Pendaki Terjatuh di Gunung Semeru, Evakuasi Sempat Lama
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Seorang pendaki dilaporkan terjatuh di lereng Gunung Semeru saat jalur pendakian ditutup. Ia mengalami patah kaki dan operasi penyelamatan segera dilakukan oleh tim gabungan untuk mengevakuasi korban.
Korban masuk lewat jalur tidak resmi bersama dua rekannya, meski jalur tersebut sudah ditutup total karena aktivitas vulkanik. “Hingga saat ini pendakian menuju puncak Gunung Semeru masih ditutup sehubungan dengan aktivitas vulkanologi Gunung Semeru dan pertimbangan keselamatan pengunjung,” kata Kepala BB TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha, 3 Juni 2026.
Rudijanta menegaskan bahwa kejadian bermula pada 30 Mei, ketika tiga pendaki dari Semarang, Pasuruan, dan Malang nekat mendaki Gunung Semeru secara sembunyi‑sembunyi melalui jalur Candi Jawar Purbakala di wilayah Ampelgading, Kabupaten Malang. Jalur tersebut merupakan akses buntu.
“Itu pendakiannya ilegal dan tidak tercatat dalam sistem kami,” kata Rudijanta, menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak diizinkan.
Petaka terjadi pada 1 Juni sekitar pukul 10.00 WIB. Korban terjatuh, namun di lokasi masih ditemukan sinyal handphone yang mengabarkan terjatuh di lereng gunung dan membutuhkan pertolongan darurat. Sebelum komunikasi terputus, korban sempat mengirimkan titik koordinat lokasi terakhirnya.
Informasi tersebut langsung direspons oleh keluarga korban, yang segera berkoordinasi dengan Koramil Tirtoyudo dan Koramil Ampelgading. Pada malam hari, ayah korban bersama warga setempat memulai pencarian awal menembus medan terjal selama delapan jam perjalanan kaki.
Korban akhirnya berhasil ditemukan pada 2 Juni pagi. Namun, medan yang curam dan minim akses membuat proses evakuasi berjalan dramatis dan memakan waktu lama. Tim tambahan dari berbagai desa sekitar serta tim gabungan BB TNBTS, Basarnas, dan relawan terus dikerahkan sejak 3 Juni 2026, dini hari.
Untuk membawa korban turun, mereka menggunakan posko evakuasi sementara di rumah warga. TNBTS lalu mengimbau kepada masyarakat agar tidak lagi mencoba menyusup ke kawasan Semeru selama masa penutupan berlaku. Selain melanggar hukum, tindakan spekulatif seperti ini sangat membahayakan nyawa dan menyulitkan tim SAR jika terjadi kondisi darurat di atas gunung.
“Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa gunung bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk dipelajari dan dihormati. Keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas di alam bebas,” kata Rudijanta.
Insiden ini menegaskan pentingnya mematuhi peraturan penutupan jalur, menghormati kekuatan alam, dan menempatkan keselamatan di atas keinginan pribadi. Dengan demikian, risiko kecelakaan dapat diminimalkan dan upaya penyelamatan dapat berjalan lebih efektif.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
