Jembatan Dengkeng Dibongkar, Warga Keluhkan Tak Ada Jembatan Darurat

Fajar H. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Jembatan Dengkeng Dibongkar, Warga Keluhkan Tak Ada Jembatan Darurat

Gambar atau konten salah?

Jembatan Dengkeng yang membentang di atas Sungai Dengkeng, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, resmi ditutup pada hari ini. Proses pembongkaran pun langsung dimulai. Empat alat berat, terdiri dari mesin bor dan ekskavator, dikerahkan untuk merobohkan struktur jembatan yang menghubungkan jalur Klaten-Gunungkidul-Sukoharjo tersebut.

Dari pantauan di lokasi, dua alat berat ditempatkan di sisi utara jembatan. Dua lainnya bersiaga di sisi selatan. Sekitar pukul 10.58 WIB, dua mesin bor mulai menjebol badan jembatan. Proyek ini menjadi tontonan warga setempat. Berdasarkan papan proyek yang terpasang, pemugaran jembatan ini dibiayai oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan anggaran sebesar Rp 20,6 miliar.

Penutupan jalan dilakukan di kedua arah, baik dari utara maupun selatan jembatan. Arus lalu lintas dari arah utara atau Kecamatan Pedan dialihkan. Bus dan truk besar diarahkan ke kanan, melewati Ngaran, Kecamatan Ceper. Sementara itu, sepeda motor dan mobil diarahkan ke barat melalui Jembatan Talang, melewati Desa Pundungsari, Kecamatan Trucuk, dan Plosowangi, Kecamatan Cawas. Sebagian pengendara memilih jalur ke timur melalui Jembatan Baran, Kecamatan Cawas. Pengaturan serupa juga berlaku bagi kendaraan dari arah selatan.

Beberapa rumah warga di Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas, yang berada di area proyek juga mulai dibongkar. Meski demikian, arus lalu lintas terpantau lancar. Tidak ada kemacetan berarti.

"Mulai hari ini sudah mulai dibongkar. Kalau terdampak iya terdampak, namun hanya sementara," kata Camat Cawas, Joko Purwanto, pada Jumat, 10 Juli 2026.

Menurut Joko, mobilitas warga tidak akan terkendala. Sebab, ada beberapa jalur alternatif yang bisa digunakan. Untuk kendaraan roda dua, tersedia jalan lingkar Cawas yang lurus melewati Jembatan Jobondo, Desa Baran.

"Roda 2 bisa melewati jalan lingkar Cawas lurus melewati jembatan Jobondo, Desa Baran lalu ke kiri nanti tembus jalan provinsi. Untuk mobil bisa melewati Baran - Tirtomarto - Japanan - Pakisan," ujar Joko.

"Kalau dari arah barat atau Klaten bisa lewat Talang, Kecamatan Bayat-Planggu, Kecamatan Trucuk. Untuk bus dan truk besar bisa lewat Temuwangi-Soka Karangdowo-Posis," imbuhnya.

Margono, seorang warga yang tinggal di sekitar jembatan, mengatakan proses pemugaran sudah dimulai. Ia dan warga lainnya berharap ada jembatan darurat. Tujuannya agar kendaraan roda dua bisa melintas tanpa harus memutar jauh.

"Sebenarnya kami berharap pembangunan jembatan Dengkeng ini bisa memikirkan dampak. Minimal dibuatkan jembatan darurat agar aktivitas kendaraan roda dua bisa melintas," kata dia.

Margono menjelaskan, penutupan Jembatan Dengkeng memaksa warga yang hendak melintas untuk memutar. Jaraknya cukup jauh. Mereka bisa lewat Jembatan Talang di Kecamatan Bayat atau alternatif lainnya.

"Warga harus memutar lewat Jembatan Modran (Kecamatan Trucuk), Jembatan Talang (Kecamatan Bayat), lewat Jembatan Balak dan Baran di Kecamatan Cawas. Itupun akan crowded atau mungkin macet," ujar Margono.

Menurut Margono, jembatan terdekat adalah Modran dan Baran, yang berjarak sekitar satu kilometer. Namun, akses di kedua jembatan itu terbatas untuk kendaraan kecil.

"Jembatan Dengkeng itu jalur padat dari berbagai daerah, mestinya ada jembatan darurat. Agar akses menuju pusat ekonomi Pasar Cawas, sekolah dan SPBU tetap dekat," ucap Margono.

"Tidak ada pembuatan jembatan darurat. Kalau memang ada mestinya sudah kemarin - kemarin dibuat," sambungnya.

Beberapa pekerja di lokasi proyek tidak bersedia memberikan penjelasan. Mereka beralasan hanya sebagai pelaksana proyek.

Sebelumnya, jembatan di jalan raya Cawas-Gunungkidul-Sukoharjo itu diketahui dalam kondisi memprihatinkan. Badan jembatan melengkung. Tiang penyangga di sisi paling selatan terlihat retak dan mulai ambles. Penurunan badan jembatan juga terasa saat kendaraan melintas. Dari papan prasasti di bagian utara, jembatan itu diresmikan pada tahun 1970. Setiap hari, berbagai kendaraan melintas, mulai dari mobil, truk, hingga bus besar.

"Melengkung pun dangu, nggih pun luweh setahun (melengkung sudah lama, ya setahun lebih). Ke selatan arah Gunungkidul," kata Paijo (50), seorang warga setempat, pada Kamis, 9 Januari 2025.

Paijo menjelaskan, jembatan itu sudah sangat tua. Kepadatan lalu lintas setiap hari tidak terhindarkan karena statusnya sebagai jalan provinsi. "Jalan provinsi sebabnya. Ya kalau hujan deras sekarang air hampir meluap ke jalan karena rata dengan talut jembatan," kata Paijo.

Jembatan Dengkeng yang berusia lebih dari setengah abad ini merupakan jalur vital yang menghubungkan beberapa kabupaten. Kondisinya yang sudah melengkung dan retak memaksa pemerintah untuk melakukan pembongkaran total. Meskipun jalur alternatif sudah disiapkan, warga sekitar tetap mengeluhkan tidak adanya jembatan darurat yang dapat mempersingkat akses mereka ke pusat ekonomi dan fasilitas umum.

pembongkaran jembatanpenutupan jalanjalur alternatifanggaran proyekdampak wargakemacetan lalu lintasjembatan darurat

Komentar

Memuat komentar...