PHK Meningkat di Industri TPT dan Plastik Indonesia 2026

Dani L. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 51 dibaca
Bisik.id
PHK Meningkat di Industri TPT dan Plastik Indonesia 2026

Gambar atau konten salah?

Di tengah ketidakpastian ekonomi, Indonesia menghadapi kemungkinan PHK yang semakin mengkhawatirkan, khususnya di sektor yang menampung banyak tenaga kerja.

Menurut KSPI, serikat pekerja di berbagai perusahaan mengirimkan laporan yang menandakan ancaman PHK akan meningkat dalam tiga bulan ke depan. Laporan tersebut tidak sekadar prediksi; ia berasal langsung dari anggota serikat.

Sektor sektor TPT—yang meliputi tekstil, benang, kain, dan polyester—dikenal sebagai penopang utama tenaga kerja. Ketergantungan tinggi pada pasar global membuat rantai produksinya rentan terhadap fluktuasi harga dan nilai tukar.

“Tapi realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester dan sebagainya,” kata Said Iqbal dalam konferensi pers virtual, Senin (04 Mei 2026).

Industri plastik juga tidak luput. Harga bahan baku impor, terutama polimer dan petrokimia, melonjak tajam. Kenaikan ini dipicu oleh pelemahan rupiah terhadap USD, yang membuat biaya produksi naik drastis.

“Kemudian industri plastik, karena harga bahan baku plastik naik tajam, sehingga industri kesulitan. Dia kan bahan bakunya impor, polimer impor, petrokimia banyak yang impor. Begitu diproduksi, impor kan berarti beli barangnya pake dolar, jualnya di pasar domestik pakai rupiah, sedangkan harga rupiah anjlok terhadap dolar, ya buntung lah, makanya harga plastik naik,” jelas Said Iqbal.

Pengaruhnya merambah konsumen. Harga plastik yang melonjak hingga 50% menurunkan daya beli masyarakat. Banyak penjual di pasar tradisional beralih ke bungkus daun karena plastik menjadi mahal.

“Nah kalau harga plastik naik sampai 50%, daya beli masyarakatnya jadi menurun. Ada ibu-ibu cerita yang jualan di pasar biasa bungkus pake plastik, sekarang pake daun. Nah itu kan plastik turun. Itu kan ancaman PHK di industri plastik,” sambung dia.

Efek berantai dapat menyentuh industri lain. Komponen berbahan plastik banyak dipakai dalam industri elektronik dan otomotif. Jika harga plastik tetap tinggi, biaya produksi di sektor tersebut akan naik, memaksa perusahaan mencari efisiensi, termasuk PHK.

“Begitu pula industri elektronik bisa kena. Mudah-mudahan perang bisa kembali damai, selesai sehingga bisa turun harga plastik. Tapi nggak semudah itu kata perusahaan-perusahaan, dalam 3 bulan kepada serikat pekerja, di elektronik kan pakai plastik frame nya. Di otomotif spakbor, beberapa komponen lain juga pake plastik,” bebernya.

Industri sektor semen menghadapi masalah berbeda. Kelebihan pasokan menambah persaingan, sementara permintaan melemah. Dalam situasi perang, permintaan semen turun, sehingga pabrik baru kesulitan mendapatkan izin dan memulai operasi.

“Apalagi sekarang dalam suasana perang. Permintaan terhadap semen kan berkurang. Udah mah oversupply, pabrik baru bikin lagi kemudian izinnya diberikan dan mulai operasional, permintaan semen akibat semen turun. Ya otomatis terjadi efisiensi buruh dan pekerja ya PHK,” sebut dia.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakstabilan global memperparah tekanan pada industri dalam negeri. Biaya produksi meningkat, sementara daya beli masyarakat menurun, menciptakan kombinasi yang sulit dihindari bagi pelaku usaha.

Hingga saat ini, buruh belum menerima respons resmi dari pemerintah terkait potensi gelombang PHK. Tidak ada rencana dialog konkret untuk membahas langkah mitigasi.

Secara keseluruhan, situasi ini menyoroti ketergantungan industri Indonesia pada bahan baku impor dan fluktuasi nilai tukar. Ancaman PHK yang meluas menuntut perhatian serius dari semua pihak, termasuk pemerintah, serikat pekerja, dan perusahaan, agar dapat menemukan solusi yang berkelanjutan bagi tenaga kerja dan perekonomian nasional.

PHKindustri TPTplastikserikat pekerjanilai tukartenaga kerjaekonomi Indonesia

Komentar

Memuat komentar...