Piala Dunia 2026 di Seattle: Ramai tapi Tak Semua Untung

Surya B. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Piala Dunia 2026 di Seattle: Ramai tapi Tak Semua Untung

Gambar atau konten salah?

Seattle, kota di pesisir barat Amerika Serikat, baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026. Pertandingan terakhir yang digelar di kota ini adalah babak 16 besar antara Amerika Serikat dan Belgia. Namun, euforia turnamen sepak bola terbesar di dunia itu belum sepenuhnya berhasil menggerakkan roda perekonomian lokal.

Selama hampir satu bulan, kota ini dipenuhi oleh para pendukung sepak bola. Kawasan tepi laut, pusat kota, hingga lokasi nobar resmi menjadi titik keramaian. Transportasi umum mencatat rekor jumlah penumpang. Sejumlah bar dan restoran juga menikmati lonjakan pengunjung. Tapi di balik kemeriahan itu, manfaat ekonomi yang dijanjikan belum terasa merata.

Visit Seattle, badan promosi pariwisata setempat, memperkirakan sekitar 750 ribu wisatawan datang ke Seattle selama Piala Dunia 2026. Potensi perputaran ekonominya mencapai USD 845,6 juta atau setara dengan Rp 15,2 triliun. Angka ini sebenarnya sudah direvisi turun dari proyeksi awal sebesar USD 929 juta (Rp 16,72 triliun). Penyebabnya adalah melemahnya kunjungan wisatawan internasional ke Amerika Serikat.

Beberapa indikator menunjukkan hasil yang belum sesuai harapan. Volume wisatawan yang datang dilaporkan belum mampu melampaui jumlah pengunjung biasa saat musim liburan musim panas. Biaya perjalanan juga meningkat akibat situasi geopolitik yang tidak menentu. Di sisi lain, FIFA memesan kamar hotel dalam jumlah besar, yang sempat membatasi ketersediaan penginapan dan mendorong kenaikan tarif.

Penurunan kunjungan wisatawan mancanegara menjadi tantangan tersendiri. Wisatawan asal Kanada, yang biasanya menjadi salah satu pasar utama Seattle, mengurangi perjalanan sejak awal 2025. Hal ini terjadi setelah kebijakan imigrasi diperketat dan hubungan politik antara kedua negara memanas. Selain itu, sebagian pendukung dari negara peserta seperti Iran dan Senegal tidak bisa datang karena terdampak kebijakan larangan perjalanan yang diterapkan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Vince Vu, pemilik toko roti Anh Oi Bake Shop, menceritakan pengalamannya. Sebelum turnamen dimulai, pelaku usaha di sekitar stadion diminta bersiap menghadapi lonjakan wisatawan. "Mereka benar-benar membuat kami sangat optimistis. Kami mengikuti rapat setiap minggu dan diminta menggandakan staf serta persediaan karena Piala Dunia 2026 disebut akan menjadi berkah besar bagi kota ini," ujarnya.

Namun kenyataan di lapangan berbeda. Bloomberg melaporkan bahwa Seattle menjadi satu-satunya kota tuan rumah di Amerika Serikat yang mengalami penurunan pemesanan penerbangan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, Perry Cooper, juru bicara Bandara Internasional Seattle-Tacoma, mengatakan jumlah penumpang sejak turnamen dimulai justru naik sedikitnya 3%. Termasuk peningkatan 4% untuk wisatawan internasional.

Sejumlah pelaku usaha lain juga mengaku belum merasakan dampak ekonomi yang signifikan. Pengelola properti sewa jangka pendek menyebut tingkat okupansi relatif datar dibandingkan musim panas tahun lalu. Vu pun mengungkapkan penjualan toko rotinya saat laga Amerika Serikat melawan Australia hanya mencapai sekitar seperempat dari hari biasa. Penyebabnya, pelanggan tetap menghindari kawasan stadion, sementara suporter Piala Dunia 2026 lebih banyak memilih tempat makan umum.

Dampak yang beragam juga dirasakan sektor pariwisata. Seattle Aquarium mencatat penurunan jumlah pengunjung, terutama pada hari pertandingan. Sebaliknya, Seattle Art Museum melaporkan taman patung gratis di kawasan waterfront mengalami lonjakan kunjungan lebih dari dua kali lipat. Namun jumlah pengunjung museum utamanya relatif stabil.

Kinerja hotel di Seattle pun menunjukkan hasil yang bervariasi. Tingkat hunian berada di bawah target, tetapi pendapatan tetap meningkat karena tarif kamar yang lebih tinggi selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

Meski manfaat ekonomi belum dirasakan secara merata, pelaku usaha dan pemerintah daerah tetap optimistis. Mereka percaya turnamen ini akan membawa dampak jangka panjang bagi Seattle. Joe Nguyen, CEO Seattle Metropolitan Chamber of Commerce, menjelaskan bahwa secara geografis Seattle berada di ujung kawasan. "Karena letak kami di ujung barat laut, banyak wisatawan biasanya melewatkan Seattle dalam perjalanan mereka," kata Nguyen. "Sekarang mereka akan berpikir dua kali. Saya juga yakin ini bisa membuka peluang menghadirkan lebih banyak pertandingan olahraga besar, bahkan membantu upaya membawa kembali tim basket ke kota ini."

Secara keseluruhan, Piala Dunia 2026 di Seattle memang membawa keramaian dan beberapa sektor menikmati peningkatan. Namun janji keuntungan ekonomi yang besar belum sepenuhnya terwujud. Faktor eksternal seperti kebijakan imigrasi, situasi geopolitik, dan pola perjalanan wisatawan ikut memengaruhi hasil akhir. Meski begitu, ada harapan bahwa turnamen ini bisa mengubah persepsi global tentang Seattle dan membuka pintu untuk acara-acara besar lainnya di masa depan.

Piala Dunia 2026Dampak EkonomiSeattleWisatawanKebijakan ImigrasiPemesanan PenerbanganOkupansi Hotel

Komentar

Memuat komentar...