Perpustakaan Gasibu Dibongkar, Layanan Baca Pindah Sementara

Lina F. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Perpustakaan Gasibu Dibongkar, Layanan Baca Pindah Sementara

Gambar atau konten salah?

Proyek penataan kawasan di sekitar Gedung Sate dan Lapangan Gasibu mulai berjalan. Salah satu bangunan yang terkena dampaknya adalah Perpustakaan Gasibu. Bangunan yang dulu sering dipakai warga untuk membaca itu kini sudah rata dengan tanah.

Pada Kamis, 10 Juli 2026, bangunan perpustakaan di sisi utara Lapangan Gasibu sudah tidak ada lagi. Hanya pos keamanan yang tersisa. Alat berat masih terlihat mengangkut puing-puing bekas pembongkaran.

Perpustakaan itu adalah aset milik Biro Umum Sekretariat Daerah (Setda) Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Bangunan ini ikut terdampak proyek penataan kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Jawa Barat, Kusmana Hartadji, angkat bicara. Ia mengatakan pembongkaran ini adalah bagian dari penataan ruang publik yang sedang dikerjakan Pemprov Jabar.

Meski begitu, Kusmana menegaskan langkah ini bukan berarti pemerintah melupakan fungsi literasi di kawasan Gasibu. "Ya itu kan terkait dengan penataan ruang publik ya. Jadi untuk lebih nyaman, juga lebih sesuai dengan fungsi, lebih optimal sebagai peruntukannya. Jadi intinya pasti berdampak kepada perpustakaan," kata Kusmana saat dihubungi.

"Bukan berarti tidak ada keberpihakan. Jadi sebetulnya saya juga sudah koordinasi dengan Biro Umum, sedang dikaji nanti apa namanya, pembagian ruang itu secara proporsional," sambungnya.

Menurut Kusmana, Biro Umum Setda Jabar saat ini masih mengkaji konsep penempatan fasilitas literasi yang baru. Konsep ini harus selaras dengan wajah baru kawasan Gedung Sate dan Gasibu. Kajian itu mempertimbangkan berbagai aspek. Mulai dari kenyamanan pengunjung, kemudahan akses, hingga keberlanjutan layanan membaca bagi masyarakat.

"Jadi untuk literasi sebetulnya proses penataannya sambil menunggu, jadi ada tata letak yang lebih paling tepat untuk pengembangan layanan literasi ke depan. Jadi sedang dikaji oleh Biro Umum sebetulnya, hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan aspek kenyamanan, termasuk juga kemudahan akses, serta keberlanjutan pemanfaatan oleh masyarakat," ujarnya.

Kusmana mengakui Perpustakaan Gasibu punya nilai tersendiri bagi masyarakat. Tempat ini bukan cuma untuk membaca. Perpustakaan itu juga menjadi ruang berkumpul, terutama saat akhir pekan. Jumlah pengunjungnya mencapai sekitar seribu orang setiap bulan.

"Bahwa perpustakaan memiliki nilai dan kenangan bagi masyarakat di sana ya. Banyak juga sebetulnya pengunjungnya, hampir rata-rata sekitar per bulan itu ada yang 1.000, apalagi Sabtu-Minggu ya," katanya.

Karena itu, Dispusipda berharap layanan literasi tetap menjadi bagian dari kawasan Gasibu setelah proyek penataan selesai. "Jadi nanti barangkali bukan berarti mengurangi semangat, tapi saya juga sedang menunggu nih nanti kajian yang komprehensif, pemustaka tetap bisa dilayani gitu ya," ujarnya.

Saat ditanya soal peluang perpustakaan dibangun lagi di kawasan Gasibu, Kusmana mengaku optimistis. Fasilitas itu tetap akan dihadirkan, meski dengan konsep yang menyesuaikan hasil penataan ruang publik.

"Mudah-mudahan ya, mudah-mudah ada lagi. Tapi juga kan ini juga sama-sama ruang publik dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekosistem literasi, sehingga keduanya dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Jadi semangat literasinya mah tetap," ungkapnya.

"Kalau kami menunggu saja nanti karena kan pastilah ada beberapa pemustaka juga yang bertanya seperti itu," tambahnya.

Kusmana menjelaskan, Perpustakaan Gasibu sebenarnya bukan aset Dispusipda Jabar. Bangunan itu berstatus perpustakaan khusus. Asetnya milik Biro Umum Setda Jabar. Dispusipda hanya bertugas mengelola layanan dan petugas perpustakaannya.

"Ya itu kan perpustakaan khusus namanya. Karena di sana kan hanya baca, tidak boleh pinjam gitu. Tapi kalau pengelolaannya memang dari kita, petugas segala macamnya. Cuma asetnya memang milik Biro Umum Sekretariat Daerah," jelas Kusmana.

Selama Perpustakaan Gasibu belum kembali beroperasi, masyarakat yang ingin membaca bisa memanfaatkan layanan perpustakaan lain. "Yang pertama bisa langsung juga ke Perpustakaan Provinsi ya di Jalan Kawaluyaan. Juga perpustakaan yang ada di Kota Bandung. Atau memang kalau memang berkelompok gitu, bisa juga minta perpustakaan keliling ke kita," tutup Kusmana.

Perpustakaan Gasibu selama ini menjadi tempat favorit warga Bandung untuk membaca dan berkumpul. Dengan dibongkarnya bangunan ini, pemerintah masih mencari lokasi yang tepat untuk fasilitas literasi baru di kawasan tersebut. Kajian masih berlangsung, dan layanan perpustakaan lain masih bisa diakses masyarakat.

Penataan kawasan Gedung SatePerpustakaan GasibuPembongkaranFasilitas literasiRuang publikLayanan membacaKajian penempatan

Komentar

Memuat komentar...