Pulau Spanyol Wajibkan Anak Sekolah Belajar Bersiul
Gambar atau konten salah?
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang serba digital, sebuah pulau di Spanyol justru mempertahankan cara berkomunikasi yang sangat berbeda. Mereka tidak menggunakan ponsel atau internet. Mereka bersiul. Bukan siulan sembarangan. Siulan ini bisa membawa pesan utuh, bahkan menembus jarak beberapa kilometer melewati lembah dan perbukitan.
Tradisi ini masih hidup di La Gomera, salah satu pulau di Kepulauan Canary. Bahasa siulan itu disebut Silbo Gomero. Bukan sekadar kebiasaan lama. Ini sudah menjadi identitas. Semua anak sekolah di sana wajib mempelajarinya. Mata pelajaran ini diajarkan di kelas, sama seperti matematika atau bahasa.
Silbo Gomero lahir ratusan tahun lalu. Warga lokal menciptakannya sebagai solusi. Geografis La Gomera memang ekstrem. Jurang dan lembah curam ada di mana-mana. Suara manusia biasa tidak bisa menjangkau jarak jauh. Tapi siulan tajam? Itu bisa terdengar hingga berkilo-kilometer. Jadi, siulan ini menjadi "sinyal" paling ampuh pada zamannya.
Menurut laporan dari Times of India, Silbo Gomero bukanlah kumpulan bunyi acak. Bahasa ini secara teknis mengubah setiap vokal dan konsonan dalam bahasa Spanyol Kastilia menjadi pola siulan. Perbedaannya terletak pada tinggi nada, atau pitch. Juga apakah bunyinya mengalir atau terputus-putus. Sistemnya kompleks. Para penuturnya bisa mengobrol tentang apa saja, seperti berbicara normal.
Dulu, banyak orang mengira ini hanya kode sederhana. Tapi penelitian ahli bahasa dan ilmuwan saraf membuktikan sebaliknya. Silbo Gomero memiliki struktur linguistik yang rumit. Sama rumitnya dengan bahasa lisan pada umumnya. Otak penutur bahasa ini memproses bunyi siulan dengan cara yang persis sama saat mereka memahami bahasa lisan biasa. Ini membuat para ilmuwan geleng-geleng kepala.
Pada tahun 2009, UNESCO menetapkan Silbo Gomero sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia. UNESCO menjelaskan bahwa Silbo Gomero merupakan bentuk bahasa bersiul yang merepresentasikan bahasa sehari-hari masyarakat La Gomera, yaitu bahasa Spanyol Kastilia, melalui bunyi siulan. Pengakuan internasional ini menjadi napas baru bagi pelestarian bahasa yang sempat nyaris punah.
Memang, penggunaan Silbo Gomero sempat merosot tajam. Telepon dan teknologi modern masuk. Generasi muda mulai meninggalkan tradisi ini. Mereka menganggapnya sudah ketinggalan zaman. Tidak lagi dibutuhkan dalam keseharian. Tapi pemerintah daerah bergerak cepat. Sejak tahun 1999, Silbo Gomero resmi masuk ke dalam kurikulum sekolah. Hasilnya? Kini anak-anak di La Gomera sudah mahir bersiul sejak dini. Tradisi nenek moyang mereka tetap eksis di era digital.
Fenomena ini menjadi bukti nyata bagaimana manusia mampu beradaptasi dengan lingkungannya melalui bahasa. Menurut UNESCO, keberadaan Silbo Gomero membuktikan bahwa bahasa dapat berevolusi mengikuti kebutuhan manusia tanpa kehilangan fungsinya sebagai alat komunikasi yang utuh. Bahasa siulan ini bukan hanya magnet wisatawan. Ia juga menjadi pelajaran tentang bagaimana tradisi bisa bertahan, bahkan di tengah gempuran teknologi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Maryland Bayar Rp26 Juta Per Trip Basmi Lele Invasif
Judi Online ASN Jabar: Karier Terancam, Perceraian Mengintai
Polri Tetapkan Dua Tersangka Korupsi Batu Bara, ASABRI, dan Krakatau Steel
Bocah Kecanduan Bensin Dievakuasi ke Jakarta
Ai Juariah Bebas Denda Rp150 Juta, Segera Pulang dari Libya
Pejabat Korut Dipecat karena Suap Besar
Berita Terbaru
Pulau Spanyol Wajibkan Anak Sekolah Belajar Bersiul
Jartatel Resmi Dibentuk, Targetkan Infrastruktur Digital Merata
Diskon Transmart: Sepeda Anak Mulai Rp 1,03 Juta
17 Karya Mahasiswa DKV IDB Bali Ramaikan Pameran Seni di KEK Kura Kura
Remaja 16 Tahun Dianiaya Oknum Mengaku Intel
7 Pose Yoga Sebelum Tidur, Bantu Redakan Stres dan Perbaiki Kualitas Istirahat
15 Turis India Tewas dalam Kecelakaan Kapal di Phu Quoc