Prihantini Kontroversi Riset AI, Dihadapkan Pengujian APCMS
Gambar atau konten salah?
Prihantini kembali menjadi sorotan warganet setelah tercatat akan melakukan presentasi dalam forum ilmiah internasional Asia-Pacific Cardiometabolic Syndrome Congress (APCMS) di Korea Selatan pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Sorotan muncul di tengah viral dugaan keterlibatan dirinya dengan beberapa rekannya dalam penggunaan riset kedokteran berbasis AI yang disebut tidak valid demi mengikuti konferensi internasional dan memperoleh travel grant ke luar negeri.
Berdasarkan laman resmi APCMS, Prihantini dijadwalkan tampil pada sesi Young Investigator Award Session di ruang 3 pukul 13.18-13.27 waktu setempat. Dalam forum tersebut, ia mencantumkan afiliasi dengan IMCDS-BioMed Research Foundation, Indonesia.
Prihantini tercatat membawakan riset berjudul Frailty, Orthostatic Systolic Nadir, and Silent Ischemia in Elders Integrating Gait Speed, Hemoglobin, NT-proBNP, High-Sensitivity Troponin, ECG Strain Pattern, and Postural Heart Rate Recovery in Multi-State Event Models.
Selain Prihantini, ada nama Riana Dwi Kurniawati yang mencantumkan afiliasi dengan Temanggung Public Health Center. Riana dijadwalkan presentasi pada Sabtu pukul 09.33-09.40 waktu setempat di ruang 1. Ia membawakan penelitian berjudul Quantifying Diet and Physical Activity Environmental Determinants of Metabolic Burden: Cross-National Causal Effects of Ultra-Processed Food Exposure and Walkability Decline on CardioMetabolic Disability-Adjusted Life Years.
Keikutsertaan Prihantini di forum tersebut kini ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah warganet mempertanyakan proses seleksi abstrak dan validasi penelitian dalam forum ilmiah internasional, terutama setelah mencuat dugaan penggunaan riset berbasis AI yang tidak valid.
APCMS sendiri merupakan forum pertukaran akademik bagi profesional dan peneliti kesehatan di kawasan Asia-Pasifik yang diselenggarakan di bawah Korean Society of Cardiometabolic Syndrome.
Forum ini menyoroti pentingnya validitas riset dan proses seleksi, serta menimbulkan perdebatan tentang penggunaan AI dalam penelitian medis.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
