Potensi Besar Wisata Religi Indonesia Masih Terlupakan

Yanto K. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 83 dibaca
Bisik.id
Potensi Besar Wisata Religi Indonesia Masih Terlupakan

Gambar atau konten salah?

Alfan Firmanto, peneliti bidang Khasanah Keagamaan dan Peradaban di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkapkan bahwa wisata religi di Indonesia memiliki potensi besar namun belum dimanfaatkan sepenuhnya. Ia berbicara pada acara BRIN Goes to Industry 4 yang digelar di Kantor BRIN, Jakarta pada 17 Mei 2026.

Ia mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, yang menunjukkan bahwa wisata religi hanya menarik 2,45 persen pengunjung. Berdasarkan data BPS tahun 2025 ternyata wisata religi itu menempati tempat yang masih sedikit diminati, hanya 2,45 persen. Ini yang menjadi tanda tanya besar saya, ujarnya dalam agenda BRIN Goes to Industry 4 di Kantor BRIN, Jakarta, Selasa (17/5/2026).

Menurut Alfan, pengalaman bertahun-tahun melakukan riset di berbagai daerah menunjukkan bahwa potensi wisata religi Indonesia sangat besar. Tradisi, budaya, dan artefak keagamaan tersebar di banyak wilayah, tidak terpaku pada satu komunitas saja.

Ia juga berbagi pengalaman pribadi. Saya sudah berkunjung ke beberapa wisata religi terutama di wisata religi berbasis keagamaan Islam ya. Situs-situs Walisongo di Jawa itu selalu ramai, selalu 24 jam nggak pernah sepi, nggak pernah tidur gitu 24 jam nonstop, kata Alfan.

Menurutnya, wisata religi memiliki potensi pergerakan ekonomi yang sangat besar. Jika dikelola dengan baik, sektor ini dapat memberikan manfaat luas. Mereka hanya mati dan berhenti ketika Covid. Dan pergerakan potensi ekonomi itu luar biasa besar, itu uang yang bergerak di sana tuh bisa menghidupi banyak orang, kata Alfan.

Ia menegaskan bahwa kegiatan keagamaan dapat mendatangkan devisa dan menarik banyak uang. Banyak sebetulnya kegiatan-kegiatan keagamaan itu bisa mendatangkan devisa ya, bisa menarik banyak uang, ujar dia.

Contoh potensi yang ia sebutkan meliputi haul ulama besar dan Maulid Nabi, yang dapat menarik ribuan pengunjung. Di dalam tradisi Islam, misalnya haul ulama besar itu yang datang bisa ribuan, bahkan di tempat-tempat kayak Maulid Nabi itu bisa luar biasa mendatangkan banyak orang, kata dia.

Alfan menyoroti berbagai tempat ibadah sebagai peluang wisata religi. Jadi apa saja yang sebetulnya bisa digali dari wisata religi ini. Tentu tempat ibadah ya, kita tahu bukan hanya masjid-masjid kuno, masjid baru pun kini luar biasa ya sekarang, dulu ada Masjid Kubah Emas di Depok dan belakangan di Jawa Barat di Bandung ada Masjid Al-Jabbar, di Solo ada Masjid Sheikh Zayed, ujar Alfan.

Ia juga menambahkan bahwa Masjid Istiqlal di Jakarta masih menjadi tujuan wisatawan yang banyak. Bahkan, ia menyebut hingga kini wisatawan yang berkunjung ke Masjid Istiqlal di Jakarta saja masih banyak, ia katakan.

Akhirnya, Alfan menekankan bahwa data terkait wisata religi harus dimaksimalkan untuk meningkatkan sektor pariwisata Indonesia. Sehingga, data terkait wisata religi tersebut semestinya bisa dimaksimalkan kembali untuk peningkatan sektor pariwisata Indonesia, ia menutup.

Dalam konteks ini, data menunjukkan bahwa wisata religi masih menjadi segmen yang kurang terpakai. Namun, dengan memanfaatkan warisan budaya dan acara keagamaan, potensi ekonomi yang besar dapat diaktifkan, memberi kontribusi signifikan bagi pembangunan pariwisata nasional.

Alfan FirmantoBRINwisata religipotensi ekonomiBPSMasjid Istiqlalpariwisata Indonesiadata statistik

Komentar

Memuat komentar...