Poniti 96 Tahun Pasar Kebalen di Malang Siap Berangkat Haji 2026
Gambar atau konten salah?
Poniti, seorang warga Kecamatan Tumpang di Kabupaten Malang, kini berusia 96 tahun. Meskipun langkahnya perlahan, matanya tetap bersinar penuh harapan. Ia resmi tercatat sebagai salah satu jemaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci pada 23 April 2026.
Sejak lebih dari empat dekade, rutinitasnya di Pasar Kebalen tidak pernah berubah. Setiap pagi sebelum matahari terbit, ia sudah menyiapkan barang-barang hasil kebunnya: polo pendem, ubi, dan sayur‑mayur segar. Di atas terpal sederhana, ia menjajakan produk-produk bumi kepada para pelanggan. Dari tangan yang sudah keriput karena sering menggenggam tanah, terselip cita‑cita besar yang tumbuh perlahan.
“Saya jualan di Pasar Kebalen, sudah sekitar 40 tahun. Jualan polo pendem, ubi, pohon, sayuran,” kata Poniti ketika ditemui wartawan di kediamannya pada 21 April 2026.
Awalnya, setiap hari ia menabung sedikit rupiah. Tujuannya bukan untuk menapakkan kaki di Makkah, melainkan untuk membeli sapi atau sepetak tanah sebagai jaminan hari tua. Mulai dari Rp10.000, tabungannya perlahan naik menjadi Rp50.000 per hari seiring ketekunannya berjualan polo pendem. Namun, takdir memiliki rencana lain. Rencana membeli aset duniawi itu berubah menjadi keinginan mendalam untuk melaksanakan ibadah haji.
“Niatnya dulu mau beli sapi dan tanah, tapi tidak jadi. Akhirnya buat daftar haji saja,” ungkap Poniti. Keputusan itu tidak lepas dari keraguan, mengingat usia dan lama menunggu haji. Namun, dorongan keluarga menjadi energi tambahan yang membuatnya tetap tegar. Ia mendaftar pada tahun 2020, setelah menabung selama sepuluh tahun.
“Awalnya tidak mau, karena nunggunya lama. Tapi dipaksa daftar haji, akhirnya mau. Alhamdulillah bisa berangkat setelah nabung 10 tahun,” jelasnya.
Keberangkatan haji menjadi kebahagiaan yang lebih lengkap karena ia akan pergi bersama suaminya, Supandri. “Ya pasti senang, apalagi bisa berangkat ke Makkah bareng suami saya. Semoga sehat, ibadahnya lancar, dan pulang selamat sampai rumah,” ujar Poniti.
Anaknya, Muḥammad Zuhdi, menceritakan bahwa ibunya terbiasa berjalan kaki hingga sepuluh kilometer setiap hari demi mengais rezeki. Kebiasaan ini diyakini menjadi modal fisik utama bagi sang ibu untuk menghadapi prosesi ibadah haji yang menuntut ketahanan tubuh.
“Alhamdulillah setelah menunggu hampir lima tahun, bisa berangkat haji,” ucap Zuhdi bersyukur. Kini, demi menjaga kondisi menjelang keberangkatan, aktivitas di pasar harus dihentikan sementara. “Kami minta ibu fokus jaga fisik dan kesehatan, dan sementara tidak ke pasar dulu,” pungkasnya.
Dengan tekad dan doa, Poniti menantikan hari keberangkatan. Ia menabung secara disiplin, menyesuaikan harapan, dan mempersiapkan tubuhnya. Perjalanan ini menandai pencapaian impian yang dulu terasa mustahil, namun kini menjadi kenyataan berkat ketekunan, doa, dan dukungan keluarga.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
