Puasa Syawal: Jembatan Kembali Berat Badan Pasca Ramadan
Gambar atau konten salah?
Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI, mengingatkan masyarakat bahwa setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan, sistem pencernaan memerlukan proses adaptasi sebelum kembali ke pola makan normal. Ia menekankan pentingnya tidak langsung “balas dendam” dengan porsi makan besar usai Lebaran.
Menurutnya, transisi ini sangat penting agar lambung tidak kaget. Salah satu metode transisi alami yang sangat dianjurkan adalah dengan menjalankan ibadah puasa Syawal. “Puasa Syawal bisa sebagai bridging (agar tubuh tidak kaget-red),” kata Prof Ari kepada media pada 25 Maret 2026.
Prof Ari menambahkan bahwa puasa Syawal dapat membantu tubuh secara perlahan mengatur ulang ritme pencernaan yang sempat “pesta” saat hari raya. Banyak orang berhasil memperbaiki kondisi kesehatan dan menurunkan berat badan selama Ramadan. Namun ia mengingatkan bahwa pencapaian tersebut bisa hilang dalam sekejap jika pola makan pasca‑Lebaran tidak terkontrol.
“Selama Ramadan, banyak orang berhasil mengendalikan pola makan dan bahkan menurunkan berat badan. Namun, jika tidak menjaga, kondisi tersebut bisa kembali seperti semula hanya dalam waktu singkat,” ungkap Prof. Ari. Ia menekankan bahwa kebiasaan makan yang tidak teratur dapat memicu kembali berat badan yang telah turun.
Sebagai langkah antisipasi, ia menyarankan untuk mengimbangi konsumsi makanan tinggi kalori dengan buah dan sayuran. Serat sangat membantu mengurangi penyerapan gula dan lemak di saluran pencernaan. Bagi penderita penyakit kronis, disiplin minum obat rutin juga tidak boleh kendor di tengah padatnya jadwal silaturahmi.
“Lebaran adalah momen bahagia, namun kesehatan tetap harus menjadi prioritas. Kuncinya adalah menjaga keseimbangan boleh menikmati hidangan, tetapi tetap terkontrol,” tutup Prof Ari. Ia menekankan bahwa kebahagiaan Lebaran tidak boleh mengorbankan kesehatan.
Dengan menggunakan puasa Syawal sebagai jembatan, masyarakat dapat memulihkan pola pencernaan secara bertahap setelah Ramadan. Menjaga asupan kalori, menambah serat, dan tetap disiplin minum obat menjadi kunci untuk mempertahankan hasil penurunan berat badan dan kesehatan jangka panjang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
