus ini bisa menghabiskan 40 juta udang, setara dengan beberapa ton berat. Hasan menambahkan dengan candaan, “Makanannya plankton, seperti udang. Dalam satu hari bisa menghabiskan 40 juta udang. Sudah hitungan ton beratnya, makanya besar kan? Masa makannya cuma sepiring nasi.”
Para ahli juga menunjukkan bahwa masih ada kerabat spesies paus ini di lautan lepas. Mereka dapat mencapai panjang hingga 30 meter. Jadi, walaupun paus raksasa ini sudah lama mati, makhluk sejenisnya masih berkelana di laut.
Pengelolaan Museum Zoologi, termasuk pemeliharaan dan renovasi koleksi, kini berada di bawah naungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebelumnya, museum berada di bawah pengawasan LIPI. Perubahan ini menandai langkah baru dalam pelestarian sejarah biologi Indonesia.
Untuk para pengunjung, kawasan wisata edukatif ini sedang bersiap menghadirkan pameran baru. Pihak pengelola berencana menampilkan replika dinosaurus, termasuk T‑Rex animatronik yang dapat bergerak. Atraksi ini akan ditempatkan di area taman tersendiri, namun tetap berada di dalam kawasan Kebun Raya.
Jika Anda ingin menyaksikan perjalanan luar biasa seekor paus raksasa yang menempuh 44 hari dari Garut, rencanakan kunjungan ke Museum Zoologi Bogor. Di sana, Anda dapat belajar tentang sejarah laut, teknologi pengangkutan kolonial, dan bagaimana museum menjaga warisan alam Indonesia.
Dengan kerangka paus raksasa sebagai pusat perhatian, Museum Zoologi Bogoriense menjadi tempat yang tidak hanya menampilkan koleksi, tetapi juga cerita perjalanan panjang yang memadukan sejarah, ilmu pengetahuan, dan seni rekonstruksi. Pengunjung dapat merasakan betapa pentingnya pelestarian dan penyajian informasi yang akurat, sekaligus menikmati pameran yang menarik bagi semua kalangan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
10 Tempat Wisata di Tangerang, Akses KRL Mudah
5 Gunung Alternatif untuk Hindari Keramaian Bromo
10 Destinasi Wisata di Jakarta yang Mudah Dijangkau Naik KRL
Gua Donan Pangandaran Sepi, Tiket Gratis pun Tak Laku
7 Destinasi Dingin Jawa Tengah Selain Dieng
Pantai Lakban: Wisata dan Sejarah Tambang Belanda
