Pasar Saham Asia Turun, Minyak Naik, Bank Sentral Kenaikan
Gambar atau konten salah?
Pasar saham di kawasan Asia turun secara bersamaan pada hari Senin, 30 Maret 2026, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang sudah memasuki minggu kelima.
Di Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencapai level terendah, 6.945,50. Namun, indeks tersebut menyesuaikan koreksinya dan masih melemah 0,58% pada level 7.055,89.
Menurut laporan CNBC, Kospi di Korea Selatan jatuh lebih dari 5% di awal perdagangan hari ini, sementara Kosdaq turun 3,97%.
Di Jepang, Nikkei 225 melemah 3,97% pada sesi awal, dan Topix turun 3,9% pada waktu yang sama.
Di Australia, S&P/ASX 200 turun 1,46%; di Hong Kong, Hang Seng menurun 1,52%; dan di China, CSI 300 turun 0,77%.
Penurunan indeks saham Asia disebabkan oleh keterlibatan Houthi Yaman dalam serangan ke Israel pada hari Sabtu, 28 Maret 2026. Juru bicara Houthi, Yahya Saree, mengaku telah meluncurkan rentetan rudal balistik ke sejumlah situs militer Israel. Serangan tersebut menjadi bentuk dukungan Yaman terhadap Iran dan pasukan Hizbullah di Lebanon, menandai peningkatan eskalasi konflik di Timur Tengah yang berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Setelah serangan tersebut, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 2,58% menjadi US$ 102,19 per barel pada jam perdagangan awal Asia.
Perubahan harga minyak memaksa beberapa negara mengubah kebijakan moneternya. Bank Sentral Jepang (BOJ) akan membahas kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut pada pertemuan Maret, karena tekanan inflasi yang meningkat. Salah satu anggota BOJ memberi sinyal perlunya pengetatan moneter.
Di Australia, pemerintah berencana memangkas separuh pajak BBM selama tiga bulan untuk meringankan biaya akibat konflik di Timur Tengah. Pengurangan pajak ini diperkirakan menurunkan harga bensin di SPBU sebesar 26,3 sen Australia per liter (18 sen).
Pergerakan pasar saham Asia yang menurun dan lonjakan harga minyak menunjukkan dampak langsung dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kebijakan moneter dan fiskal di beberapa negara diharapkan menyesuaikan diri untuk menstabilkan ekonomi domestik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
