Otak Tetap Respon Makanan Meski Penuh, Penelitian 2026
Gambar atau konten salah?
01 Mei 2024 – Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal *Appetite* pada 01 Maret 2026 menunjukkan bahwa otak tetap menanggapi makanan meski seseorang sudah merasa kenyang.
Penelitian ini melibatkan 76 orang yang sedang lapar. Para partisipan dipantau menggunakan pemindaian otak electroencephalogram (EEG) sambil bermain permainan yang menawarkan hadiah berupa berbagai makanan manis dan gurih, seperti keripik keju, marshmallow, fruit cocktail, dan rice cakes.
Di tengah eksperimen, setiap peserta diberi satu jenis makanan tersebut dan diminta untuk memakannya sampai merasa kenyang. Setelah itu, mereka kembali melihat gambar makanan yang sebelumnya sudah tidak lagi diinginkan. Hasilnya, area otak yang terkait dengan sistem reward tetap aktif.
“Tidak peduli seberapa bosan Anda dengan makanan tersebut, otak akan merespons dengan sinyal penghargaan saat Anda melihat isyaratnya,” ujar Thomas Sambrook, penulis utama studi sekaligus dosen psikologi di University of East Anglia, Inggris.
Jessica Higgins, seorang ahli gizi terdaftar di Program Kedokteran Gaya Hidup di NYC Health + Hospitals/Woodhull, menambahkan bahwa penelitian ini memperkuat temuan sebelumnya bahwa keinginan ngemil tidak berkaitan dengan rasa lapar, melainkan dipengaruhi oleh lingkungan, emosi, orang di sekitar, dan iklan makanan.
“Otak sangat sensitif terhadap gambar makanan,” kata Higgins kepada media.
Walaupun respons otak terhadap makanan sulit dikendalikan, para ahli menegaskan bahwa kebiasaan ngemil tidak sepenuhnya di luar kendali. Juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics, Theresa Gentile, mengatakan seseorang tetap dapat mengontrol keinginan tersebut dengan membangun pola makan sehat.
Higgins menyarankan agar orang mengenali pemicu keinginan ngemil, seperti iklan makanan, stres, atau tekanan sosial. Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan pilihan makanan, pola makan harian, dan sinyal lapar maupun kenyang dari tubuh.
Ngemil tidak selalu negatif. Konsumsi camilan sehat dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi di sela waktu makan. Namun, banyak orang memilih junk food tinggi gula dan lemak yang bersifat “hyperpalatable” atau membuat orang sulit berhenti makan.
Berikut beberapa pilihan snack sehat yang direkomendasikan Higgins:
- buah dan kacang-kacangan
- popcorn
- edamame
- sayuran dengan hummus
- roti gandum dengan selai kacang
Penelitian ini menegaskan bahwa meski otak terus menanggapi gambar makanan, keputusan akhir untuk memakannya masih dapat diatur melalui kebiasaan dan pemahaman diri.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
