Nauru: Makanan Kaleng Dominasi Menu, Obesitas Tinggi
Gambar atau konten salah?
Nauru terletak di tengah Samudra Pasifik, antara kepulauan Hawaii dan Australia. Negara ini hanya seluas 21 kilometer persegi, menjadikannya salah satu negara kepulauan terkecil di dunia. Luasnya hanya sepersepuluh dari luas Kota Bekasi.
Para pengunjung sering menemukan lebih banyak makanan instan dan makanan cepat saji daripada hidangan tradisional. Lahan pertanian di Nauru sangat terbatas, dan kebanyakan tanaman kelapa yang ditanam. Akibatnya, hampir semua makanan pokok diimpor setiap enam minggu. Kaleng berisi mie, ikan, dan daging menjadi bagian penting dari diet harian, menggantikan makanan tradisional.
Makanan kaleng mulai populer sejak diperkenalkan oleh pasukan Jepang dan Amerika selama Perang Dunia II. Di toko-toko Nauru, tersedia beragam produk kaleng: ikan, daging, sereal sarapan, sosis, makanan beku, serta minuman kaleng termasuk kopi sachet. Salah satu makanan pokok yang sangat umum adalah daging kornet kaleng atau spam. Spam sering disajikan goreng dengan telur, dimasukkan ke dalam mie instan, atau menjadi bahan nasi goreng. Ketergantungan pada makanan impor ini berkontribusi pada tingkat obesitas yang tinggi di Nauru, salah satu yang tertinggi di dunia.
Mie instan produk Indonesia juga sangat populer di Nauru. Traveler biasanya menemukannya disajikan sebagai camilan, lauk, atau bahkan hidangan utama. Mie bisa dinikmati dengan telur goreng sederhana atau dicampur dengan daging kalengan. Bagian penting dari kehidupan sehari-hari, mie menjadi comfort food bagi penduduk.
Masakan tradisional Nauru lebih mengandalkan bahan lokal seperti ikan laut, kelapa, pisang, dan buah pandan. Hidangan tradisional dimasak di dalam lubang tanah menggunakan batu panas, teknik yang dikenal sebagai umu. Cara memasak ini umum di kawasan Pasifik dan biasanya dipakai pada festival budaya atau perayaan tradisional.
Hari Suroto, penulis yang bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara (ddn/ddn), mencatat semua detail ini. AFP mengirimkan foto makanan kaleng yang menunjukkan kehidupan sehari-hari di Nauru.
Secara keseluruhan, Nauru menunjukkan bagaimana negara kecil dengan sumber daya terbatas harus mengandalkan impor makanan. Meskipun makanan tradisional masih ada, makanan kaleng dan mie instan mendominasi pola makan, mempengaruhi kesehatan dan kebiasaan kuliner penduduk.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
10 Tempat Wisata di Tangerang, Akses KRL Mudah
5 Gunung Alternatif untuk Hindari Keramaian Bromo
10 Destinasi Wisata di Jakarta yang Mudah Dijangkau Naik KRL
Gua Donan Pangandaran Sepi, Tiket Gratis pun Tak Laku
7 Destinasi Dingin Jawa Tengah Selain Dieng
Pantai Lakban: Wisata dan Sejarah Tambang Belanda