Penghasilan Pemandu Wisata Lumpur Lapindo Turun drastis
Gambar atau konten salah?
Sidoarjo – Dua dekade sejak semburan lumpur Lapindo muncul pada 29 Mei 2006, kehidupan warga di Kecamatan Porong, Tanggulangin dan Jabon berubah total. Rumah, harta benda, dan mata pencaharian hilang. Banyak yang terpaksa mencari cara baru untuk bertahan.
Beberapa korban akhirnya menjadi pemandu wisata di kawasan Lumpur Lapindo. Namun, setelah 20 tahun berlalu, penghasilan mereka menurun drastis. Ula Muanisa, seorang pemandu wisata berusia 42 tahun, mengungkapkan perubahannya.
“Kalau dulu ramai sekali. Penghasilan bisa Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu sehari. Sekarang rata‑rata cuma di bawah Rp 50 ribu, bahkan sering tidak dapat sama sekali,” kata Ula kepada detikJatim pada 26 Mei 2026. Ia menambahkan bahwa kunjungan wisatawan kini tidak menentu. “Dalam satu minggu terkadang hanya satu kali mendapat tamu untuk dipandu berkeliling lokasi semburan lumpur.”
“Bahkan sekarang banyak pengunjung turun sendiri secara gratis, jadi kami tidak dapat penghasilan,” ujarnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari‑hari, Ula terpaksa mencari pekerjaan tambahan di luar lokasi wisata lumpur. “Kadang harus cari tambahan jadi tukang ojek supaya kebutuhan rumah tangga tetap jalan,” tambahnya.
Hal yang sama dikemukakan Mustofa, sesama pemandu wisata di kawasan Lumpur Lapindo. Ia menilai penurunan penghasilan mulai terasa sejak pandemi COVID‑19 dan belum kembali normal. “Memang benar penghasilan teman‑teman pemandu wisata dan tukang ojek turun drastis. Tidak seperti masa awal lumpur dulu yang sangat ramai,” kata Mustofa.
Menurutnya, pada hari biasa pendapatan warga hanya berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per hari. “Hari biasa sering tidak dapat apa‑apa. Kalau Sabtu atau hari libur kadang agak ramai, tapi tetap tidak menentu,” jelasnya. Mustofa menambahkan bahwa meski sesekali ada rombongan tamu dari Surabaya, belum tentu seluruh pengunjung menggunakan jasa pemandu wisata atau ojek warga sekitar. “Kalau ada rombongan memang pengunjung bertambah, tapi belum tentu mereka mau naik ojek atau pakai jasa pemandu,” ujarnya.
Sementara itu, Sastro, warga Desa Jatirejo RT 10 RW 1, berharap pemerintah daerah ikut membantu mempromosikan wisata Lumpur Lapindo agar ekonomi warga sekitar kembali bergerak. “Dulu banyak warga korban lumpur yang tidak punya pekerjaan lalu beralih jadi pemandu wisata untuk bertahan hidup. Tapi sekarang penghasilannya sudah sulit diandalkan,” kata Sastro.
Ia berharap wisata Lumpur Lapindo bisa kembali dikenal luas sehingga jumlah pengunjung meningkat dan pendapatan warga kembali membaik. “Kami berharap pemerintah daerah ikut mempromosikan pariwisata di Sidoarjo, khususnya wisata Lumpur Lapindo. Supaya wisatawan ramai lagi dan ekonomi warga bisa bangkit kembali,” tandasnya.
Perubahan ini menyoroti betapa lama dampak bencana alam dapat memengaruhi mata pencaharian masyarakat. Meskipun sudah dua dekade berlalu, banyak warga masih bergantung pada sumber pendapatan yang tidak stabil. Keterbatasan kunjungan wisatawan dan penurunan tarif menjadi faktor utama menurunnya penghasilan pemandu wisata. Pemerintah daerah diharapkan dapat mengambil langkah konkret untuk mempromosikan kembali kawasan ini, sehingga warga dapat kembali memiliki peluang ekonomi yang lebih baik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
