Perbedaan Grade Telur Indonesia dan AS: Visual & Gizi

Cahyo S. · 2 min baca · 1 jam lalu · 29 dibaca
Bisik.id
Perbedaan Grade Telur Indonesia dan AS: Visual & Gizi

Gambar atau konten salah?

Di supermarket, label Grade A pada kemasan telur seringkali menjadi patokan bagi konsumen. Namun, tidak sedikit juga yang menemukan telur Grade B di rak. Perbedaan antara keduanya terletak pada standar penilaian yang digunakan.

Di Indonesia, telur dinilai berdasarkan berat, kualitas fisik, dan kebersihannya. Telur dipasarkan dalam tiga mutu: Grade AA atau mutu 1, Grade B atau mutu 2, dan Grade C atau mutu 3. Setiap mutu memiliki kriteria visual yang berbeda, meski semua telur masih layak dikonsumsi.

Di Amerika Serikat, sistem penilaian berbeda. Telur diklasifikasikan sebagai Grade AA, Grade A, dan Grade B. Penilaian ini dilakukan oleh inspektur dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) dan didasarkan pada kondisi fisik telur, bukan kandungan gizinya. Sebagai contoh, Reader's Digest mengutip penilaian ini pada 08 April 2023, menegaskan bahwa grading hanya berkaitan dengan tampilan.

Telur Grade B adalah kategori dengan kualitas visual paling rendah dibandingkan Grade AA dan Grade A. Ciri utamanya adalah putih telur yang lebih encer dan kuning telur yang cenderung lebih datar atau melebar. Cangkangnya juga bisa memiliki noda atau tampilan yang kurang sempurna. Meski demikian, perbedaan grade tidak memengaruhi nilai gizi.

Baik USDA maupun Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menegaskan bahwa grading hanya berkaitan dengan kualitas tampilan, bukan keamanan atau nilai gizi. Kandungan protein dan nutrisi pada telur Grade B pada dasarnya sama dengan telur Grade A maupun Grade AA. Faktor yang menentukan keamanan justru terletak pada cara penyimpanan dan pengolahan, seperti menjaga telur tetap dingin dan memasaknya hingga matang.

Alasan utama telur Grade B jarang dijual di supermarket adalah faktor visual. Ketika dimasak, telur jenis ini tidak memiliki tampilan yang menarik, misalnya saat digoreng atau direbus setengah matang. Bentuknya mudah melebar dan kurang rapi, sementara struktur putih telur yang lebih encer membuatnya kurang ideal untuk hidangan yang membutuhkan bentuk utuh.

Sebagai gantinya, telur Grade B lebih banyak digunakan dalam industri makanan. Telur ini biasanya diolah menjadi produk seperti telur cair, telur beku, atau telur bubuk, yang kemudian digunakan dalam berbagai makanan olahan, kue, hingga layanan makanan di restoran.

Dalam kondisi tertentu, seperti gangguan pasokan akibat wabah flu burung, telur Grade B bisa saja muncul di pasaran untuk memenuhi kebutuhan. Namun, hal ini tergolong jarang terjadi.

Secara keseluruhan, label grade pada telur lebih berkaitan dengan kualitas fisik daripada nilai gizinya. Memilih telur sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan memasak, bukan semata-mata berdasarkan grade yang tertera di kemasan. Telur Grade B tetap aman dikonsumsi, meski tampilannya tidak sebaik telur Grade A atau Grade AA.

Keputusan pembelian telur dapat dipertimbangkan dari perspektif visual dan fungsi. Bagi konsumen yang mengutamakan tampilan, telur Grade A menjadi pilihan utama. Namun, bagi mereka yang lebih fokus pada nilai gizi dan harga, telur Grade B tetap menjadi alternatif yang layak. Dengan memahami perbedaan ini, konsumen dapat membuat pilihan yang lebih tepat sesuai kebutuhan dan preferensi mereka.

telurGrade AGrade BUSDAkualitas fisiknutrisiindustri makanan

Komentar

Memuat komentar...