Pekerja Filipina Jalan Kaki ke Kantor, Krisis Bahan Bakar
Gambar atau konten salah?
Di Filipina, banyak pekerja kini harus berjalan kaki menuju kantor mereka. Krisis bahan bakar yang dipicu konflik di Timur Tengah membuat kendaraan tidak dapat beroperasi seperti biasa.
Seorang pengguna media sosial X menulis: "BREAKING: Akibat kelangkaan gas, orang-orang kini berjalan kaki ke tempat kerja di Filipina," sambil membagikan video warga yang melintas di jalan raya tanpa kendaraan melintas. Video itu menunjukkan kerumunan orang berjalan di tengah jalan, menandai perubahan drastis dalam mobilitas harian.
Menurut laporan Al Jazeera, krisis energi yang tengah melanda Filipina kini mengurangi kemacetan lalu lintas secara signifikan, terutama di ibu kota Manila. Jalan-jalan yang biasanya padat kini menjadi sepi, memengaruhi waktu tempuh perjalanan.
Contohnya, perjalanan dari Bandara Manila ke Balai Kota Quezon City, yang berjarak 26 km, biasanya memakan waktu dua jam. Kini, karena kurangnya kendaraan, perjalanan tersebut hanya memerlukan 45 menit. Perubahan ini menandai penurunan drastis dalam penggunaan mobil pribadi, bus, jeepney, dan ojek online.
Di sisi lain, penggunaan kereta api di Manila meningkat tajam. Selama jam sibuk, stasiun menjadi padat karena banyak pekerja memilih kereta sebagai alternatif. Peningkatan ini terjadi karena kendaraan pribadi semakin sedikit beroperasi di jalan.
Filipina sangat mengandalkan impor minyak. Namun, sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer gabungan terhadap Iran, harga bahan bakar negara tetangga Indonesia melonjak tajam. Hal ini memperparah krisis energi di Filipina.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. berusaha menanggapi situasi dengan menetapkan deklarasi darurat energi nasional selama setahun pada 25 Maret 2026. Langkah ini bertujuan mengendalikan distribusi bahan bakar dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Namun, krisis energi ini menimbulkan kekhawatiran akan kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan potensi pemutusan hubungan kerja massal bagi ribuan pekerja. Kondisi ini dapat menyebabkan perekonomian stagnan.
Prakiraan sebelum konflik Iran dimulai menyebutkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Filipina sebesar 5%. Saat ini, prospek pertumbuhan tersebut menjadi semakin tidak mungkin.
Situasi ini menyoroti betapa rapuhnya ketergantungan pada energi impor dan bagaimana konflik global dapat berdampak langsung pada mobilitas dan ekonomi lokal. Pekerja di Filipina kini harus menyesuaikan diri dengan kondisi jalan yang lebih sepi, sementara pemerintah berusaha menstabilkan pasokan bahan bakar dalam jangka panjang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Harga Emas Antam Medan Naik Rp 17.000 per Gram
Lafadz Azan, Ikamah, dan Doa Setelahnya Lengkap
Slow Jogging Tren Olahraga Baru, Aman untuk Sendi
Urine Jernih Tak Selalu Sehat, Bisa Tanda Gangguan Ginjal
Tips Ampuh Jaga Warna Cat Dinding Luar Rumah Tetap Awet
Doa Hilangkan Pikiran Kotor, Lengkap Arab & Latin
Berita Terbaru
Wabup Sukoharjo Buka Suara soal OTT Bupati Etik
Tanggul Lumpur Lapindo Bocor, Lumpur Dekati Rel Kereta
Dokter Norwegia Bantah Rumor Wabah Jelang Lawan Inggris
BYD Rilis Harga Terbaru 7 Model di Indonesia, Mulai Rp 199 Juta
Inggris Cari Cara Hentikan Haaland di Perempatfinal Piala Dunia
Zarco Dihukum Double Long Lap, Absen Tiga Seri
Tecno Buka Preorder Pova 8 5G, Baterai 8.000 mAh
Saham RANS Langsung Tembus ARA di Hari Pertama IPO