Penurunan Tanah Lapindo: DCM Diperkuat 1,5 km Tanggul Utara

Ani R. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 94 dibaca
Bisik.id
Penurunan Tanah Lapindo: DCM Diperkuat 1,5 km Tanggul Utara

Gambar atau konten salah?

Penurunan tanah di kawasan lumpur Lapindo, Sidoarjo, masih berlangsung selama dua dekade terakhir. Puncak penurunan, bahkan, tercatat di sisi utara tanggul Lapindo pada periode 2021‑2022.

Kepala Bidang Perencanaan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), Zulyana Tandju, menjelaskan berbagai upaya yang telah dilaksanakan untuk menanggapi dampak penurunan tanah tersebut.

“Untuk tanggul yang mengalami penurunan tanah, PPLS melakukan upaya perkuatan daya dukung tanah melalui kegiatan fisik berupa pemasangan Deep Cement Mixing (DCM) yang telah dilakukan pada tanggul sisi utara sepanjang 1,5 kilometer pada tahun 2023‑2024,” kata Zulyana pada 01 Juni 2026.

Ia menambahkan bahwa penurunan tanah di kawasan lumpur Lapindo merupakan kondisi yang sulit dikendalikan. Hal itu disebabkan oleh kondisi geologi yang kompleks di wilayah tersebut.

“Penurunan tanah yang terjadi di kawasan lumpur Sidoarjo sangat sulit dikendalikan dikarenakan kondisi geologi yang kompleks pada kawasan lumpur Sidoarjo,” jelasnya.

Menurut Zulyana, penurunan tanah di kawasan lumpur Lapindo dipengaruhi oleh sejumlah faktor geologi. Salah satunya adalah keberadaan sesar aktif yang melintasi wilayah Sidoarjo.

“Penurunan tanggul dipengaruhi oleh kondisi geologi yang kompleks pada kawasan lumpur Sidoarjo, di antaranya adanya pengaruh sesar aktif. Selain itu, wilayah Sidoarjo diketahui merupakan daerah endapan sedimen,” tambahnya.

Ia juga menegaskan bahwa pondasi tanggul lumpur Sidoarjo memiliki daya dukung tanah yang rendah.

“Selain itu juga, pondasi tanggul lumpur Sidoarjo memiliki daya dukung tanah yang rendah,” tambahnya.

Zulyana menegaskan bahwa fenomena penurunan tanah memang masih terjadi di kawasan lumpur Lapindo. Berdasarkan hasil pemantauan, tingkat penurunan tanah yang terjadi di sepanjang tanggul bervariasi.

“Berdasarkan data primer dan sekunder terhadap tanggul lumpur Sidoarjo, sepanjang 11 kilometer terjadi penurunan yang variatif,” kata Zulyana.

Ia menyebut penurunan terbesar tercatat terjadi di tanggul sisi utara.

“Di mana penurunan terbesar terjadi di tanggul sisi utara dengan penurunan sebesar 0,4 meter yang tercatat pada tahun 2021‑2022,” tandasnya.

Penurunan tanah ini menandai tantangan berkelanjutan bagi pengelola wilayah. Penerapan DCM di sepanjang 1,5 kilometer tanggul utara merupakan salah satu langkah konkret. Namun, kompleksitas geologi, termasuk sesar aktif dan endapan sedimen, tetap menjadi faktor utama yang mempersulit upaya stabilisasi. Kegiatan pemantauan dan perkuatan terus berlangsung, menandai komitmen pemerintah daerah untuk mengurangi dampak penurunan tanah di Lapindo.

penurunan tanahLapindotanggulDeep Cement Mixingsesar aktifendapan sedimengeologi kompleks

Komentar

Memuat komentar...