Nadhirah Langkat Sumatera Utara Mati di Mina Al Wadeed 29 Mei 2026
Gambar atau konten salah?
Nadhirah Binti Sirajuddin, seorang jemaah haji dari Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, meninggal di Tanah Suci pada 29 Mei 2026. Ia berusia 66 tahun dan dibawa ke Rumah Sakit Mina Al Wadeed setelah mengalami sesak napas.
Menurut Suci Ramadhani, Kasubbag Humas Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Sumatera Utara, "Beliau wafat di usia 66 tahun di Hari Jumat, 12 Zulhijjah 1447 Hijriah atau 29 Mei 2026 di Rumah Sakit Mina Al Wadeed," ia menambahkan. Keterangan lebih lanjut menunjukkan bahwa Nadhirah memiliki riwayat penyakit jantung.
Ia sempat merasakan sesak napas di tenda, lalu kondisi membaik. Namun, saat naik bus menuju Mina, tiba-tiba ia kehilangan kesadaran dan jantungnya berhenti. "Jadi beliau sempat sesak napas di tenda. Sudah sempat membaik. Lalu pas naik bus tiba-tiba penurunan kesadaran, henti jantung dan dibawa oleh dokter ke rumah sakit," jelas Suci.
Perlu dicatat bahwa ini bukan kejadian pertama. "Sampai saat ini 3 orang," ujar Suci, merujuk pada tiga jemaah haji Sumut yang telah meninggal: satu dari Medan, satu dari Kabupaten Mandailing Natal, dan Nadhirah dari Langkat.
Embarkasi Medan dimulai pada 22 April 2026 melalui Kloter 1 dan berakhir pada 11 Mei 2026 melalui Kloter 17. Dari total 5.972 jemaah dan petugas, 2.422 adalah laki‑laki dan 3.550 perempuan. Selain jemaah, 68 petugas haji juga ikut perjalanan, terdiri dari 17 orang Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI), 17 orang Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI), dan 34 orang Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI).
Setiap kloter membawa sekitar 358 hingga 360 jemaah dan petugas, kecuali Kloter 17 yang menjadi kloter terakhir dengan jumlah lebih sedikit, yakni 233 orang.
Meski tingkat keberhasilan pemberangkatan cukup tinggi, 18 orang tidak dapat diberangkatkan. Delapan jemaah mengalami penundaan karena sakit, sementara empat lainnya gagal berangkat sebelum masuk asrama akibat kondisi kesehatan dan faktor tertentu lainnya. Selain itu, ada enam kursi kosong di beberapa kloter karena kekosongan manifest penerbangan.
Faktor kesehatan tetap menjadi tantangan terbesar dalam penyelenggaraan haji. Mayoritas jemaah merupakan lanjut usia dan memiliki risiko kesehatan tertentu, "Faktor kesehatan masih menjadi tantangan terbesar dalam penyelenggaraan haji karena mayoritas jemaah merupakan lanjut usia dan memiliki risiko kesehatan tertentu," tambah Suci.
Peristiwa ini menyoroti pentingnya kesiapan medis dan penanganan kesehatan bagi jemaah haji, terutama di kalangan lansia. Kejadian ini juga mengingatkan pihak berwenang untuk terus memperkuat sistem monitoring kesehatan selama perjalanan haji.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gelombang Panas Belanda Tewaskan 900 Orang, Prancis Terbakar
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Tuduhan Eksploitasi Anak
Pelabuhan Roro Gunungsitoli Disiapkan Jadi Pusat Logistik Nias
Kerajaan Dukung Penuh Timnas Usai Kalah di Semifinal
Gempa M3,4 Guncang Pidie Jaya, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Sergai Bangun Mal Pelayanan Publik Rp6,2 Miliar Tahun Ini
