Petani Tambak Glagah Kehilangan 80% Hasil Panen Akibat Banjir
Gambar atau konten salah?
Petani tambak di Kecamatan Glagah, Lamongan, mengalami kerugian besar akibat banjir berkepanjangan dan kekurangan pupuk. Hasil panen menurun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Banjir yang merendam kawasan tambak di Glagah sudah mulai surut, namun prosesnya memakan waktu hampir satu tahun. Kondisi ini langsung memengaruhi produksi ikan para petani. Selain menghambat pertumbuhan ikan, banjir membuat banyak hasil budidaya tidak dapat dipanen secara optimal.
“Banjirnya kan berlangsung lama sehingga ikan-ikan tidak bisa berkembang,” kata Nur Komariyah, salah satu petani tambak, kepada wartawan pada 10 April 2026.
Akibatnya, Komariyah mengungkapkan, produksi tambak menurun signifikan hingga sekitar 50 % dari kondisi normal. Ia mengaku hasil panen saat ini jauh dari harapan karena ikan yang dipanen berukuran kecil dan tidak sesuai standar pasar. “Hasilnya jombrot (hancur-hancuran), ikannya segini-segini (sambil menunjukkan ikan bandeng) karena kurang pupuk. Ditambah lagi banjir hampir setahun nggak surut-surut. Rugi besar, nggak bisa dihitung lagi,” ujarnya.
Komariyah menjelaskan bahwa selain banjir, kelangkaan pupuk tambak menjadi faktor utama yang menghambat pertumbuhan ikan. Menurutnya, jatah pupuk yang tersedia sangat terbatas. Ia menambahkan, “Saya harap pemerintah bantu tambahin pupuk untuk petani tambak. Saya nggak minta gratis, saya mau beli yang penting barangnya ada.”
Petani juga mengeluhkan harga jual ikan yang menurun di pasaran. Kondisi ini semakin memperparah kerugian yang dialami. “Masa ikan tombro yang meskipun besar-besar tapi harganya hanya Rp 9 ribu per kilogram, bandeng kalau kecil-kecil gini juga murah harganya,” akunya.
Secara keseluruhan, kerugian petani tambak di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 80 % hingga 90 % dari kondisi normal, jika dihitung dari penurunan hasil panen dan harga jual. Para petani tambak di Glagah berharap adanya perhatian pemerintah, terutama dalam penyediaan pupuk tambak serta solusi penanganan banjir, agar usaha mereka dapat kembali berjalan normal.
Kerugian yang dialami petani tambak di Glagah menyoroti betapa pentingnya dukungan pemerintah dalam menyediakan sumber daya dan mitigasi bencana, sehingga produksi pertanian lokal dapat dipertahankan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
