Puasa Qadha Ramadan di Dzulhijjah: Aturan dan Niat

Rudi H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 107 dibaca
Bisik.id
Puasa Qadha Ramadan di Dzulhijjah: Aturan dan Niat

Gambar atau konten salah?

Dzulhijjah bukan sekadar bulan di mana umat Islam melaksanakan ibadah haji dan kurban. Banyak yang memanfaatkan waktu ini untuk memperbanyak puasa sunnah, sekaligus mengqadha puasa Ramadan yang belum terbayar. Dengan cara ini, mereka berharap dapat meraih dua pahala sekaligus.

Sumber MUI Digital menyatakan bahwa seseorang diizinkan melaksanakan puasa qadha Ramadan pada hari-hari sunnah di bulan Dzulhijjah. Meskipun niatnya adalah qadha Ramadan, puasa tersebut tetap membawa keutamaan puasa sunnah Dzulhijjah.

Selain memahami hukum, penting juga mengetahui bacaan niat yang benar agar ibadah sah dan diterima. Berikut penjelasan lengkap beserta lafaz niat puasa qadha Ramadan dan puasa sunnah Dzulhijjah.

Menurut buku Amalan Ibadah Bulan Dzulhijjah karya Hanif Luthfi, persoalan ini bukan hal baru. Perdebatan tentang menggabungkan puasa qadha Ramadan dengan puasa sunnah Dzulhijjah sudah berlangsung sejak zaman sahabat Nabi, dan para ulama terbagi dalam beberapa pendapat.

  • Umar bin Khattab membolehkan bahkan menganjurkan qadha Ramadan dilakukan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Ia berpendapat bahwa hari-hari tersebut adalah waktu terbaik untuk beribadah, sehingga mengqadha puasa Ramadan di saat itu justru lebih utama dibanding di hari-hari biasa lainnya.
  • Ali bin Abu Thalib justru melarangnya. Menurutnya, mengqadha puasa Ramadan di bulan Dzulhijjah berarti melewatkan fadhilah puasa sunnahnya. Ia menilai seseorang menyia-nyiakan kesempatan meraih keutamaan istimewa yang hanya ada di hari-hari Dzulhijjah.

Berikut bacaan niat puasa qadha Ramadan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

Arab-Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an qadhaai fardhi syahri ramadhaana lillahi ta'aalaa.

Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadan esok hari karena Allah SWT.”

Berikut bacaan niat puasa sunnah Dzulhijjah 1–7:

نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Arab-Latin: Nawaitu shauma syahri dzulhijjah sunnatan lillahi ta'ala.

Artinya: “Saya niat puasa sunah pada bulan Dzulhijjah karena Allah Ta'ala.”

Berikut dua versi niat puasa Tarwiyah, bisa dibaca saat malam atau pagi:

Dibaca pagi hari:

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Arab-Latin: Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta'ala.

Artinya: “Aku niat puasa sunah Tarwiyah karena Allah Ta'ala.”

Niat puasa yang dibaca pada malam hari:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ لِلهِ تَعَالَى

Arab-Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adaai sunnati yaumit Tarwiyyati lillaahi ta'aalaa.

Artinya: “Aku niat puasa sunah Tarwiyah besok hari karena Allah Ta'ala.”

Berikut niat puasa Arafah 9 Dzulhijjah:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Arab-Latin: Nawaitu shauma yauma 'arafata sunnatan lillahi ta'ala.

Artinya: “Saya niat puasa Arafah, sunnah karena Allah Ta'ala.”

Penjelasan di atas menjelaskan hukum puasa qadha Ramadan di bulan Dzulhijjah serta bacaan niatnya. Semoga bermanfaat.

Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker.

Dengan memahami perbedaan pendapat ulama dan mengikuti bacaan niat yang tepat, umat dapat melaksanakan puasa qadha Ramadan di Dzulhijjah dengan keyakinan bahwa ibadah mereka sah dan diterima.

Dzulhijjahpuasa qadha Ramadanpuasa sunnahMUI Digitalniat puasatarwiyahArafah

Komentar

Memuat komentar...