Perry Warjiyo: Rupiah Menurun, Prediksi Kembali Kuat di Juli

Wahyu T. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 88 dibaca
Bisik.id
Perry Warjiyo: Rupiah Menurun, Prediksi Kembali Kuat di Juli

Gambar atau konten salah?

Perry Warjiyo, gubernur Bank Indonesia, langsung berbicara tentang mengapa rupiah terus melemah hingga menembus level Rp 17.600-an per dolar AS. Ia menegaskan bahwa tekanan tersebut berasal dari kombinasi faktor global, faktor teknikal pasar, dan tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri.

Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di kompleks Parlemen pada Senin, 18 Mei 2026, Perry menjelaskan bahwa periode April hingga Juni dipengaruhi kebutuhan dolar AS yang tinggi. Faktor utama berasal dari pembayaran dividen perusahaan, kebutuhan valuta asing untuk jemaah haji, serta pembayaran utang.

Ia menegaskan, “Karena April, Mei, Juni ini ada demand untuk divisa itu besar untuk biasanya ada kemarin jemaah haji, terus kemudian pembayaran dividen dan juga pembayaran utang, seperti itu ya,”

Selain faktor domestik, Perry menyoroti tekanan global yang membuat dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah. Salah satu penyebabnya adalah perang di Timur Tengah sejak Februari tahun ini, yang meningkatkan risiko geopolitik global.

Menurutnya, kondisi tersebut sempat membuat harga minyak mentah Brent melonjak hingga di atas US$ 120 per barel. Di sisi lain, inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi membuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed berkurang.

Akibatnya, imbal hasil atau yield obligasi Amerika Serikat ikut naik dan mendorong arus modal keluar dari negara berkembang menuju AS, memperkuat dolar AS dan menekan mata uang emerging market. “Tentu saja suku bunga global itu akan berdampak di dalam negeri ya. Kalau suku bunga dalam negeri nggak naik ya outflow ya, tapi kalau nggak mau outflow, suku bunga dalam negeri itu harus naik kan. Artinya, terjadi suatu pelarian modal dari emerging market ke negara maju, khususnya Amerika Serikat,”

Meski demikian, Perry tetap optimis tekanan terhadap rupiah bersifat sementara. BI meyakini nilai tukar akan kembali menguat pada Juli hingga Agustus, seiring meredanya kebutuhan valuta asing dan membaiknya kondisi pasar global.

Ia menambahkan, “Sehingga kenapa kami sampaikan bahwa nilai tukar sekarang itu undervalue. Rujukannya undervalued karena memang kami masih meyakini 2026 in rerata nilai tukar seluruh tahun adalah Rp 16.500 (sesuai APBN), kisarannya Rp 16.200 sampai Rp 16.800 itu masih kami meyakini ya, karena rerata year to date-nya Rp 16.900,”

Dengan demikian, BI menegaskan bahwa meski rupiah sedang melemah, dinamika pasar global dan domestik yang sedang berlangsung dapat menyebabkan pergerakan nilai tukar yang signifikan. Pemerintah dan lembaga keuangan menunggu evolusi kondisi ekonomi internasional dan kebijakan moneter AS untuk menilai dampak jangka panjang pada mata uang Indonesia.

RupiahBank IndonesiaDividen perusahaanJemaah hajiPerang Timur TengahMinyak BrentArus modal keluar

Komentar

Memuat komentar...