Purbaya Menolak Pinjaman IMF dan Bank Dunia US$25-30 M
Gambar atau konten salah?
Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Indonesia, menolak tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) senilai US$ 25-30 miliar. Ia mengatakan bahwa ketidakpastian ekonomi akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran menambah tekanan, namun pemerintah tetap menjaga stabilitas fiskal.
Menurut Purbaya, Bantalan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih kuat, dengan Saldo Anggaran Lebih (SAL) mencapai Rp 420 triliun. Ia menegaskan bahwa pinjaman tersebut belum diperlukan karena cadangan fiskal sudah mencukupi.
“US$ 25-30 miliar kalau kamu mau pakai boleh, itu dipakai untuk beberapa negara yang butuhkan nanti, katanya. Saya bilang sama dia, sekarang saya belum butuh karena saya sendiri punya persediaan hampir US$ 25 miliar untuk negara kita sendiri, jadi aman,”
“Wah mukanya asem karena dia nggak bisa minjemin duit, nggak bisa dapat bunga tuh mereka tuh,”
“Kalau lebih kita pakai, kalau kurang juga kita pakai, pokoknya kita nggak pernah rugi. Jadi kita desain kebijakan dengan baik, kita hitung dampaknya, bukan kira-kira,”
Tawaran tersebut muncul ketika Purbaya mengunjungi Washington DC pada 13-17 April 2026. Ia menilai bahwa sumber daya Indonesia harus dimanfaatkan secara optimal.
Dengan menolak pinjaman, Purbaya menegaskan bahwa Indonesia tetap mengutamakan kebijakan fiskal yang berkelanjutan. Cadangan negara tetap kuat, dan pemerintah siap menanggapi ketidakpastian global.
Setelah penolakan, pimpinan IMF dan Bank Dunia tampak kecewa. Purbaya menyebut reaksi mereka sebagai kehilangan potensi pendapatan dari bunga utang.
Purbaya menegaskan bahwa kebijakan fiskal harus didasarkan pada perhitungan, bukan tebakan. Ia menyatakan bahwa setiap kebijakan harus diuji dampaknya sebelum diimplementasikan.
Ia juga menegaskan bahwa cadangan negara mencapai hampir US$ 25 miliar, yang cukup untuk menutupi kebutuhan fiskal jangka pendek.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
