OJK Tegaskan Pasar Tak Terpengaruh Spekulasi Sell Indonesia

Sigit W. · 2 min baca · 2 hari lalu · 8 dibaca
Bisik.id
OJK Tegaskan Pasar Tak Terpengaruh Spekulasi Sell Indonesia

Gambar atau konten salah?

OJK mengeluarkan pernyataan resmi mengenai seruan Sell Indonesia yang muncul saat IHSG mengalami penurunan tajam. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan bahwa Indonesia memiliki dasar ekonomi yang kuat, sehingga pasar tidak perlu terpengaruh oleh spekulasi.

"Jadi kita harus lebih rasional lah untuk segala ajakan-ajakan seperti itu. Kita sayang lah sama Indonesia, kita cintai negara kita dengan melihat segala sesuatu dengan lebih jernih. Jadi salah satu bentuk kita mencintai negara kita sama-sama kita menjagalah situasi saat ini, jangan menambah dengan rumor-rumor yang tidak bertanggung jawab," jelas Kiki di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.

Kiki menyoroti bahwa banyak pihak yang mengajak jual instrumen investasi di Indonesia justru membeli instrumen tersebut. Ia menegaskan bahwa ajakan semacam itu tidak boleh diikuti tanpa pertimbangan. "Kalau ada ajakan-ajakan seperti itu jangan telan mentah-mentah, karena kita nggak tahu, ya, kadang-kadang orang sudah banyak loh misalnya sell, ternyata dia di belakang melakukan hal yang sebaliknya," terangnya.

Data perdagangan pada Senin, 8 Juni 2026 menunjukkan aksi net foreign sell mencapai Rp 447,05 miliar di pasar modal Indonesia. Jumlah ini memperpanjang total penjualan investor asing sepanjang tahun 2026 menjadi Rp 61,81 triliun.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menambahkan bahwa seruan Sell Indonesia belum tentu mencerminkan kondisi ekonomi nasional secara keseluruhan. Ia menyebutkan tulisan media internasional yang menyoroti seruan tersebut tidak sepenuhnya memahami situasi ekonomi Indonesia.

"Makanya kemarin sengaja saya percepat APBN KiTA, untuk melihatkan ke pasar bahwa kondisi fiskal kita baik, ekonominya juga cukup kuat, sehingga nanti lama-lama sentimen negatif itu bisa hilang," sebut Purbaya di Kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu, 6 Juni 2026.

Seruan Sell Indonesia menjadi tajuk utama dalam pemberitaan Bloomberg, yang menyoroti penurunan IHSG sebesar 36% sepanjang tahun 2026. Penurunan ini membuat pasar saham Indonesia menjadi salah satu yang terburuk di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau oleh Bloomberg.

Selain itu, rupiah melemah lebih dari 7%, dan investor asing menarik dana miliaran dolar AS dari pasar obligasi Indonesia. Perubahan drastis ini menyoroti ketidakpastian bagi negara yang kaya akan komoditas, yang selama ini menjadi tujuan utama investasi di pasar negara berkembang.

George Boubouras, Kepala Riset di K2 Asset Management, hedge fund yang mengelola dana sekitar US$ 4,3 miliar, menambahkan: "Perdagangan paling populer di Asia saat ini adalah 'jual Indonesia'."

Peristiwa ini menegaskan pentingnya pemahaman yang tepat tentang kondisi ekonomi domestik. OJK dan pihak berwenang berusaha menstabilkan pasar dengan menekankan data fiskal yang kuat dan menolak spekulasi yang tidak berdasar. Keputusan untuk mempercepat publikasi APBN KiTA menunjukkan upaya transparansi guna mengurangi sentimen negatif di kalangan investor. Dengan pemantauan yang cermat, pasar dapat kembali fokus pada fundamental ekonomi yang solid.

OJKseruan Sell IndonesiaIHSGspekulasiAPBN KiTAinvestor asingRupiahBloomberg

Komentar

Memuat komentar...