Pemerintah Indonesia WFH Setiap Jumat Hemat Energi

Sari D. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 97 dibaca
Bisik.id
Pemerintah Indonesia WFH Setiap Jumat Hemat Energi

Gambar atau konten salah?

Di Indonesia, pemerintah menegaskan kebijakan Work From Home (WFH) bagi ASN setiap hari Jumat sebagai upaya penghematan energi dan penyesuaian budaya kerja. Kebijakan ini juga sudah dilaksanakan pada tingkat pemerintah daerah. Di Jawa Timur, Pemprov Jatim memilih hari Rabu untuk WFH, bukan Jumat, sebagai strategi pengurangan konsumsi energi.

"Kita sama-sama tahu, negara lain sudah menaikkan BBM, tapi Indonesia tidak. Ini bentuk langkah cerdas dan aspiratif Bapak Presiden Prabowo yang sangat soft policy dengan memilih memberlakukan kebijakan Work From Home (WFH) untuk menekan konsumsi energi daripada menaikkan BBM guna menjaga daya beli masyarakat. Dengan begitu, upaya penghematan mencegah defisit ketersediaan, bisa dilakukan secara efektif,"

Lia mengungkapkan hal tersebut pada Selasa, 14 April 2026.

"Namun, skema WFH tentunya tidak mengganggu pelayanan public maupun ritme kerja instansi yang seharusnya berbasis deadline. Maka dari itu, hari di mana diberlakukan WFH, seharusnya instansi manapun tetap beroperasional meski tidak sepenuhnya, dengan menerapkan pola kerja shifting untuk unit tertentu dan sifatnya tentu situasional,"

Lia Istifhama menerima penghargaan sebagai Anugerah Figur Akselerator Kemajuan dalam Awards 2025, yang diberikan atas dedikasinya memperjuangkan perlindungan sosial dan jaminan kebutuhan dasar bagi masyarakat.

Lia, yang dikenal dengan sapaan Ning Lia, berasal dari keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki pengaruh kuat di Jawa Timur. Ayahnya, KH. Maskur Hasyim, adalah tokoh NU Jawa Timur dan pernah menjabat sebagai Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di provinsi tersebut. Ibu beliau, Khofifah Indar Parawansa, menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur periode 2019 hingga 2030 dan sekaligus Ketua Umum PP Muslimat NU.

Lahir dan besar di Kota Surabaya, Lia menempuh pendidikan formal mulai dari TK Muslimat Wonocolo Surabaya, SD Taquma Surabaya, SMP Negeri 13 Surabaya, hingga SMA Negeri 16 Surabaya. Selama masa SMA, ia juga belajar sebagai santri di Pondok Pesantren Al-Haqiqi Surabaya, memperkuat dasar keagamaan dan nilai spiritualnya.

Setelah lulus SMA, pada 2002 ia melanjutkan studi di tiga universitas sekaligus: Universitas Airlangga, IAIN Sunan Ampel (sekarang UIN Sunan Ampel), dan STAI Taruna. Dari ketiga institusi tersebut, ia memperoleh gelar Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos.), Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I.), dan Sarjana Hukum Islam (S.H.I.). Ia kemudian melanjutkan pendidikan profesi (Akta IV) dan studi pascasarjana di UIN Sunan Ampel dengan konsentrasi Ekonomi Islam, meraih Magister Ekonomi Islam (M.E.I.) pada 2013 dan doktor pada 2020.

Sejak masa mahasiswa, Lia aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang menjadi titik awal keterlibatannya dalam gerakan sosial. Ia juga terlibat di Fatayat NU, mulai dari tingkat daerah hingga dipercaya menduduki posisi strategis di tingkat provinsi, dan kini menjabat sebagai Wakil Ketua Fatayat NU Jawa Timur periode 2024 hingga 2029.

Di organisasi NU lainnya, ia menjabat sebagai wakil ketua PW LAZISNU dan PW LTNU Jawa Timur. Ia juga berkiprah dalam organisasi sosial dan pemberdayaan masyarakat, antara lain sebagai Ketua DPD Perempuan Tani HKTI Jawa Timur periode 2019 hingga 2025, Sekretaris MUI Jawa Timur sejak 2020, Wakil Ketua PW Fatayat NU Jawa Timur, Pengurus PP Muslimat NU, dan Bendahara Umum PB IKA PMII.

Di dunia politik, Lia mencatat prestasi signifikan dengan terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia pada Pemilu 2024 mewakili Provinsi Jawa Timur dengan perolehan 2.739.123 suara, menjadikannya senator perempuan non-petahana dengan suara tertinggi di Indonesia. Ia kemudian ditetapkan sebagai anggota Komite III DPD RI pada 13 Maret 2024, yang membidangi isu-isu strategis seperti pendidikan, agama, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.

Di mata publik, Lia dikenal sebagai sosok religius, rendah hati, dan dekat dengan masyarakat. Ia memiliki citra pemimpin perempuan inklusif dan berorientasi pada pemberdayaan serta keberlangsungan demokrasi melalui pendekatan politik humanis, terutama bagi generasi Z. Survei dari lembaga ARCI menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja anggota DPD RI meningkat, dengan Lia dinilai sebagai salah satu figur paling menonjol di Jawa Timur. Tingkat pengenalan masyarakat terhadapnya mencapai sekitar 72,4 persen, sedangkan tingkat kesukaan publik sekitar 71,7 persen.

Keberhasilan Lia dalam berbagai bidang—dari pendidikan, aktivisme, hingga politik—menunjukkan komitmennya pada nilai spiritual, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Ia terus memajukan agenda perempuan di sektor pertanian, lingkungan, dan kebijakan publik, sekaligus memperkuat hubungan antara lembaga keagamaan dan pemerintahan.

Penggunaan kebijakan Work From Home (WFH) di Indonesia, yang dimulai pada tingkat nasional dan disesuaikan di daerah, mencerminkan upaya pemerintah untuk menekan konsumsi energi tanpa menurunkan daya beli masyarakat. Dalam konteks ini, pernyataan Lia Istifhama menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak mengganggu pelayanan publik, melainkan menyesuaikan ritme kerja melalui pola shifting. Dengan latar belakang akademis, aktivisme, dan pengalaman politiknya, Lia menjadi contoh pemimpin yang mampu menggabungkan nilai spiritual, kepedulian sosial, dan kebijakan pragmatis dalam upaya pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Work From HomePenghematan energiLia IstifhamaPemprov JatimNU Jawa TimurDPD RIKebijakan publikPemberdayaan perempuan

Komentar

Memuat komentar...