Perawat 22 Tahun Pingsan, Stroke Berbentuk AVM, Penuh Harapan

Wahyu T. · 3 min baca · 4 bulan lalu · 85 dibaca
Bisik.id
Perawat 22 Tahun Pingsan, Stroke Berbentuk AVM, Penuh Harapan

Gambar atau konten salah?

Stroke, penyakit yang dulu dianggap hanya menimpa lansia, kini membayangi usia muda.

Le Thi Linh, seorang perawat berusia 22 tahun di Hanoi, Vietnam, mengalami pingsan di jam istirahat makan siang pada 06 Januari 2025. Saat itu, ia merasakan pusing hebat dan bertindak cepat, menaruh ponselnya di saku jas putih. Tidak lama kemudian, tubuhnya mulai kejang, dan ia masuk dalam keadaan koma di rumah sakit tempatnya bekerja.

Hasil pemindaian menunjukkan malformasi arteriovenosa cerebral (AVM) yang tersembunyi di otaknya. Kelompok pembuluh darah abnormal tersebut pecah, menumpuk darah di otak dan meningkatkan tekanan di dalam tengkorak. Dokter segera menyalakan operasi darurat, mengangkat gumpalan darah besar dan membuka sebagian tengkorak guna mengurangi tekanan. Tulang tengkorak yang diangkat disimpan dalam freezer, menandai awal perjuangan panjang Linh.

Proses pemulihan berlangsung hampir lima bulan, memaksa Linh berpindah-pindah rumah sakit — dari Hanoi ke kampung halamannya di Provinsi Thanh Hoa. Selama masa ini, infeksi dan demam tinggi muncul bergantian. Pada 08 Mei 2025, ia menjalani operasi lanjutan untuk memasang kembali bagian tengkorak yang sebelumnya diangkat.

Sebelum stroke, Linh mengaku menjalani kehidupan yang tampak normal bagi banyak remaja. Ia sering begadang, mandi malam, dan makan tidak teratur. Meski ia memasak untuk makan siang, makan malam sering kali tergantung pada apa yang ada setelah kerja paruh waktu, dari siang sampai larut malam. Keluarganya tidak memiliki riwayat penyakit serius. Ia juga tetap menjaga pola makan ringan, menghindari makanan berlemak, dan berjalan kaki bila ada waktu. Namun, stres dan keyakinan bahwa usia muda membuatnya tak terbatas membuatnya mengabaikan sinyal tubuh.

“Saya pikir stres tidak dapat dihindari. Semua orang stres, baik saat belajar maupun bekerja, jadi saya tidak terlalu memikirkannya,” ujar Linh.

Selama 14 hari di unit perawatan intensif, Linh terbaring dikelilingi mesin dan selang infus. Setelah operasi, tantangan terberat datang: rehabilitasi. Ia harus belajar ulang fungsi dasar, seperti bernapas, makan, berbicara, berjalan, hingga mengenal angka dan huruf. Hingga kini, ia masih menjalani terapi. Menurut data medis, hanya sekitar 25–30 persen pasien stroke yang dapat kembali berjalan dan merawat diri secara mandiri; sisanya hidup dengan ketergantungan tertentu. Linh termasuk dalam kelompok mayoritas yang harus mempelajari kembali kemampuan naluriah seperti menelan dan berbicara.

Kehilangan kemandirian dan identitas sosial di usia muda menjadi pukulan berat. Linh sempat terpuruk, merasakan dirinya menjadi beban bagi keluarga. “Ini menyakitkan. Di usia 22 tahun, usia terindah, aku berakhir seperti ini. Ada hari-hari di mana aku tidak bisa menerima apa yang telah terjadi dan hanya bisa menangis,” ungkapnya.

Setelah stroke, Linh menegaskan perubahan besar dalam hidupnya. Ia menghapus kebiasaan tidak sehat, berkomitmen pada rehabilitasi harian, dan belajar mendengarkan tubuhnya lebih seksama. Ia juga menilai ulang hubungan sosialnya, menyadari siapa yang benar-benar hadir di masa krisis.

Stroke tidak pandang bulu, dan kesehatan bukan hal yang permanen. Menurut Linh, jangan mengejar tenggat waktu atau kesenangan terlalu keras sehingga mengabaikan seruan tubuh untuk meminta bantuan. Pekerjaan bisa diganti, sementara nyawa tidak.

Ringkasan: Stroke pada usia 22 tahun menempatkan Le Thi Linh dalam kondisi kritis setelah AVM pecah. Ia menjalani operasi darurat dan rehabilitasi panjang, belajar kembali fungsi dasar dan menyesuaikan gaya hidup. Keluarganya tetap mendukung, sementara Linh menegaskan pentingnya mendengarkan sinyal tubuh dan menghindari stres berlebihan.

Stroke pada usia mudaMalformasi arteriovenosa cerebralRehabilitasi pasca strokeKebiasaan hidup tidak sehatStres kerjaPengalaman perawatPenyintas stroke

Komentar

Memuat komentar...