Okupansi Hotel Mewah Indonesia 64%, Bali Menjadi Fokus

Lia N. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 76 dibaca
Bisik.id
Okupansi Hotel Mewah Indonesia 64%, Bali Menjadi Fokus

Gambar atau konten salah?

Jesper Palmsqvuit, Wakil Presiden Regional Asia Pasifik di STR, menilai bahwa tingkat okupansi hotel mewah di Indonesia telah kembali seperti sebelum pandemi COVID‑19, namun dengan ketahanan yang lebih tinggi. Ia menyatakan bahwa kenaikan ini melampaui kinerja segmen hotel lainnya.

“Jadi ini merupakan sesuatu yang harus ditanggapi dengan sangat positif dan menjadikan proyeksinya pun untuk masa depan menjadi tinggi,” ujar Palmsqvuit. Ia menegaskan bahwa minat wisatawan domestik terhadap destinasi mewah terus berkembang.

Data STR menunjukkan bahwa okupansi hotel mewah di Indonesia selama 12 bulan hingga Maret 2026 sudah mencapai 64 persen, setara dengan capaian pra‑pandemi. Angka ini lebih tinggi dibandingkan segmen hotel lain yang masih di bawah level pra‑pandemi, sekitar 59 persen.

Selain itu, tarif kamar hotel di Indonesia naik lebih dari 40 persen dibandingkan tahun 2019, menandakan peningkatan nilai ekonomi di sektor ini.

Di wilayah Bali, pertumbuhan sektor wisata mewah menunjukkan hasil yang kuat. Menurut riset C9 Hotelworks, Bali menyumbang sekitar 25 persen nilai pasar properti hunian mewah (branded residence) di Indonesia.

Di daerah wisata seperti Canggu, Berawa, Uluwatu, Seminyak, dan Sanur, terdapat lebih dari 70 proyek pengembangan aktif yang berfokus pada hunian mewah.

Edward Kusma, Direktur Harmoni Bali, menyoroti perlunya pemerintah mengatasi masalah pembuangan sampah dan akses air bersih di Bali Selatan. Ia menyarankan pembangunan infrastruktur yang matang agar layanan hotel terintegrasi dengan properti hunian mewah dapat berkembang maksimal. Kusma juga menambahkan potensi fasilitas lain, seperti sekolah dan rumah sakit internasional, yang dapat memperpanjang durasi tinggal wisatawan di Bali.

Matt Gebbie, Direktur Pacific Asia di Horwath HTL, menekankan bahwa pertumbuhan wisata mewah tidak hanya soal jumlah pengunjung, tetapi juga perubahan pola permintaan pasar. Ia berkata, “Untuk dapat membuka lebih banyak lokasi pariwisata di Indonesia, pertama‑tama, kita membutuhkan akses. Mudah bagi wisatawan mewah untuk datang ke sana, karena lebih mudah untuk membantu lebih banyak orang datang, dan pada akhirnya, akan memberikan apa yang kita inginkan, yaitu tingkat hunian yang lebih tinggi untuk destinasi di sana.”

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa sektor hotel mewah di Indonesia sedang mengalami pemulihan yang kuat, didorong oleh peningkatan okupansi, tarif kamar, dan investasi properti hunian mewah, terutama di Bali. Perbaikan infrastruktur dan kebijakan yang mendukung akan menjadi kunci untuk mempertahankan momentum positif ini.

hotel mewahokupansitarif kamarBaliinfrastrukturwisata mewahSTR

Komentar

Memuat komentar...