Pramugari Bus 22 Tahun Tolak Libur Lebaran, Bekerja Malam

Sari D. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 84 dibaca
Bisik.id
Pramugari Bus 22 Tahun Tolak Libur Lebaran, Bekerja Malam

Gambar atau konten salah?

Rizka Yunita Dewi berusia 22 tahun, seorang pramugari bus di Trans Jatim Malang Raya, menolak libur Lebaran. Di tengah suasana hangat keluarga, ia tetap di atas bus, melayani penumpang di jalanan Malang.

Di Terminal Angkutan Kota Batu, pada 23 Maret 2026, Rizka menjabat shift malam. Ia menempuh perjalanan panjang, melewati kota, sambil menunggu penumpang yang tak terhitung. Lebaran biasanya menjadi waktu berkumpul, namun bagi Rizka, momen itu menjadi ujian keteguhan.

“Ini pertama kali saya kerja, jadi kaget aja soalnya Lebaran nggak ada libur. Jadi komunikasi sama orang rumah itu cukup lewat call, video call aja,” ujar Rizka saat ditemui di terminal.

Rizka merasakan rindu yang mendalam. Ia harus tetap tegar, menanggung beban sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya sedang sakit, sehingga ia menjadi tulang punggung keluarga. “Saya kerja juga ada alasannya, membantu perekonomian keluarga. Saya anak pertama juga, jadi mau nggak mau saya yang kerja,” tambahnya.

“Kalau saya masih nurutin ego saya buat nggak kerja, itu nggak akan bantu, apalagi Ayah saya juga lagi sakit. Dari uang kerja ini saya bisa bantu orang tua di sana meski harus merantau jauh,” imbuh Rizka.

Ketika malam takbiran tiba, Rizka tidak bisa menyalurkan rasa gembira di rumah. Ia harus melewati malam kemenangan di dalam bus, karena jadwal shiftnya. Air mata mengalir ketika ia berangkat dari kos sendiri menuju masjid untuk salat Id. Sebagai perantau, ia mencoba menenangkan hati, menahan rasa sedih.

Di samping pekerjaannya, Rizka masih menempuh pendidikan. Ia berada di semester 7, sedang menulis skripsi. Menjadi mahasiswa sekaligus pekerja menambah beban, namun motivasinya tetap kuat.

Ia tidak sendirian. Rizka memiliki saudara kembar yang juga bekerja sebagai pramugari di Trans Jatim, di Koridor 5. Keduanya saling mendukung, berbagi pengalaman dalam pelayanan publik.

Berbicara tentang profesinya, Rizka mengakui bahwa menjadi pramugari bus nyaman, namun tidak tanpa tantangan. Ia harus bersabar menghadapi penumpang yang “ngeyel.”

“Dukanya sebagai pramugari Trans Jatim itu harus menghadapi penumpang yang ngeyel dan gak mau diatur. Pernah pengalaman saya itu, dibentak-bentak oleh penumpang yang minta untuk diturunkan bukan pada titik halte yang disediakan, tapi itu saya rasakan sebagai lika-liku pekerjaan saja,” tandasnya.

Situasi Rizka menggambarkan keseimbangan antara tanggung jawab keluarga, pekerjaan, dan pendidikan. Ia menolak menunda pekerjaan demi Lebaran, menyalurkan energi ke dalam tugasnya. Meskipun jauh dari keluarga, ia tetap menjaga komunikasi lewat panggilan. Keterbatasan waktu tidak menghalangi tekadnya untuk membantu orang tua, sekaligus menyelesaikan studi. Keberaniannya menjadi contoh bagi banyak orang yang menghadapi situasi serupa, menekankan pentingnya disiplin dan dedikasi dalam menghadapi tantangan hidup.

Rizka Yunita DewiPramugari BusTrans JatimLebaranKeluargaMahasiswa

Komentar

Memuat komentar...