Prof Mundakir Jadi Guru Besar Keperawatan, Kenalkan KT‑PSIKO
Gambar atau konten salah?
Prof Dr Mundakir SKep Ns M Kep baru saja resmi diangkat menjadi Guru Besar Ilmu Keperawatan di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Penganugerahan ini menandai tonggak penting bagi profesi keperawatan di Indonesia. Pada hari Kamis, 30 April 2026, beliau memimpin orasi ilmiah bertajuk Bridging Psychosocial Gaps in Nursing: Knowledge Translation untuk Indonesia di Era Disrupsi.
Di tengah kemajuan teknologi kesehatan, Mundakir menyoroti bahwa kebutuhan emosional, sosial, dan spiritual pasien sering terabaikan. Ia menegaskan bahwa paradigma biomedis yang masih dominan dalam layanan keperawatan Indonesia mengurangi manusia menjadi sekadar tubuh yang sakit. “Pasien tidak hanya menderita karena patologi penyakitnya, tetapi juga karena ketidakpastian dan kurangnya dukungan utuh selama proses perawatan,” katanya.
Dalam orasi tersebut, ia memaparkan data global tentang gangguan mental. Menurut World Health Organization (WHO) 2025, satu dari tujuh penduduk dunia hidup dengan gangguan mental. Sementara satu dari enam orang muda mengalami kesepian kronis. Di Indonesia, data I‑NAMHS 2023 menunjukkan 46 juta remaja menghadapi tantangan kesehatan kompleks, dan 5,5 % remaja usia 10‑17 tahun mengalami gangguan mental. “Yang lebih memprihatinkan, 61 % remaja yang mengalami depresi memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidupnya. Hanya 10,4 % yang benar-benar mencari bantuan medis,” ungkap Mundakir. Ia menegaskan bahwa kesenjangan ini bukan sekadar statistik, melainkan kegagalan sistem yang mendeteksi dan menjangkau manusia yang paling rentan.
Prof Mundakir juga mengidentifikasi empat tekanan sistemik yang mengancam pondasi keperawatan Indonesia. Pertama, tingkat burnout perawat mencapai 33,5 % hingga 37,5 %, jauh melampaui rata‑rata global sebesar 11 % dan disertai tingkat stres kerja 50,9 %. Kedua, transformasi digital yang berorientasi murni pada efisiensi membuat perawat menghabiskan lebih banyak waktu untuk input data dan pemenuhan indikator SIMRS, bukan membangun relasi terapeutik dengan pasien. Ketiga, ledakan misinformasi di media sosial memicu ketakutan irasional pada pasien dan menambah beban edukasi bagi perawat. Keempat, fragmentasi sistem membuat praktik asuhan holistik belum terintegrasi, dan family‑centered nursing belum menjadi indikator kinerja baku di rumah sakit.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Mundakir memperkenalkan konsep Triangulasi Psikososial, khusus untuk konteks Indonesia. Menurutnya, penyembuhan pasien seutuhnya harus bertumpu pada tiga pilar: kompetensi kultural, kolektivisme sosial melalui keluarga, dan spiritualitas sebagai sumber makna dan harapan. “Keputusan medis di Indonesia jarang bersifat individual. Keluarga adalah mediator sekaligus sistem pendukung emosional utama. Sementara sakit kerap dimaknai sebagai ujian atau perjalanan spiritual. Bukan sekadar urusan agama formal, melainkan ketenangan batin melalui doa, zikir, atau meditasi,” jelasnya.
Puncak orasi ditandai dengan pengenalan kerangka kerja orisinal yang ia namai KT‑PSIKO (Knowledge Translation Psikososial). Kerangka ini terdiri dari tujuh langkah implementasi: mengenali kesenjangan praktik, menerjemahkan bukti ilmiah, mempersonalisasikan konteks, menyingkirkan hambatan, mengimplementasikan secara bertahap, mengontrol proses dan hasil, serta mengorganisasikan secara berkelanjutan. Ia mengingatkan bahwa masalah terbesar keperawatan psikososial bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan pada ketidakmampuan sistem menerjemahkan bukti ilmiah menjadi tindakan yang kontekstual. Ia mengutip data bahwa sebuah inovasi berbasis bukti rata‑rata membutuhkan 17 hingga 20 tahun sebelum benar-benar masuk ke layanan klinis rutin, dan kurang dari 50 % inovasi berhasil diimplementasikan secara sistematis.
Orasi tersebut juga diberi landasan teologis. Mundakir mengutip QS. Az‑Zumar ayat 9 dan QS. An‑Nahl ayat 43 sebagai pijakan bahwa Islam tidak hanya memuliakan ilmu, tetapi menuntut agar ilmu dijalankan dengan benar, melalui bimbingan ahli, dan diarahkan bagi kemaslahatan manusia. Ia mengajukan tujuh rekomendasi kepada pemangku kepentingan: penguatan kurikulum keperawatan psikososial berbasis implementasi, pengembangan riset translasional, penyusunan SOP psikososial di seluruh lini layanan kesehatan, penguatan kapasitas perawat sebagai agen knowledge translation, integrasi indikator mutu psikososial dalam sistem evaluasi pelayanan, penguatan pendekatan interprofesional dan family‑centered care, serta peneguhan landasan etik, humanistik, dan spiritual.
“Knowledge Translation perlu menjadi gerakan akademik, gerakan praktik profesional, dan gerakan moral. Masa depan keperawatan psikososial ditentukan oleh kemampuan kita membangun ekosistem yang menghubungkan evidence, context, compassion, dan action,” pungkasnya.
Orasi Prof Mundakir menegaskan bahwa keperawatan Indonesia harus melampaui sekadar prosedur medis. Fokus harus menempatkan manusia, keluarga, dan nilai spiritual sebagai inti perawatan. Dengan mengadopsi kerangka KT‑PSIKO dan Triangulasi Psikososial, profesi keperawatan dapat lebih responsif terhadap kebutuhan psikososial pasien, mengurangi burnout, dan mempercepat penerapan bukti ilmiah ke praktik klinis. Hal ini menandai langkah penting menuju layanan kesehatan yang lebih holistik dan manusiawi di Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun