Nyamuk Lebih Banyak Saat Kemarau: Penyebab & Pencegahan
Gambar atau konten salah?
Di kota Bandung, banyak yang mengira jumlah nyamuk akan berkurang saat musim kemarau karena genangan air lebih sedikit dibandingkan musim hujan. Namun kenyataannya, nyamuk justru sering terasa lebih banyak dan lebih agresif saat cuaca panas.
Fenomena ini berkaitan dengan kondisi lingkungan dan peningkatan suhu yang membuat nyamuk lebih cepat berkembang biak sekaligus lebih sering menggigit manusia. Wajar saja, nyamuk-nyamuk ini lahir prematur sehingga perlu banyak asupan 'makanan'.
1. Genangan air lebih stabil untuk tempat bertelur
Meskipun jumlah genangan air berkurang saat musim kemarau, air yang tergenang biasanya tidak mengalir dan cenderung tenang. Kondisi tersebut menjadi tempat ideal bagi nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak. Dr. Budi Haryanto, peneliti Perubahan Iklim dan Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia, mengatakan nyamuk menyukai genangan air yang tidak terganggu. “Nyamuk bersarang di genangan air yang tidak terganggu. Pada musim kemarau, meskipun genangan air lebih sedikit, tetapi air tidak mengalir, sehingga menciptakan lingkungan ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak lebih banyak,” ujarnya.
2. Sarang nyamuk tidak mudah hanyut
Berbeda dengan musim hujan, aliran air saat musim kemarau relatif minim. Karena itu, jika ada genangan air, genangan itu tenang tanpa tertimpa lagi air hujan atau terseret air mengalir. Akibatnya, telur dan larva nyamuk tidak mudah hanyut sehingga peluang bertahan hidup menjadi lebih tinggi. Kondisi ini membuat populasi nyamuk dapat meningkat dalam waktu singkat.
3. Suhu panas mempercepat siklus hidup nyamuk
Peningkatan suhu udara juga berpengaruh terhadap perkembang biakan nyamuk. Menurut Budi Haryanto, larva nyamuk yang biasanya membutuhkan waktu 12 hingga 14 hari untuk menjadi dewasa kini bisa berkembang hanya dalam sekitar sembilan hari. Semakin cepat nyamuk mencapai fase dewasa, semakin cepat pula mereka berkembang biak. Namun, karena lahir prematur inilah nyamuk menjadi lebih sering menggigit daripada mereka yang lahir dengan ukuran normal.
4. Nyamuk menjadi lebih sering menggigit
Suhu yang lebih tinggi membuat ukuran tubuh nyamuk cenderung lebih kecil. Akibatnya, nyamuk membutuhkan asupan darah lebih sering untuk memenuhi kebutuhan energinya. “Nyamuk yang dewasa prematur ini memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dan perut yang lebih kecil, sehingga mereka perlu makan lebih sering. Jika sebelumnya mereka menggigit setiap 5 hari, sekarang bisa setiap 3 hari,” kata Budi.
5. Gigitan nyamuk bisa meningkat hingga 2,5 kali lipat
Aktivitas nyamuk ternyata meningkat drastis saat suhu udara mencapai lebih dari 30 derajat Celsius. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menyebut frekuensi gigitan nyamuk dapat meningkat hingga 2,5 kali lipat dalam kondisi panas. “Nyamuk itu akan menggigit lebih sering, 2,5 kali lipat pada suhu 30 derajat ke atas, jadi dia akan lebih sering menggigit kalau suhunya tinggi,” ujar Imran.
6. Hujan sporadis menciptakan banyak tempat perkembangbiakan
Musim kemarau tidak selalu berarti tanpa hujan. Curah hujan yang turun secara tidak merata justru dapat menciptakan genangan air baru yang bertahan lama. Genangan tersebut menjadi lokasi ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak. Genangan baru, cahaya, dan suhu yang panas membuat nyamuk berkembang biak dengan cepat. Namun, pada jenis-jenis tertentu seperti Aedes aegypti, cahaya punya peranan kurang pas untuk perkembangbiakan mereka di genangan air. …yaitu pada daerah yang terkena cahaya lebih rendah bila dibandingkan dengan tempat yang tidak terkena cahaya, tulis studi itu.
Potensi sarang nyamuk di sekitar rumah
- Ember atau wadah bekas yang menampung air
- Ban bekas yang dibiarkan di luar ruangan
- Saluran air yang tidak lancar
- Pot bunga yang jarang dibersihkan
- Tempat penampungan air tanpa penutup
Genangan yang dibiarkan terlalu lama juga dapat menjadi habitat Aedes aegypti, vektor penyebab demam berdarah dengue (DBD).
Cara mencegah nyamuk berkembang biak saat musim kemarau
- Menguras tempat penampungan air – Bersihkan bak mandi, ember, dan tempat penyimpanan air secara berkala.
- Menutup wadah penyimpanan air – Pastikan semua tempat penampungan air tertutup rapat agar tidak menjadi lokasi bertelur nyamuk.
- Mengubur atau mendaur ulang barang bekas – Kaleng, botol, dan ban bekas yang dapat menampung air sebaiknya dibuang atau didaur ulang.
- Menggunakan larvasida – Larvasida dapat digunakan pada tempat yang sulit dikuras untuk mencegah perkembangan jentik nyamuk.
- Melindungi diri dari gigitan nyamuk – Mengenakan pakaian lengan panjang, menggunakan kelambu saat tidur, memakai lotion atau krim anti nyamuk, dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah.
Dengan memahami alasan mengapa nyamuk lebih banyak saat musim kemarau dan menerapkan langkah-langkah pencegahan di atas, masyarakat dapat mengurangi risiko terkena penyakit yang dibawa nyamuk. Kondisi panas dan genangan air yang tenang menjadi kombinasi yang memudahkan nyamuk berkembang biak, sehingga perhatian ekstra pada kebersihan lingkungan dan penanganan tempat penampungan air sangat penting di musim kemarau.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BBM Non-Subsidi Bandung Naik, Beban Kelas Menengah Tertambah
Gubernur Jawa Barat Maaf atas Kontroversi PCMB dan SPMB
Bandung Zoo Siap Operasi, Menunggu Izin Faunaland Kota
Tyo Nugros Dilarang Keluar, Konser Dewa 19 di Malaysia Gagal
Prabowo Tetap Pakai Pindad Maung Meski Kendala di Presiden
Ibu‑ibu Bandung Demo SPMB, Tuntut Proses Lebih Jelas
Berita Terbaru
Nasi Bakar Liwet Derajat Jadi Trend Ciledug Tangerang
Nasi Jaha Manado: Hidangan Khas dengan Aroma Smoky dan Pedas
Pindad Siapkan Mobil Nasional dengan TKDN Tinggi Indonesia
Yamaha Tawarkan MX King 150 Prima Pramac Terbatas Jakarta
Piala Dunia 2026!: Jadwal Lengkap, 48 Tim, 12 Grup
PU Tuntut Tambahan Rp121 Triliun 2027 agar proyek selesai
Baker Kembar Siap Bertarung di Semifinal AFF U-19 2026
Ojek Online: Potongan 20% Padahal Perpres Tetapkan 8% di Lapangan
