Prancis Pilih Studio & Selldorf untuk Renovasi Louvre Besar
Gambar atau konten salah?
Prancis secara resmi mengangkat tim arsitek internasional untuk memimpin proyek renovasi besar Museum Louvre di Paris. Proyek ini, yang dinamai Louvre‑New Renaissance, merupakan bagian dari program unggulan Presiden Emmanuel Macron yang diumumkan tahun lalu. Renovasi dimulai setelah museum menghadapi berbagai masalah, mulai dari pencurian perhiasan hingga isu keamanan dan perawatan bangunan.
Jumat, 22 Mei 2026, pemerintah Prancis mengumumkan bahwa STUDIOS Architecture Paris bersatu dengan Selldorf Architects akan mengerjakan proyek tersebut. Dua firma ini dipilih dari lima kandidat finalis oleh dewan juri. Kementerian Kebudayaan Prancis menyatakan bahwa proposal mereka dipilih karena mampu menggabungkan arsitektur, pelestarian warisan budaya, tata kota, lanskap, dan faktor keamanan.
“Proposal ini menciptakan hubungan yang elegan antara kota, istana, dan museum,” kata pihak Museum Louvre dalam pernyataannya.
STUDIOS Architecture Paris sebelumnya terlibat dalam desain Fondation Louis Vuitton di Paris dan Fondation LUMA di Arles, sementara Selldorf Architects dikenal lewat proyek Frick Collection di New York dan National Gallery di London. Keahlian kedua firma ini diharapkan dapat menyeimbangkan estetika dan fungsi museum.
Biaya renovasi diperkirakan mencapai 700‑800 juta euro, setara dengan Rp 14‑16 triliun. Namun, Pengadilan Auditor Prancis memperkirakan total anggaran bisa mencapai 1,15 miliar euro, atau Rp 23 triliun. Angka ini mencerminkan skala besar proyek yang akan memodernisasi fasilitas museum sekaligus menjaga nilai sejarahnya.
Rencana renovasi menempatkan lukisan Mona Lisa di ruang khusus yang dapat diakses secara terpisah dari area utama museum. Pengunjung harus membeli tiket khusus untuk melihat karya tersebut. Selain itu, museum akan membangun pintu masuk baru di sisi timur bangunan guna mengurangi antrian di pintu masuk piramida kaca, yang selama ini menjadi akses utama. Piramida kaca Louvre, yang dibuka pada 1988, awalnya dirancang untuk menampung sekitar 4 juta pengunjung per tahun. Saat ini, museum menerima sekitar 9 juta wisatawan setiap tahun.
Sejarah Museum Louvre bermula sebagai istana kerajaan Prancis sebelum Raja Louis XIV pindah ke Palace of Versailles pada akhir abad ke-17. Belakangan, museum menjadi sorotan setelah menghadapi sejumlah masalah serius. Selain kasus pencurian perhiasan mahkota Prancis senilai sekitar 100 juta USD (Rp 1,76 triliun) pada Oktober lalu, museum juga mengalami aksi mogok kerja, dugaan penipuan tiket yang merugikan hingga 10 juta euro (Rp 294 miliar), kebocoran air, serta persoalan keamanan dan perawatan gedung.
Dengan renovasi ini, Museum Louvre berupaya tidak hanya memperbaiki fasilitas fisik, tetapi juga meningkatkan pengalaman pengunjung. Pintu masuk baru dan ruang khusus Mona Lisa diharapkan dapat mengurangi kepadatan dan memudahkan akses, sementara peningkatan keamanan akan menanggapi pelanggaran yang pernah terjadi. Proyek ini menandai langkah penting dalam menjaga warisan budaya sekaligus menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman modern.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
